Fanatisme Sempit Harus Ditinggalkan

Written by on May 2, 2019

Penulis: @pmsusbandono (Pemerhati Sumber Daya Manusia)

Saya lahir dan besar di Semarang. Tinggal di kota lumpia sampai usia 18 tahun, kemudian melanjutkan sekolah ke Bandung. Sejak itu tak lagi tinggal di Semarang, meski masih merasa sebagai “wong Semarang”.

Wajar kalau sejak remaja  saya pendukung fanatik PSIS, kesebelasan kebanggaan kota Semarang.  Kalau PSIS bertanding di kandang, saya tak pernah absen. Kadang-kadang ikut  nglurug ke luar kota, untuk memberi semangat pemain agar menang.

Tak peduli bermain bagus atau tidak, main bersih atau kasar, ada pengaturan skor atau murni bertanding, saya selalu mengelu-elukan PSIS. Prinsipnya hanya satu : “PSIS harus menang”.

Bersikap fanatik terhadap kesebelasan asal kota, rasanya hal yang wajar. Kesebelasan-kesebelasan kota lain, juga punya suporter yang tak kalah fanatik. PERSIJA punya JakMania, PERSIB didukung Bobotoh, PERSEBAYA  bersama-sama BONEK.  Mereka seperti saya, atau malah lebih militan. Bagi suporter, kesebelasannya adalah “uber alles”, tak bisa salah, tak boleh kalah.

Sekian tahun lampau,  seorang teman mengkritik saya. Suporter kesebelasan sepak bola yang fanatik buta adalah mereka yang malas berpikir. Mereka tak mempunyai nalar sehat yang masuk akal dan menyerahkan kesetiaannya kepada sesuatu atau seseorang, tanpa syarat. Kritik ini bukan ditujukan hanya kepada pendukung tim sepakbola saja, tapi juga kepada siapa pun  yang membela mati-matian apa saja dan siapa saja.

Alasan yang disampaikan sang teman mudah dicerna. “Jangan mendukung tim olahraga yang bermain jelek, apalagi kasar, plus berbau pengaturan skor yang kasat mata. Itu perbuatan sia-sia”. Saya terdiam. Selama ini tak pernah berpikir sejauh itu. Sejenak, masukan sang teman menyita fokus berpikir. Ternyata banyak mengandung kebenaran. 

Ditambah lagi faktor subyektif yang terkandung di sana, yang sekarang sudah tak ada. Pemain PSIS  bukan bernama “Semarangan” lagi, seperti teman sekolah atau tetangga saya ketika kecil. Tak ada lagi nama seperti Ribut Waidi, Surajab, Tugiyo atau Budi Wahyono.

Silakan menjadi pendukung sampai “kesengsem berat” siapa dan apa saja, asal tahu mengapa harus didukung. Jangan serta-merta membelanya dan hanya mengandalkan sentimen subyektif.  Amit-amit, jangan sampai malah mengorbankan nyawa. Catat rekam jejaknya, simak permainannya, kagumi prestasinya, pelajari sportivitasnya, tiru kebersihannya dan simpan nilai-nilai positif yang didapat dari mereka.  Jangan hanya “anut grubyug” saja.  Sampai sini, nampaknya pendapat itu mengandung butir-butir kebenaran.

Tapi, ada cerita yang lebih seru soal fanatisme mendukung suatu kesebelasan. Bukan bermaksud excuse kalau saya mengutip cerita tentang fanatisme terhadap tim sepakbola kesayangan  di Skotlandia. Mereka pendukung fanatik karena agama, etnis, kelas sosial dan bahkan bangsa.  Dua kesebelasan yang menjadi musuh bebuyutan, “Celtic Football Club” dan “Rangers Football Club”.  Keduanya bercokol di kota Glasgow.

Celtic kadung dicap sebagai kesebelasan Katolik, keturunan Irlandia, dan masyarakat kelas bawah.  Rangers dikenal sebagai markas pendukung Protestan, keturunan Skotlandia atau Inggris, dan masyarakat kelas menengah atas.  Ironisnya, mereka menggunakan jargon-jargon primordial untuk melawan dan menyerang lawannya.

Pertandingan Celtic lawan Rangers disebut “Derby”, “Perang Total” yang selalu seru untuk ditonton.  Jangan heran, rivalitas kedua suporter kesebelasan ini sudah berlangsung sejak abad ke-18.  Meski persaingan yang membawa bendera Katolik lawan Protestan ini masih terus membara, gesekan berlandaskan kelas sosial sekarang lebih dominan, yaitu sosialisme versus konservatisme.

Masuk ke zaman global, rivalitas  agama, sosial dan  politik  tak juga berhenti. Ironis, fanatisme buta masih bertahan di masyarakat dengan tingkat pendidikan dan sosial yang relatif tinggi. Variabel identitas memabukkan dan menendang akal budi keluar dari pikiran sehat kita. Teman saya menyebutnya sebagai praktek-praktek primitif di zaman modern. Sekali lagi, ini tak terjadi di dunia sepak bola saja.

Bila ingin mencapai masyarakat berkeadilan dan beradab, mungkin bisa dipinjam prinsip di dunia kerja, yaitu “meritokrasi” dan “pay for performance”.  Berikan penghargaan tinggi kepada mereka yang berprestasi dan berkontribusi untuk organisasi atau masyarakat. Hargai dan akuilah mereka karena prestasinya. Jangan libatkan faktor identitas yang subyektif terlalu dalam, karena akan membuat rusak keseimbangan yang didambakan semua pihak.

(Penulis adalah Narasumber Program Radio “Wisdom of The Day” di Radio Heartline Tangerang, Jakarta. Anda bisa mendengarkan siaran ini di website streaming: www.heartline.co.id)

Dengarkan kembali Wisdom of The Day – Be Creative or Die Inside


Heartline Tangerang

100.6 FM

Current track
TITLE
ARTIST