Si Kecil Kejang Saat Demam? Jangan Panik, Lakukan Ini!

Written by on January 10, 2018

Tangerang – Kejang demam adalah salah satu kondisi yang paling ditakuti orang tua bila anaknya sedang demam. Situasi ini sering dihubung-hubungkan dengan epilepsi dan risiko keterbelakangan mental sebagai efeknya. Benarkah demikian? Radio Heartline FM Tangerang akan mengupasnya pada ringkasan program Dokter Menjawab bersama RSU Siloam dan dr. Anita Halim, SpA.

Kejang demam adalah kondisi yang diduga terjadi oleh karena kenaikan drastis pada temperatur tubuh yang umumnya disebabkan oleh infeksi dan merupakan respons khusus dari otak terhadap demam, yang biasanya terjadi di hari pertama demam. Pada umumnya anak yang kejang demam akan mengalami kondisi sebagai berikut:

  • Hilang kesadaran dan berkeringat.
  • Tangan dan kakinya kejang.
  • Demam tinggi.
  • Terkadang keluar busa dari mulutnya atau muntah.
  • Matanya terkadang juga akan terbalik.
  • Setelah reda, dia akan terlihat mengantuk dan tertidur.

Gejala-gejala kejang demam pada anak dapat beragam, mulai dari yang ringan, seperti menatap dengan melotot, hingga yang berat, seperti tubuh yang bergetar parah atau otot-otot menjadi kencang dan kaku. Berdasarkan durasinya, kejang demam dikategorikan sebagai berikut:

  • Kejang demam sederhana: paling umum terjadi, dengan durasi kejang beberapa detik hingga kurang dari 15 menit. Kejang yang terjadi pada seluruh bagian tubuh ini tidak akan terulang dalam periode 24 jam.
  • Kejang demam kompleks: terjadi lebih dari 15 menit pada salah satu bagian tubuh dan dapat terulang dalam 24 jam.

Pada umumnya sebagian besar kejang demam dialami bayi usia 6 bulan hingga anak umur 5 tahun. Kejang demam jarang dimulai pada anak dibawah 6 bulan ataupun setelah 3 tahun. Penyebab kejang demam yang sebenarnya belum diketahui. Tapi pada sebagian besar kasus, kejang demam berhubungan erat dengan demam tinggi akibat infeksi virus flu, infeksi telinga, cacar air, atau tonsilitis (yang dikenal sebagai radang amandel).

Selain itu, kejang demam pada anak juga relatif sering terjadi pascaimunisasi, seperti DPT/PT (Diphteri-Pertussis-Tetanus / vaksin ulangannya), MMR (Mumps-Measles-Rubella). Meski demikian, bukan vaksinnya yang menjadi penyebab kejang demam, melainkan karena demam yang dialami anak. Faktor genetik juga meningkatkan kecenderungan terjadinya kejang demam. Satu dari empat anak yang mengalami kejang demam kompleks memiliki riwayat anggota keluarga yang pernah mengalami kondisi ini. Setelah terjadi sekali, kejang demam bisa saja terulang, terutama jika:

  • Terdapat anggota keluarga dekat yang memiliki riwayat kejang demam.
  • Kejang demam terjadi pertama kali sebelum anak berusia 1 tahun.
  • Anak Anda mengalami kejang padahal suhu tubuhnya saat demam tidak begitu tinggi.
  • Periode antara anak mulai demam dengan waktu kejangnya tergolong singkat.

Kabar baiknya, hampir semua anak dapat pulih seperti semula setelah mengalami kejang demam.

Lalu, apa yang harus Anda lakukan saat si kecil terserang kejang demam dengan tiba-tiba?

Penting untuk tetap tenang saat menangani kejang demam pada anak. Pada umumnya kejang terjadi di awal masa demam anak, sehingga orang tua memberikan obat penurun panas kepada sang anak, seperti parasetamol atau ibuprofen. Padahal itu hanya bermanfaat membuat anak lebih nyaman dengan suhu tubuh yang tidak terlalu tinggi, tapi tidak mencegah timbulnya kejang demam itu sendiri. Seharusnya, orang tua menghindari pemberian aspirin karena dapat berisiko memicu terjadinya clonazepam dapat diresepkan oleh dokter anak Anda jika Anak mengalami kejang demam kompleks atau kejang berulang. Reye’s syndrome pada sebagian anak dan dapat berujung kematian.

Jika kejang demam pada anak terjadi untuk kedua kalinya saat Anda belum berada di rumah sakit atau ke dokter, Anda dapat melakukan pertolongan pertama sbb:

  • Jangan tahan gerakan kejang anak Anda. Namun letakkan ia di permukaan yang aman seperti pada karpet di lantai.
  • Untuk menghindari tersedak, segera keluarkan jika ada sesuatu di dalam mulutnya saat ia kejang. Jangan taruh obat dalam bentuk apa pun di dalam mulutnya saat anak sedang kejang.
  • Untuk mencegah agar ia tak menelan muntahnya sendiri (jika terjadi), letakkan ia menyamping, bukan telentang, dengan salah satu lengan berada di bawah kepala yang juga ditengokkan ke salah satu sisi.
  • Hitung durasi kejang demam. Panggil ambulans atau larikan ke instalasi gawat darurat (IGD) jika kejang terjadi lebih dari 10 menit.
  • Tetaplah berada di dekatnya untuk menenangkannya.
  • Pindahkan benda tajam di sekitarnya.
  • Longgarkan pakaiannya.

 

Dengarkan program Dokter Menjawab.

 

Setiap Senin, Rabu, dan Jumat, pukul 13.00 WIB.

Hanya di Radio Heartline FM Tangerang 100,6 FM
Live Streaming di www.heartline.co.id
Apps: Heartline – Karawaci
Youtube & Soundcloud: Heartline Network


Heartline Tangerang

100.6 FM

Current track
TITLE
ARTIST