Kendalikan Konsumsi Rokok di era New Normal dengan Kenaikan Cukai Rokok

Written by on July 9, 2020

Bangsa Indonesia saat ini tidak hanya dilanda pandemi Covid-19, tetapi juga disertai dengan jumlah perokok dan permasalahannya yang semakin meningkat. Di awal pandemi, banyak berita bohong yang mengatakan bahwa perokok akan lebih kebal dengan Covid-19 ini. Hal tersebut terbantah melalui beragam riset bahwa tingkat keparahan pasien terkonfirmasi Covid-19 memiliki hubungan yang signifikan. Merokok merupakan salah satu faktor resiko untuk penularan Covid-19. Tingginya angka perokok juga bisa berkolerasi dengan tingginya penyakit tidak menular serta sangat berpengaruh dalam kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Namun bagaimana mengendalikan tingginya jumlah perokok dan permasalahannya di tengah pandemi ini?

Komite Nasional Pengendalian Tembakau membuat Ringkasan Kebijakan Pengendalian Prevalensi Perokok dengan Menaikkan Cukai Rokok menuju SDM Unggul Indonesia Maju. Dalam hal ini, Komnas Pengendalian Tembakau mendorong kenaikan cukai rokok sebagai alat pengendalian konsumsi rokok di era new normal. Hal tersebut dipaparkan oleh Prof. Dr. Haula Rosdiana, M.Si, Guru Besar Kebijakan Perpajakan Departemen Ilmu Administrasi FIA Universitas Indonesia dalam Webinar (6/7).

Menurut Prof. Haula, konsumsi tembakau di Indonesia meningkat secara signifikan karena disertai beberapa faktor. Diantaranya meningkatnya pendapatan rumah tangga, pertumbuhan penduduk, rendahnya harga rokok.

Pande Putu Oka Kusumawardhani,SE, MM, MPP, CA, Kepala Pusat Kebijakan Pendapatan Negara, Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan menegaskan bahwa kebijakan cukai hasil tembakau diharapkan dapat menurunkan tingkat prevalensi merokok, terutama pada anak-anak dan remaja. Namun memang kebijakan cukai tidak dapat berdiri sendiri dalam mencapai tujuan kesehatan. Diperlukan kerja sama yang efektif antar kementrian dan juga pemerintah daerah.

Untuk itu, Kementerian Kesehatan mendorong penerapan kawasan tanpa rokok di setiap daerah di Indonesia. Kepala Daerah wajib melakukan tindakan optimal demi menurunkan jumlah perokok hingga visi Indonesia maju dengan SDM unggul pun tercapai.

Butuh kerja keras dan komitmen yang kuat dari semua stakeholders untuk generasi usia di bawah 18 tahun. Kenaikan cukai menjadi satu dukungan kuat untuk menurunkan jumlah perokok muda,” ujar dr. Cut Putri Arianie, MH.Kes, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dan Survei Indikator Kesehatan Nasonal (Sirkesnas) terkini memaparkan peningkatan perokok mulai dari usia 10-18 tahun, dengan usia 10 tahun menjadi usia pemula bagi perokok. Harga rokok yang relatif murah dibandingkan negara ASEAN yang lain. Banyaknya pedagang yang menjual rokok bungkusan maupun satuan, membuat mereka mudah mengakses rokok.

Banyaknya papan reklame yang memberikan informasi mengenai rokok di dekat sekolah maupun tempat umum lainnya. Hal ini memicu anak-anak untuk mencoba. Di Yogyakarta, ada anak kelas 1 SD yang sudah merokok.

Akses yang mudah untuk mendapatkan rokok, menjadi kunci merebaknya perilaku merokok hingga ke usia muda,” kata Rama Fauzi dari Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Karena itu, menurut Rama, kenaikan cukai rokok diharapkan secara otomatis membatasi akses terhadap rokok, minimal kepada anak-anak. (Grace Priskila Hakim)


Current track

Title

Artist