Semua Anak Baik

Written by on October 30, 2018

Apa yang sedang terjadi dengan anak-anak Indonesia?” Inilah pertanyaan pembuka Jose Marwan, Host Program Sketsa Keluarga Indonesia, kepada Melly Kiong, Pakar Mindful Parenting dalam Talkshow Program Sindikasi Radio Heartline Network ini. Secara diplomatis, Melly Kiong menjawab,“Yang terjadi adalah kita memanen apa yang ditanamkan oleh orang tua terdahulu.” Siklus parenting hanya ada dua hal mendasar, siapa yang menanam dan siapa yang akan menuai. Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai. Setiap benih yang baik akan menghasilkan buah yang baik. Sebaliknya, benih yang buruk akan menghasilkan buah yang buruk.

Anak-anak adalah kertas putih, seperti tabula rasa, begitu bunyi salah satu tulisan John Locke saat ia berbicara tentang pendidikan dalam tulisannya “Essay Concerning Human Understanding.” Tabula rasa adalah sebuah gagasan bahwa anak-anak dilahirkan tanpa memiliki isi-mental di dalamnya. Semua pengetahuan yang ia peroleh, adalah hasil dari pengalaman atau persepsinya. Karena itu, orang-orang dewasa berperan sangat penting bagi terbentuknya karakter anak-anak. Tulisan yang dicoret oleh orang dewasa akan membekas dalam kertas putih ingatan anak-anak dan bisa mempengaruhi bagaimana mereka kelak menjadi seseorang.

Saya sangat tertarik saat menonton film “The Beginning of Life” yang diproduksi Unicef. Dalam film itu ada pesan bahwa setiap bayi yang lahir adalah baik. Mereka adalah kertas putih. Apa yang terjadi berikutnya adalah bagaimana orang tua mengisinya.” Kata Melly Kiong yang membidani terbentuknya Komunitas eMKa di hampir seluruh Indonesia dengan ribuan anggota.

Kesadaran bahwa setiap anak baik, memiliki konsekuensi-konsekuensi. Pertama, hal ini menjadi imperatif moral bagi semua orang tua untuk tetap menanam hal-hal yang baik sepanjang kehidupan anak-anaknya. Kedua, jika orang tua memandang anak-anaknya baik, maka anak-anak akan memiliki pantulan untuk memandang orang tua mereka juga baik, lingkungan sekitarnya juga baik, dan dunia ini juga baik.

Maka penghakiman kepada anak-anak, seperti anakku malas, nakal dan berbagai label negatif lainnya, sebaiknya mulai kita singkirkan. Sebab masalahnya bukanlah pada anak-anak. Masalah sesungguhnya mengapa anak-anak kita rasa nakal dan malas, karena kita sendiri tidak memberikan keteladanan. Orang tua yang memulai lebih dulu perilaku yang negatif dan anak-anak mengikutinya. Anak-anak memang bukan pendengar yang baik, tetapi mereka adalah perekam yang ulung melalui mata dan telinganya. “Pada masa-masa ini, orang tua harus lebih banyak instropeksi diri.” Imbuh Melly Kiong yang terkenal dengan gerakan home education-nya. “Dalam parenting, pertama-tama yang harus diberesin adalah orang tuanya sendiri, bukan anaknya.

Menurut Melly Kiong, orang tua itu seperti garasi di rumah kita dan anak-anak adalah mobilnya. Kalau garasi kotor, maka mobilnya juga akan kotor. Banyak orang berusaha untuk mengirim mobilnya ke tempat cuci mobil terbaik, ke bengkel terbaik, tetapi ketika mobil itu kembali ke garasi, ia menjadi kotor kembali karena garasinya tidak dibersihkan. Bukankah hal itu juga terjadi dengan kita sebagai orang tua. Kita mengirim anak-anak kita ke sekolah terbaik, ke kursus dan training terbaik, tetapi kalau diri kita sendiri sebagai orang tua tidak berbenah dan berkembang, maka sekembalinya anak-anak kita ke rumah, mereka akan kembali terpengaruh dengan bagaimana kita berperilaku.

Maka hal pertama dan paling penting dari semua proses parenting adalah bersihkan garasinya terlebih dahulu. Semua anak baik, dan adalah tantangan orang tua untuk tetap menjaga diri mereka baik, sehingga di kemudian hari mereka mampu menghasilkan buah-buah kehidupan yang terbaik. (jose)

full


Continue reading

Current track
Title
Artist