Heartline Network

Mengaum atau Mengembik?

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa kita memperingati hari yang bersejarah yakni Hari Kebangkitan Nasional, yang diambil dari peristiwa lahirnya organisasi Boedi Oetomo tahun 1908. Mengapa lahirnya Boedi Oetomo dijadikan momentum kebangkitan nasional? Dalam refleksi saya, karena lahirnya organisasi yang dibesut oleh Dr. Soetomo ini adalah sebuah titik pijak kesadaran untuk melepaskan diri, membebaskan diri, dari penjajahan, ketertindasan, dan perbudakan. Momen kesadaran untuk bangkit dari kondisi terjajah secara kolektif inilah yang mungkin menjadi alasan mengapa lahirnya Boedi Oetomo dijadikan hari kebangkitan nasional.

Yang menjadi pertanyaan kita di pagi hari ini adalah: Apakah perayaan hari kebangkitan nasional yang sudah berusia 109 tahun ini, masih relevan dengan kondisi bangsa kita saat ini? Saya berkeyakinan, masih sangat relevan.

Banyak orang masih percaya dan merindukan, Indonesia ini akan menjadi negara besar, berpengaruh, disegani dan memberi dampak positif bagi arah laju dunia. Hampir semua lembaga penelitian bergengsi global telah meramalkan, Indonesia akan menjadi bangsa besar di dunia karena kekuatan ekonominya. Euromonitor, beberapa tahun lalu meramalkan bahwa pada tahun 2020 Indonesia menempati urutan ke-12 kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Di tahun 2050 Indonesia kian perkasa, karena menurut Goldman Sach, Indonesia akan menjadi ekonomi terbesar ke-7 di dunia mengalahkan Jerman, Inggris maupun Jepang. Mereka semua bersorak, “Welcome the Great Indonesia!”

Hanya, ramalan, prediksi, kerinduan dan harapan untuk Indonesia Jaya ini, nampaknya tak semudah membalikkan telapak tangan. Kita harus kerja, kerja dan kerja untuk mewujudkannya. Kita harus bangkit dari tidur pulas kita, dan bertarung dengan kemajuan belahan dunia lain.

Dalam bukunya yang berjudul “Self Driving” Profesor Rheinald Kasali menulis bahwa untuk menjadi bangsa yang hebat kita harus menjadi a driver nation, bukan a passenger nation; yaitu menjadi bangsa yang berani menjadi driver, sopir dalam arti bangsa yakni berani pegang kendali, menentukan arahnya sendiri, berani menentukan sikap, berani ambil resiko.

Berbeda dengan bangsa dengan mental seorang passenger atau penumpang; yang hanya mau duduk manis, tinggal menikmati, bukan pemegang kendali atas nasibnya sendiri tetapi ditentukan oleh orang lain. Layaknya penumpang, hanya ngobrol-ngobrol sambil makan dan bercanda, bahkan terkantuk-kantuk dan tertidur. Seorang penumpang tak harus tahu jala, tak perlu memikirkan keadaan lalu lintas, tak perlu merawat kendaraan. Enak dan nikmat.

Dalam catatan Profesor Kasali, sebuah bangsa dengan mental driver akan selalu tumbuh, bangkit dari pemikiran-pemikiran lama yang sudah usang, untuk berdiri, bangkit, dan berlari menuju tanah harapan. Mereka membuat perubahan, melakukan pembaharuan, dan menantang keterbelakangan dengan penuh keberanian.

Dan, bukankah semangat seperti ini yang terjadi 109 tahun yang lalu, pada saat anak-anak muda, terpelajar, para mahasiswa STOVIA mulai mengorganisir diri dan menamainya Boedi Oetomo. Anak-anak muda di bawah komando Dr. Soetomo ini mulai gelisah dengan kondisi di sekitar mereka yang miskin, terbelakang, terjajah, sangat terhinakan. Kegelisahan adalah percikan awal sebuah perubahan.

Tentu ada banyak anak-anak muda, para priayi, masyarakat kebanyakan yang tak gelisah melihat penindasan penjajah. Mereka hidup seperti biasa, mengalir, menerima apa yang terjadi dan tak berdaya melakukan sesuatu, bahkan mungkin ada yang menjadi jongos, kutu loncat, dan singa berbulu domba yang menikmati remah-remah dari para penjajah. Mereka-mereka ini  orang yang bermental passenger.

Tetapi mereka yang tergabung dalam Boedi Oetomo, hanya segelintir anak-anak muda kelas menengah dan terpelajar gelisah dan kegelisahan mereka ternyata menjadi sebuah gerakan besar, seperti lemparan sebutir batu ke tengah kolam, yang menciptakan riak-riak yang lebih besar.  Boedi Oetomo yang mulanya hanya bergerak di bidang sosial, ekonomi dan kebudayaan, mulai menjadi lokomotif perubahan. Mereka mengambil resiko, memegang kendali akan masa depan mereka sendiri, menentukan arah mereka-mereka ini, para driver

Orang-orang besar, perusahaan yang besar, negara yang besar adalah sosok-sosok yang berani mengambil kendali atas hidupnya sendiri, menjadi a driver, karena itulah disebut sebagai Merdeka! Mereka-mereka ini para pejuang hidup dengan moto, “Hidup sekali berarti, setelah itu mati”. Kita bisa belajar dari ikan salmon, ikan yang sangat mahal saat terhidang di meja restoran, ternyata ikan yang berani melawan arus untuk bisa menetaskan telurnya di sungai yang tenang. Ikan salmon bisa meloncat ke atas permukaan air, melawan derasnya arus. Ia rela terluka dan mempertaruhkan hidupnya dimangsa beruang yang kelaparan atau pemangsa lainnya. Semuanya dilakukan agar Salmon bisa memberikan tempat terbaik buat anak-anaknya lahir dan besar, di sebuah sungai yang tenang, aman dan terlindung. Salmon adalah sang petarung!  

Bukankah bangsa ini, nenek moyangnya adalah pelaut, dan bukankah pelaut juga sang petarung melawan gelombang dan badai. Lantas mengapa sekarang kita menjadi bangsa yang enggan maju, suka berpangku tangan, susah diatur dan tidak disiplin?

Ada sebuah kisah seekor singa yang sejak kecil hidup bersama dengan kawanan domba-domba. Karena sudah terbiasa hidup bersama, maka singa itu mengidentikkan dan mengganggap dirinya adalah domba, yang hanya bisa mengembik, bukan mengaum. Hingga suatu hari,  gerombolan domba dan seekor singa kecil itu mencari rumput sampai ke tepi hutan. Tiba-tiba dari semak-semak yang lebat, meloncatlah dengan gagah berani, seekor singa jantan perkasa ke tengah-tengah kumpulan domba itu. Mata singa jantan itu menatap buas ke sekumpulan domba-domba lemah di depannya, hingga ia tersentak kaget ketika tatapannya beradu pandang dengan seekor singa kecil yang berada di kumpulan domba.

Pada saat yang sama, domba-domba itu lari kocar-kacir dari kawanan untuk menyelamatkan diri, termasuk singa kecil yang ketakutan, hingga serigala jantan itu berteriak kepada singa kecil, katanya, “Apa yang kamu lakukan di sini bersama kawanan domba-domba ini?” Singa kecil itu terbengong-bengong ketakutan, dan berusaha mengembik keras meminta pertolongan. Hingga akhirnya singa jantan menyadari apa yang terjadi, dan mengajak singa kecil itu berjalan ke tepi kolam tak jauh dari sana, untuk bercermin. Kagetlah singa kecil itu melihat wajahnya di permukaan air, karena ternyata ia serupa dengan singa jantan di depannya. Singa kecil itu mulai menyadari siapa dirinya, menyadari apa panggilannya dan ia mendongak, menatap langit yang luas, lalu mengaum keras untuk pertama kalinya.

Halo manusia-manusia Indonesia, siapakah dirimu? Apakah panggilanmu? Kini sudah saatnya bangsa ini mengaum, bukan mengembik lagi. Mari bangkit bangsaku!

 

Penulis: Jose - Yusuf Marwoto

 


Artikel Terkait

Ada 2,3 Juta Kendaraan Tinggalkan Jabodetabek

Puncak arus mudik untuk perayaan Hari Raya Idul Fitri 1438H sudah dimulai sejak tadi malam, Kamis (23/6). Data di Kementerian Perhubungan mencatat jumlah kendaraan yang meninggalkan Jabodetabek per...

Kemenkes Siagakan Ambulans 24 Jam di Jalur Mudik

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyediakan fasilitas layanan kesehatan di sejumlah titik jalur mudik selama arus mudik dan arus balik lebaran 2017.

Fasilitas layanan kesehatan itu di...

Kesalehan Sosial

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk, bangsa yang terbentuk dari segala keberagaman warga negaranya. Lalu apakah dengan segala keanekaragaman ini, justru menghilangkan keunikan Indonesia itu...

Belasan WNI Terjebak Konflik Marawi Dipulangkan Besok

Kementerian Luar Negeri menyatakan Konsulat Jenderal RI di Kota Davao, Filipina, akan memulangkan 17 warga Indonesia yang sempat terjebak konflik di Marawi, besok.

Konflik yang melibat...

Presiden Teken Pembentukan Badan Pemantapan Pancasila

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto menyatakan, pembentukan lembaga atau badan pemantapan Pancasila yang sempat digagas pada awal tahun ini sudah ditandatangani Presiden...