Fenomena Mamah Muda dalam Pandangan Margareth Archer dan Ernest Bormann

Written by on October 5, 2019

Fenomena “Mamah Muda” (Mahmud) nampaknya menarik minat Rewindinar, mahasiswi yang sedang mengambil gelar doktor ilmu komunikasi dari Universitas Sahid, Jakarta, untuk dijadikan topik disertasinya. Dengan judul “Konvergensi Simbolik dalam Proses MorfogenesisKajian Morfogenesis Mamah Muda dalam Realitas Network Society di Indonesia,” Rhewindinar pada Sabtu (5/10), bertempat di Ruang Serbaguna Sekolah Pascasarjana Usaid, Jakarta, berusaha mempertahankan disertasinya dihadapan promotornya, Dr. Pinckey Triputra, M.Sc. dan Ko-Promotornya, Dr. Mikhael Dua, M.A.

Ada beberapa sebutan menarik dari frase “Mamah Muda”, seperti “Mahmud Abas” – mamah muda abis beranak satu, “Macan Ternak” – mamah cantik anter anak. Penyebutan ini merupakan gambaran eksistensi ibu-ibu di masa modern yang senantiasa eksis di tiap sekolah di Jakarta dan di kota-kota lainnya, baik dari jenjang TK dan SD, dalam berbagai kelompok sosial yang mereka bangun. Kelompok-kelompok “Mamah Muda” yang melakukan antar-jemput anak-anaknya ke sekolah ini jumlahnya sangat besar. Misalnya, ada salah satu yayasan pendidikan di swasta Jakarta memiliki 657 kelas (TK dan SD). Ada juga data dari Kemendikbud, sekolah swasta SD di Jakarta saja sudah berjumlah 1.263 sekolah.

“Mahmud” adalah ibu rumah tangga berusia muda, berpenampilan menarik yang memiliki kehidupan pribadi, keluarga, dan sosial. Tidak demikian dengan ibu tradisional yang berfokus pada kehidupan keluarga dan orientasi interaksinya adalah dengan keluarga dimana kegiatan mengantar anak sekolah bukan menjadi sebuah kewajiban bagi mereka. Berbeda dengan mamah muda, dimana kegiatan mengantar dan menjemput anak ke sekolah, mengurus suami dan kebutuhan rumah tangga lainnya merupakan rutinitas mereka. Namun dengan perkembangan teknologi komunikasi yang luar biasa, aktivitas “Mahmud” menjadi terluaskan. Kegiatan mengantar anak memiliki makna baru, yakni menjadi ajang interaksi dan mengembangkan hubungan dengan ibu-ibu muda lain di mana setiap anggota mahmud melakukan interaksi sosio-kultural.

Dalam kacamata Margareth Archer, interaksi-interaksi inilah yang dimaksud sebagai hubungan antar-agen kultural yang pada gilirannya akan mengarah kepada elaborasi budaya, patuh kepada ketentuan atau aturan-aturan maupun simbol-simbol yang berlaku di dalam kelompok tersebut, sehingga pada akhirnya menjadi sebuah kelompok yang terstruktur. Pertemuan-pertemuan para “Mahmud” sembari mengantar dan menjemput anak-anaknya di sekolah, akan mengarah kepada elaborasi atau pengembangan struktural. Seiring berjalannya waktu, apa yang dilakukan oleh para “Mahmud” ini bisa melakukan perubahan dalam masyarakat.

Untuk menerangkan proses perubahan sosial karena perilaku agen dalam relasinya dengan struktur ini, Margareth Archer menggunakan istilah “Morfogenesis” yang punya makna perubahan, sebagai lawan istilah “Morfostatis”, suatu keadaan yang statis. Dalam studi ilmu-ilmu sosial, pemikiran Margareth Archer tentang Agen-Struktur ini adalah salah satu kritiknya terhadap Teori Strukturasi” A. Giddens.   Margaret Archer menegaskan bahwa masalah agen dan struktur adalah masalah fundamental dalam sosiologi modern. Tiga tahapan morfogenesis adalah (1) structural/cultural conditioning à (2) socio-cultural interaction à (3) structural/cultural elaboration. Socio-cultural interaction merupakan tahapan dimana terjadi kausalitas pada hubungan sistem struktur dan sistem kultur.

Selain menyoroti fenomena “mamah muda” dalam cahaya Margareth Archer, Rhewindinar juga melihat fenomena ini dalam perspektif Teori Konvergensi Simbolik Ernest Bormann. Teori Konvergensi Simbolik yang dibangun oleh Ernest Bormann (1985) merupakan teori umum dari komunikasi yang menjelaskan bagaimana interaksi terjadi dalam kelompok. Teori sosial dari komunikasi ini bekerja dalam kerangka luas yang menjelaskan manusia sebagai homo narrans yang saling berbagi narasi dengan manusia lain secara sosial. Menurut Bormann, kata “simbolik” berarti kehadiran dari bahasa dan fantasi atau narasi, sementara kata “konvergensi” berarti mempertemukan pikiran secara menyenangkan melalui berbagi pendapat dan emosi yang sama. Kata “fantasi” menurut Bormann merujuk kepada interpretasi imajinasi bersama dari peristiwa yang memenuhi kebutuhan psikologis atau retoris kelompok. Kartikawangi menyebut Teori Konvergensi Simbolik sebagai komunikasi fantasi yang menciptakan kesadaran, yaitu komunikasi melibatkan makna, emosi, motif dan nilai untuk bertindak bagi anggota. Sementara Bormann juga menyatakan bahwa ketika fantasi dibagikan maka simbol dikonvergensikan dalam hal makna dan emosi yang kemudian dapat memicu kesepakatan simbol-simbol sebagai isyarat yang digunakan oleh kelompok.

Fenomena “Mamah Muda” yang berada di perkotaan seperti Jakarta dan berada dalam Network Society, menjadi contoh yang tepat untuk dijadikan ladang penelitian akademis bagaimana konvergensi simbolik (komunikasi fantasi yang menciptakan kesadaran karena melibatkan makna, emosi, motif dan nilai sesama anggota komunitas) itu terjadi seiring dalam proses morfogenesis sehingga memicu kesepakatan untuk perubahan-perubahan sosial.


Current track

Title

Artist