Apa Pengaruh Ketahanan Pangan terhadap Gizi Balita di Indonesia?

Written by on July 22, 2020

Tahukah kamu bahwa setiap makanan yang kita makan mengandung berbagai macam vitamin yang bisa menguatkan sistem imun kita? Dalam keluarga, ibu memiliki peranan penting dalam mengatur kecukupan gizi yang berkaitan dengan semua makananyang dikonsumsi. Untuk itu, pada tahun 2015, Ir. Catur Rini Cahyadiningsih selaku Perempuan Pejuang Pangan melakukan sebuah gerakan demi menyadarkan kaum ibu dalam menciptakan pangan bagi keluarga sendiri.

Lalu bagaimana dengan masyarakat yang tinggal di perkotaan? Bagi masyarakat perkotaan untuk menciptakan pangan sendiri cukup sulit. Banyak dari mereka hanya menjadi konsumen saja. Banyak cara yang bisa dilakukan, salah satunya adalah menggunakan teknologi hidroponik.

Hidroponik menjadi solusi ketahanan pangan keluarga perkotaan. Sehingga tanpa tanah bisa membuat kebun di rumah sendiri,” jelas Catur Rini saat Webinar bersama Foodbank of Indonesia (16/7/20).

Mengapa harus hidroponik? Ya tentu saja karena proses menanamnya yang paling murah dan mudah. Hal tersebut diharapkan dapat memaksimalkan peran keluarga terhadap asupan gizi balita.

Keanekaragaman pangan sepanjang waktu memberikan upaya dalam rangka memperbaiki gizi makanan penduduk sehari-hari agar lebih beragam, bergizi, dan seimbang. Program diversifikasi pangan adalah program yang dimaksudkan agar masyarakat tidak terpaku pada satu jenis makanan pokok saja.

Pada tahun 2010, 3 dari 10 dibawah 5 tahun berstatus stanting. Stanting merupakan kondisi tinggi badan seseorang lebih pendek dibandingkan tinggi badan orang lain pada umumnya sesuai dengan kelompok usia. Balita di Indonesia mengalami stunting, 19.3% diantaranya dengan kriteria pendek dan 11.5% sangat pendek.

Stunting dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia, produktivitas dan daya saing bangsa. Dampak jangka pendeknya ialah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, dan gangguan metabolisme. Sedangkan jangka panjangnya ialah menurunkan kemampuan kognitif dan prestasi belajar, menurunkan kekebalan tubuh, meningkatkan resiko diabetes, obesitas, penyakit jantung, pembuluh darah, kanker, stroke, dan disabilitas.

Kekurangan gizi dapat menurunkan fungsi biologis dalam imunitas. Sehingga bisa meningkatkan risiko infeksi Covid-19, termasuk obesitas. Balita dan anak-anak tetap berisiko untuk terpapar, sakit, bahkan meninggal akibat infeksi virus Co-V-2.

Dalam masa pandemi sekarang ini, keluarga dan anak-anak yang jatuh misin dalam waktu singkat akan mengalami dampak berat dalam hal keamanan pangan rumah tangga dan keterbatasan terkait akses, ketersediaan, dan keterjangkuan bahan makan sehat.

Survei daring menunjukkan bahwa kebutuhan pangan semakin tidak aman. Sebanyak 36% dari responden menyatakan bahwa mereka “sering kali” mengurangi porsi makan karena masalah keuangan. Hilangnya pendapatan rumah tangga meningkatkan risiko anak mengalami kurus dan kekurangan zat gizi mikro.

Peningkatan prevalasi kelebihan berat badan dan obesitas diakibatkan karena terbatasnya aktifitas fisik dan meningkatnya konsumsi makanan olahan secara terus-menerus yang mengandung kadar gula, garam, dan lemak yang tinggi.

Pandemi ini berpotensi meningkatkan kekurangan gizi pada ibu (terutama yang menyusui) yang dapat menimbulkan berbagai bentuk kekurangan gizi pada anak.

Perbaikan gizi di masa pandemi ini dengan makanan seimbang dan pola hidup sehat, diperlukan untuk mencapai status gizi baik dan imunitas yang kuat bagi balita dan anak-anak,” ujar Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc. Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM.

Konsumsi beragam jenis makanan (Diversifikasi Pangan) bermanfaat untuk melengkapi kebutuhan zat gizi essensial dan mewujudkan balita dengan gizi baik. Karena tidak ada satu jenis makanan yang sangat unggul dengan kandungan nutrisi super lengkap.

Lalu apa yang perlu kita lakukan? Salah satu caranya yaitu dengan Sustainable Food sebagai perubahan pola makan dengan aneka pangan lokal. Pola makan bangsa kita saat ini sudah menjadi seragam. Diperlukan pendekatan sosial untuk menorong masyarakat. Contoh dengan adanya figur panutan, iklan anjuran terus menerus, meningkatkan martabat bahan pangan lokal (panutan). Pembinaan bisa dilakukan melalui PKK, Dasawisma, maupun sebuah komunitas.

Selain itu, 3 pembinaan lain yang dilakukan, diantaranya:

  1. Pertamanan, memanfaatkan pekarangan dengan tanaman sumber karbohidrat alternatif (pisang, sukun, labu kuning).
  2. UKM, pembinaan mengelola usaha rumah tangga jasa boga.
  3. Kesehatan, meningkatan kewaspadaan dan kesadaran penggunaan bahan yang aman dalam makanan.
  4. Mengubah gaya pola makan anak. Misalnya saat ulang tahun bukan kue, tapi diganti dengan tumpeng.

Pandemic Covid-19 ini membuat krisis kesehatan dan kemanusiaan yang mengancam ketahanan pangan dan gizi jutaan orang di seluruh dunia. Ratusan juta orang sudah menderita kelaparan dan malgizi sebelum virus menyerang dan jika tidak ada tindakan segera akan terjadi darurat pangan global.

Dalam jangka panjang, efek gabungan dari Covid-19 dan tindakan mitigasi yang berhubungan dan resesi global yang muncul dapat mengacaukan fungsi sistem pangan, menghasilkan konsekuensi terhadap kesehatan dan gizi yang luar biasa,  serta Indonesia dan negara lain menjadi sangat rentan terhadap kelparan.

Ketersediaan pangan di Indonesia terancam dengan adanya pandemic selain karena masalah produksi dan tingginya food loss dan food waste juga karena hambatan distribusi dan terhentinya impor menjadi masalah keamanan pangan dan lock down negara.

Indonesia merupakan negara paling boros kedua di dunia. Membuang hampir 300 kg makanan perorang setiap tahun. Sekitar 13 juta ton makanan dibuang percuma tiap tahun,” ujar Prof. Ir. Ahmad Sulaeman, MS, PhD., Guru Besar Bidang Keamanan Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor.

Perbaikan gizi di masa pandemi ini dengan makanan seimbang dan pola hidup sehat, diperlukan untuk mencapai status gizi baik dan imunitas yang kuat bagi balita dan anak-anak.

(Grace Priskila Hakim)


Current track

Title

Artist