Refleksi 90 Tahun Sumpah Pemuda

Written by on October 30, 2018

Melihat Foto dari Kiri ke Kanan: Anggota DPR komisi sembilan dan Caleg Wilayah Dapil Banten tiga: Marinus Gea (kiri), Presenter Riama Silitonga, Alumni PBB: Rendy Emryani, pemuda-pemudi yang merupakan anggota dari Persatuan BEM Banten (PBB) yaitu Eca Dinata, Abdul Rahman, Cindy Pratika Handayani, Cut Tia Rasuka, dan Tommy Nainggolan (kanan) di Heartline Studio, Selasa (30/10).

Soempah Pemoeda atau Sumpah Pemuda yang dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 yang merupakan hasil rumusan dari Kerapatan Pemoeda-Pemoedi atau Kongres Pemuda II Indonesia hingga kini dikenal sebagai Hari Sumpah Pemuda.

Sumpah Pemuda dimaknai sebagai momentum bersatunya para pemuda yang kemudian bergerak bersama dan berjuang menuju Indonesia merdeka.

Rumusan Sumpah Pemuda ditulis oleh Moehammad Yamin pada sebuah kertas ketika Mr. Sunario, sebagai utusan kepanduan  tengah berpidato pada sesi terakhir kongres. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin. Hingga pada akhirnya, menghasilkan tiga isi Sumpah Pemuda yang hingga kini masih dikumandangkan setiap tanggal 28 Oktober yaitu:

 

“Pertama: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia.

Kedua: Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, Bangsa Indonesia

Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia”

 

Dalam memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-90, Heartline Coffee Morning mengundang Anggota DPR komisi sembilan dan Caleg Wilayah Dapil Banten tiga: Marinus Gea, pemuda-pemudi yang merupakan anggota dari Persatuan BEM Banten (PBB) yaitu Eca Dinata, Abdul Rahman, Cindy Pratika Handayani, Cut Tia Rasuka, dan Tommy Nainggolan dan Alumni PBB: Rendy Emryani, untuk berdiskusi dengan tema “Refleksi 90 tahun Sumpah Pemuda “Energi untuk Bangsa” di Heartline Studio, Selasa (30/10).

Acara yang dibawakan oleh Riama Silitonga dan dibantu oleh Marinus Gea ini, mengajak para pemuda-pemudi untuk merefleksikan Sumpah Pemuda bagi para pemuda-pemudi saat ini serta untuk mengetahui pandangan dari pemuda-pemudi yang dalam hal ini diwakilkan oleh mahasiswa dalam organisasi Persatuan BEM Banten (PBB).

Menurut Eca, Sumpah Pemuda identik dengan persatuan pemuda-pemudi yang ada di Indonesia.

“Kalau kita berbicara mengenai Sumpah Pemuda berarti persatuan, hari ini juga pemuda memang harus bersatu. Apalagi kita kebebasan organisasi saat ini khususnya organisasi mahasiswa memang  banyak sekali orang-orang mempunyai barisan-barisan sendiri. Kita harus bersatu, kalau kita tidak ada semangat kita bisa terpecah-pecah. Kita tidak akan fokus pada pembangunan, tidak akan fokus untuk memajukan bangsa kita, tapi fokus untuk menjatuhkan dan menjelekkan satu sama lain,” Tutur Eca selaku Koordinator BEM Banten Kota Tangerang.  

Dalam rumusan Sumpah Pemuda yang pertama, disebutkan bahwa kita bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia. Menurut Abdul, isi Sumpah Pemuda yang pertama harus selalu ditanamkan kepada pemuda-pemudi saat ini.

“Indonesia inikan sangat luas, beribu pulau, berbagai macam agama, kita sangat majemuk sekali. Itu kalau tidak dihimpun dalam persatuan nasional, ini akan memicu terhadap perpecahan. Bahwa persatuan dan cinta tanah air itu harus di tanamkan, bahwa kita selaku putra putri Indonesia yang lahir di Indonesia,” Ujar Abdul.

Terakhir sebagai penutup, Marinus berpesan agar para pemuda-pemudi di Indonesia dapat menjadi Benteng pemersatu bangsa di Indonesia.

“Buat adik-adik mahasiswa juga pemuda-pemuda zaman sekarang saya mengajak kita bersama sebagai pemuda, marilah kita menjadi benteng pemersatu, benteng penangkal radikalisme dan menjadi pemersatu bangsa. Jangan menjadi orang ketiga tapi kita menjadi benteng terhadap orang ketiga, sebagai agen pembaruan,” Tutup Marinus.

 

Penulis: Verren Wijaya 

full


Current track
Title
Artist