Ternyata Ini Manfaat Bermain untuk Anak Korban Bencana!

Written by on October 15, 2018

Pada tahun 1938, seorang sejarawan Belanda dan juga seorang pakar dalam kajian teori budaya, Johan Huizinga, menulis sebuah buku berjudul “Homo Ludens” (Manusia Makluk Bermain). Huizinga dalam buku ini menekankan bahwa permainan itu sesuatu yang sangat mendasar dan kebutuhan penting bagi manusia dari generasi demi generasi dalam setiap budaya. Berangkat dari pemikiran ini, bermain ternyata juga sangat efektif untuk dijadikan terapi bagi anak-anak yang mengalami masa-masa traumatik, seperti menjadi korban bencana. Ini ditegaskan oleh Claudia Inkiriwang, Play Therapist dan Pakar Parenting, yang menjadi narasumber dalam program Radio Talkshow “Sketsa Keluarga Indonesia”, pada Senin (15/10) di jaringan Heartline Radio Network (Padang (93.0 FM), Lampung (91.7 FM), Jabodetabek (100.6 FM), Bali (92.2 FM), Samarinda (94.4 FM), Makasar (97.0 FM).

Dampak bencana pada anak-anak, mereka bisa mengalami perasaan dari helpless menjadi hopeless,” Ujar Claudia Inkiriwang yang juga pernah terjun menangani psikososial anak-anak korban Tsunami Aceh. “Karena itu, tujuan terapi adalah untuk membuat anak-anak merasa mampu, “enable to kids to enable themselves. Kita tidak bisa melindungi mereka selamanya. Kita harus membuat mereka kuat dalam menghadapi ketakutannya sendiri dan bangkit menata hidupnya.

Bagi Claudia, yang mendalami dunia bermain anak-anak sebagai alat terapi, bermain memiliki pesan yang sangat kuat kepada anak-anak dimana mereka bisa mengontrol dirinya dan merasa kuat.

You are on the ground now,” itu pesan bermain bagi anak-anak. Kamu saat ini, di sini, berada di tempat yang aman. Memang kemarin kamu mengalami kejadian yang tidak mengenakkan, tetapi sekarang kamu aman. Kamu bisa bermain.” Bagi Claudia, bermain fisik itu penting bagi anak-anak korban bencana, seperti olahraga. Dengan bermain fisik, anak-anak akan mengontrol dirinya sendiri. Otak mereka akan mengontrol tubuhnya. “Ini pesan penting dalam sebuah permainan, dimana fisik mereka akan dikontrol oleh pikiran mereka. Sebelumnya fisik mereka dikontrol oleh kekhawatiran dan ketakutan mereka.”   

Claudia juga menekankan pentingnya menekankan permainan pada pola yang imajinatif, sehingga bisa menggali bagian yang lebih dalam dari perasaan anak-anak. “Art theraphy, seperti menggambar, mewarnai atau bikin script, atau melakukan sesuatu yang imajinatif adalah cara efektif untuk menolong anak-anak. Dari situ kita bisa mengamati lebih dalam apa yang terjadi dalam diri mereka. Caranya dengan bertanya bukan bertanya tentang gambarnya, tapi feeling-nya. Misalnya ada gambar kuda di situ, si teraphis akan tanya, apa yang dirasakan oleh si kuda. Dengan demikian ia akan bebas bercerita. Hampir semua anak-anak akan jujur.

Konvensi Hak Anak Pasal 22 ayat satu menjamin bahwa anak  yang dianggap sebagai pengungsi harus memperoleh perlindungan atau bantuan kemanusiaan yang layak untuk menikmati hak-haknya. Demikian juga amanat dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pada pasal 59 mengatakan bahwa pemerintah  dan  lembaga  negara  lainnya  berkewajiban  dan  bertanggungjawab  untuk  memberikan  perlindungan  khusus  kepada  anak  dalam  situasi  darurat yang meliputi pemenuhan  kebutuhan  dasar seperti pangan, sandang, pemukiman,  pendidikan, kesehatan, belajar dan berekreasi serta jaminan keamanan yakni aman dari ancaman kekerasan fisik, psikis, seksual dan penelantaran. UU ini juga mengamanatkan negara untuk memenuhi kebutuhan anak dengan kebutuhan khusus bagi anak yang menyandang cacat dan anak yang mengalami gangguan psikososial. (Jose)

 

Full audio


Current track
Title
Artist