Pendengar Heartline dan FKUB Rayakan Natal Se-Tangerang!

Written by on January 13, 2019

Mampu hidup bersama meski berbeda, dalam suasana saling hormat, dengan semangat kerukunan; nampaknya menjadi pemandangan yang semakin langka akhir-akhir ini. Cara para demagog politik di negeri ini memainkan jurusnya untuk berkuasa dalam pasar demokrasi, telah merusak banyak modal kebaikan yang sesungguhnya sudah lama hidup di masyarakat akar rumput. Kita tanpa segan menyemburkan banyak energi kebencian daripada perjuangan memendarkan kasih sayang kepada saudara-saudara kita yang empunya beda identitas, beda pandangan dan beda pilihan.

Catatan Erich Fromm, seorang teoritikus kepribadian sosial, meyakinkan kita kalau wajah masyarakat kita ini sebagai wajah masyarakat yang sedang sakit. Erich Fromm dalam bukunya “The Sane Society” (Masyarakat yang Waras) menulis bahwa suatu masyarakat yang sakit cirinya adalah senantiasa menciptakan permusuhan, kecurigaan, ketidakpercayaan dalam anggota-anggotanya, dan menghalangi pertumbuhan yang terjadi dalam setiap individu.

Ciri masyarakat yang sakit ala Erich Fromm ini berkebalikan dengan ciri masyarakat yang sehat. Menurut Fromm, ciri masyarakat yang sehat adalah suatu masyarakat yang membiarkan anggota-anggotanya mengembangkan cinta satu sama lainnya, menjadi produktif dan kreatif, mempertajam dan memperhalus tenaga pikiran dan objektifitasnya dan mempermudah timbulnya individu-individu yang berfungsi sepenuhnya.

The fact that millions of people share the same vices does not make these vices virtues, the fact that they share so many errors does not make the errors to be truths, and the fact that millions of people share the same form of mental pathology does not make these people sane.” Tulis Erich Fromm dalam bukunya “The Sane Society”.

Namun, keseimbangan selalu terjadi! Itulah salah satu rahasia sejarah. Saat ada segerombolan kaum menjadi lokomotif kebencian, maka selalu ada sekumpulan lainnya yang menjadi corong penebar kasih sayang. Dengan demikian, setiap zaman selalu melahirkan harapan yang selaras dengan kadar kebutuhannya sendiri. Tidak kurang dan tidak lebih. Harapan bahwa akan ada kehidupan yang lebih baik, selalu bersembunyi di balik setiap peristiwa gelap yang kita sendiri seringkali tidak tahu mengapa hal-hal buruk tersebut bisa terjadi. Sampai akhirnya peristiwa kelam itu baru kita bisa pahami dan kita tafsirkan saat cahaya harapan mulai bersemburat karena ada sekumpulan orang-orang yang membawanya ke dalam hidup kita.

Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang mampu hidup bersama meski dalam perbedaan! Dan itu bukan semata-mata kondisi yang datang dari atas langit, tetapi peristiwa yang hari demi hari harus kita perjuangkan dan kita rawat bersama-sama. Toleransi tidak boleh defisit. Saling menghormati harus surplus. Solidaritas harus tertali kuat.

Merawat Kerukunan!

Sabtu, 12 Januari 2019, sekitar 3000-an umat Kristiani (Katolik dan Kristen) se-Kabupaten Tangerang, berbondong-bondong menuju Grand Chapel UPH di Lippo Karawaci untuk merayakan Natal Bersama, kelahiran Yesus Kristus, yang diselenggarakan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Tangerang dan didukung oleh Heartline Radio 100.6 FM dengan komunitas pendengarnya.

Perayaan Natal bersama tahun ini mengambil tema: Yesus Kristus Hikmat Bagi Kita (1 Kor 1: 30a) dengan Sub-Tema: Dengan Semangat Natal, Kita Bersatu, Bersama dan Berhikmat Mensukseskan Kabupaten Tangerang Gemilang. Acara ini tidak hanya aspirasi dari akar rumput masyarakat kristiani Kabupaten Tangerang, namun juga didukung oleh pimpinan eksekutif tertinggi di daerah 1001 industri ini. Bupati Tangerang, Bapak Ahmed Zaki Iskandar, B. Bus, SE, M.Si beserta jajaran Muspida juga hadir dan turut merayakan momen kebersamaan ini. Dalam pidato sambutannya, Bapak Zaki Iskandar menyitir pentas budaya yang dibawakan oleh Komunitas Muslim “Hadroh Sabilul Hidayah” yang menyanyikan lagu-lagu Marawis. Salah satu lagu Marawis yang dinyanyikan ternyata diciptakan dan sempat populer di era penjajahan Belanda. Lagu-lagu ini dinyanyikan oleh para pejuang Indonesia untuk rela mati merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Alunan lagu-lagu yang ritmis ini justru memantik patriotisme para pejuang kemerdekaan pada waktu itu, sehingga mereka berani mempertaruhkan nyawanya untuk NKRI. Makna inilah yang juga dijadikan salah satu pesan Bupati kepada masyarakat kristiani se-Kabupaten Tangerang agar tetap menjadi kerukunan dan sikap saling menghormati satu sama lain, meskipun berbeda suku, agama dan ras. Di akhir pidato, Bapak Zaki Iskandar sembari mengepalkan tangannya ke udara berseru, “Jadi Siapa Kita?” Lontaran kalimat pimpinan tertinggi di Kabupaten Tangerang inipun disambut dengan teriakan massa yang bergelora dari gedung Grand Chapel UPH, sembari mengepalkan tangan mereka, “Indonesia.”

Siapa Kita?”

Indonesia”.

(JM)


Current track

Title

Artist