Pendidikan Moral dan Karakter Penting Bagi Era Teknologi Saat Ini

Written by on August 6, 2018

Talkshow dengan enam narasumber yang dilakukan di Summarecon Mall Serpong, (21/7)

Pendidikan moral dan karakter penting bagi era teknologi saat ini, begitulah penuturan beberapa narasumber yang dihadirkan dalam rangka Ulang Tahun BPK Penabur yang ke-68 dengan membahas mengenai “Education 4.0, Challenges and Opportunities in Diversity” di Summarecon Mall Serpong, Sabtu lalu (21/7).

Acara yang dibawakan oleh Jose Marwan dan dihadiri oleh Intelektual dan Aktivis Perempuan: Siti Musdah Mulia, Staf Ahli Bidang Inovasi dan Daya Saing Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan: Ananto Kusuma Seta, Pengamat dan Praktisi Pendidikan: Indra Charismiadji, Praktisi Managemen Perusahaan: AC Mahendra K Datu, Ketua BPK Penabur Jakarta: Adri Lazuardi, dan Deputi Direktur Pelaksana BPK Penabur Jakarta: Elika Dwi Murwani ini membahas mengenai peluang serta tantangan yang dihadapi Pendidikan saat ini di karenakan adanya teknologi.

Education 4.0 ini sendiri memiliki beberapa pengertian dan pandangan sesuai dengan pribadi masing – masing, namun secara keseluruhan ialah bagaimana manusia bersaing dengan teknologi yang ada saat ini, apakah dengan adanya guru masih dibutuhkan oleh anak – anak saat ini, karena memang seperti yang kita ketahui bahwa saat ini berlimpahnya informasi yang mudah didapatkan dan diakses.

“Menarik pertanyaannya mengenai industry 4.0, yang merupakan lanjutan dari industri 3.0 yaitu pada saat kita mendapatkan perubahan yang luar biasa akibat ditemukannya computer, 3.0 adalah terusan dari 2.0 yang ditemukannya listrik pada tahun 1800an saat itu, lalu 1.0 yaitu mesin uap. Industri 4.0 itu luar biasa dampaknya kepada masyarakat kita. Terkait dengan industry 4.0 itu tidak hanya mesin itu bekerja sendiri tapi antar mesin sudah berhubungan, apalagi tadi disampaikan Internet of Think (IoT), 3D printers, Artivicial Intelligent, termasuk kita

semua yang menggunakan gadget” Kata Staf Ahli Bidang Inovasi dan Daya Saing Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ananto Kusuma Seta.

Dengan adanya Teknologi saat ini, membuat dunia Pendidikan harus melakukan inovasi serta memberikan materi didikan bagi anak – anak yang lebih menjurus kepada kreativitas, Pendidikan karakter serta moral yang tidak bisa dilakukan oleh robot.

“Dampaknya adalah merubah kita di dalam dunia Pendidikan untuk menghadirkan sosok yang tidak bisa pekerjaannya dilakukan oleh robot, dengan kata lain Pendidikan masa depan yang ingin kita hasilkan dengan 4.0 itu menghasilkan anak – anak yang robot pru, pekerjaan – pekerjaan yang rutin bersifat kognitif itu dipekerjakan oleh robot. Itu yang tidak boleh lagi lulusan kita bermain dengan robot itu, berkompetisi dengan robot” Lanjut Ananto.

Pengembangan manusia lebih penting dibandingkan dengan pengembangan teknologi. Maka dari itu, Pendidikan karakter serta moral akan menjadi DNA untuk berkembangnya manusia yang akan dilakukan sejak anak – anak memasuki Taman Kanak – Kanak (TK).

“Paling penting manusianya daripada teknologi, karena pentingnya karakter itu makanya ada press mengenai karakter, peraturan Menteri tentang karakter, nah ini  yang tadi dikatakan bahwa Pendidikan karakter itu akan menjadi DNA untuk berkembangnya kompetensi 4C dan satu lagi literasi yang sedang di utamakan, terdiri dari 6 literasi yaitu tidak hanya baca tulis saja tetapi juga literasi digital  karena itulah

disampaikan pentingnya anak – anak itu bukan hanya mampu menggunakan gadget tetapi juga mampu mengadopsi nilai moral dibalik itu. Inilah rasanya PR kita kedepan yaitu ada karakter, ada kompetensi 5C yaitu 1Cnya confidence dan juga 6 literasi itu yaitu digital literacy, reading writing, economy literacy, finansial literacy, science literacy, dan culture and civic literacy yang sejak dini harus di tanamkan, karena itu kurikulum TK harus 100% Pendidikan karakter” Ujar Ananto.

Berkembangnya Teknologi saat ini, membuat masyarakat menjadi Intoleran terhadap sesama, khususnya kepada isu agama.

“Generasi millennials memiliki 3 ciri yaitu berlimpah informasi dan pengetahuan, Berlimpah teman, dan berlimpah kemudahan dan kenyamanan. Kita berharap dengan kondisi seperti ini mereka lebih terbuka dan lebih toleran. Namun kenyatannya tidak, ternyata mereka lebih cenderung intoleran terutama mengenai agama. Banyak anak – anak mempelajari agama melalui media sosial, tantangan bagi guru – guru ialah mampukah para guru – guru menggunakan media sosial atau apapun dalam era digital ini, memaksimalkan penggunaanya untuk narasi – narasi positif dan perdamaian serta toleransi sehingga bisa mengubah karakter anak didik kita menjadi lebih toleran, lebih mencintai sesama, lebih respect kepada yang berbeda. Bagaimana kita melawan itu dengan memaksimalkan media sosial sehingga konten – konten yang kita berikan berupa konten – konten yang berbasis perdamaian” kata Intelektual dan Aktivis Perempuan, Siti Musdah Mulia.

Tantangan yang Dihadapi Untuk Mencegah Adanya Intoleran

Seperti yang diketahui bahwa dengan adanya teknologi membuat generasi muda saat ini Intoleran terhadap sesama. Namun, bukan hanya teknologi saja yang membuat generasi muda menjadi intoleran tapi,juga dari factor keluarga, Perguruan, serta Lingkungan masyarakat.

Dari factor keluarga itu sendiri, penting untuk mengetahui bagaimana kondisi keluarga tersebut, dikarenakan akan mempengaruhi karakter seorang anak.

“Saya pikir tidak ada jalan yang pintas dan cepat. Pertama kita harus liat dulu sumber Pendidikan itu dari mana saja yaitu pertama dari keluarga, bukan hanya ibu dan bapak tapi juga seluruh anggota keluarga beserta relasi yang dibangun itu seperti apa, yang ini penting sekali karena kalau relasi di keluarga itu ada ketimpangan gender, ada diskriminasi, ada kekerasan. Jangan berharap anak itu akan memiliki karakter seperti yang diharapkan tadi. Karena perlu teladan, apa yang dialami oleh si anak itu membekas di dalam diri pribadi anak itu. karena itu membentuk keluarga penting sekali, pemerintah di Indonesia itu masih kurang concern terhadap bagaimana membina keluarga karena bukan hanya soal menikah, fungsi ayah itu apa, ataupun fungsi ibu apa. Harus punya pengalaman dan Pendidikan akan itu” Ujar Siti.

Selain dari segi keluarga, Pendidikan karakter dapat diperoleh dari Pendidikan di sekolah. Karena selain dari keluarga, sekolah merupakan tempat kedua yang dekat dengan anak – anak.

“Yang kedua, yaitu perguruan, misalnya relasi antar guru, kebijakan, kurikulum apakah sudah mengarah ke sana, kita tidak bisa hanya menyalahkan guru. Kebijakan pemerintah di tingkat pusat dan daerah apakah mengarah ke Pendidikan karakter? Evaluasi itu penting untuk melihat anak – anak” Lanjut Siti.

Lalu, yang terakhir yaitu Lingkungan masyarakat tempat anak – anak tinggal dan memperoleh informasi.

“Yang ketiga alam masyarakat, kita mengajarkan anak – anak kita tentang kejujuran, tentang pentingnya hormat, tidak boleh ada hatespeech. Namun, di televisi mereka melihat tontonan yang tidak pantas. Jadi tidak bisa hanya mengandalkan sekolah untuk membangun karakter, belum lagi di media sosial, banyak sekali kata – kata tidak senono di sampaikan secara vulgar yang disebut sebagai terorisme lunak, jadi intoleransi itu kenapa berbahaya karena satu langkah lagi menuju ke terorisme. Terorisme dibagi menjadi 2 yaitu keras dan lunak, lunak itu ujuran kebencian yang disampaikan secara massif kepada public” Tutup Siti.  

Selain itu, acara yang berlangsung selama tiga jam ini juga menghadirkan beberapa penampilan anak – anak dari BPK penabur seperti menyanyi, berpidato, serta Modern Dance.

Penulis: Verren Wijaya


Current track
Title
Artist