12 April 2021

Eliminasi TBC Masih Jadi PR Indonesia

Berangkat dari program nasional peringatan Hari Tuberculosis Sedunia pada 24 Maret 2021 lalu, dipayungi tema besar “Setiap Detik Berharga, Selamatkan Bangsa dari Tuberkulosis” menjadi upaya edukatif untuk menurunkan risiko terpapar Tuberkulosis (TBC). Mengeliminasi TBC di Indonesia sebagai negara kedua dengan kasus TBC terbanyak memang menemui banyak tantangan, diantaranya dengan kemunculan pandemi COVID-19 sehingga fokus program kesehatan dialihkan untuk penanggulangan pandemi.

Menurut Budi Gunadi Sadikin selaku Menteri Kesehatan, sebanyak 316 dari 100.000 rakyat Indonesia saat ini terkena TBC. Belajar dari pengalaman menangani pandemi Covid-19, Budi menyebut, penanganan penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis ini harus dilakukan melalui tindakan promotif, preventif, dan program-program yang sifatnya kuratif. Sama seperti penanganan pandemi COVID-19, perbaikan kualitas data dan digitalisasi laporan penanganan TBC harus diutamakan.

Terkait upaya yang dilakukan Kemenkes, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy dalam sambutannya menekankan,

Strategi penanggulangan Tuberkulosis melalui pendekatan sektor kesehatan saja ternyata tidaklah cukup, jajaran multisektor harus terlibat dengan berbagai intervensi pengendalian faktor risiko, baik dalam peningkatan derajat kesehatan perseorangan hingga kepada pengendalian infeksi TBC di ruang publik.”

Ketua Dewan Pembina Stop TB Partnership Indonesia, Ir Arifin Panigoro mengatakan apabila pandemi COVID-19 sudah mulai melandai maka penanganan TBC harus lebih gencar lagi di Tanah Air. Pandemi COVID-19 mengakibatkan proses penanganan TB yang selama ini telah dilakukan menjadi menumpuk dan semakin terabaikan. Oleh karena itu, ke depan ia menyarankan pemerintah harus melihat penanganan penyakit tersebut secara extraordinary atau out of the box.

Puncak peringatan Hari TBC Sedunia itu juga mengundang Direktur Global TB Programme, dr. Tereze Kasaeva yang mengapresiasi Indonesia dalam penanggulangan TBC di tengah pandemi, karena telah menjadi contoh bagi negara-negara lain. Beliau menambahkan bahwa HTBS 2021 kiranya kembali membangkitkan kesadaran bahwa kita bisa saja kehabisan waktu untuk mengeliminasi TBC. Maka sekaranglah waktunya, sebab menuju tahun 2030 dengan target nol jiwa yang terpapar TBC memang harus diakui menjadi beban bangsa saat ini.

Eliminasi TBC telah menjadi komitmen global yang membuat Indonesia juga menargetkan eliminasi pada 2030. Plt Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Maxi Rein Rondonuwu mengatakan pihaknya telah berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), ada seminar TB pada anak, terapi pencegahan TB, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), sosialisasi sekolah peduli TB, pembacaan cerita TB sembuh, kemudian lomba poster elektronik tingkat SMP dan SMA.

Kesulitan dalam pengumpulan data penyintas TBC juga menjadi salah satu kesulitan pemerintah. Menurut dr. Erlina Burhan dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), hal tersebut merupakan dampak pandemi COVID-19 yang membuat banyak orang enggan ke rumah sakit. Mereka yang sudah terjangkit juga merasa ragu untuk meneruskan pengobatannya karena khawatir ikut terinfeksi oleh COVID-19. Ini berakibat pada menurunnya keberhasilan pengobatan TBC.

Kepala Sekolah SMPN 4 Metro Lampung, Sunanto berpendapat bahwa pola hidup sehat juga rentan terjangkit TBC sehingga tindakan pencegahan di lingkup sekolah seperti membiasakan pola hidup bersih dan sehat, makan makanan yang bergizi, menerapkan etika batuk, meludah mau pun memakai masker, serta berolahraga. Selain itu, sekolah juga mengadakan penyuluhan tentang TBC kepada siswa.

Salah satu pasien TBC Resisten Obat, Didi Ayuda mengaku khawatir ketika harus menjangkau puskesmas untuk mengambil obatnya karena pandemi COVID-19. Didi berharap ia mampu beraktivitas kembali seperti sebelum pandemi. Dalam mengatasi kecemasan antara pasien dan perawat dalam pendampingan mengatasi TBC, video call telah menjadi alternatif yang efektif. Seperti yang pengalaman Purwo Komany sebagai pendamping pasien dan Ketua Rekat Surabaya, dirinya sempat terkendala ketika mendampingi atau pun melacak pasien yang mangkir karena para pendamping pasien juga berisiko tertular TBC.

Indonesia masih terus berkomitmen untuk mencegah TBC dimulai dari diri sendiri dan keluarga sesuai dengan arahan Wakil Presiden RI, KH. Ma’ruf Amin. Menurut beliau, target mengeliminasi TBC pada tahun 2030 sejalan dengan target yang ditetapkan dalam Sustainable Development Goals (SDGs).

Kini saatnya temukan Tuberkulosis, Obati Sampai Sembuh.

Yuk, suarakan #TOSSTBC

***