Kota Mana yang Layak jadi Ibu Kota?

Written by on April 30, 2019

Wacana pemindahan ibu kota kembali mencuat!

Presiden Jokowi dikabarkan memilih opsi akan memindahkan Ibu Kota ke luar pulau Jawa. Pemindahan ibu kota negara, bukan hal yang baru di dunia. Setidaknya sudah ada 10 negara yang melakukannya; Brasil dari Rio de Janeiro ke Brasilia, Myanmar dari Yangoon ke Kota Naypyidaw, Kazahkstan dari Almaty ke Astana, Pakistan dari Karachi ke Islamabad, Nigeria dari Lagos ke Abuja, Rusia  dari Moskow pindah ke St Peterburg lalu balik lagi ke Moskow, India dari Delhi ke New Delhi, Australia dari Melbourne ke Canberra, Inggris dari Winchester ke London, Pantai Gading telah empat kali memindahkan ibu kota, dari Grand Bassam, Bingerville, Abidjan dan Yamossoukro.

Pemerintahan kolonial – Batavia atau Surabaya 

Sebenarnya sejak Pemerintah kolonial Belanda, pada awal abad 20, telah ada wacana pemindahan ibu kota. Salah satu wacana paling awal terkait pemindahan ibu kota dari Batavia, nama lain Jakarta, ke daerah lain, muncul pada era Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels (1762-1818).

Pada masanya Deandels ingin memindahkan pusat pemerintahan dari Batavia ke Surabaya. Mengutip Historia, sejarawan Universitas Indonesia Achmad Sunjayadi mengatakan dua faktor yang membuat Daendels ingin memindahkan pusat pemerintahan ke Surabaya. Pertama, alasan kesehatan karena di Batavia banyak sumber penyakit. Kedua, alasan pertahanan, di Surabaya terdapat benteng dan pelabuhan. Namun rencana itu gagal di tengah jalan.

Sistem perkotaan yang buruk

Kajian yang dilakukan oleh pemerintah kolonial menganggap Jakarta sudah tidak memenuhi standar kelayakan karena problem banjir yang terus saja berulang. Selain itu, anggapan bahwa Jakarta adalah kota yang kotor, panas, dan berpenyakit mengendap dalam pikiran orang-orang Belanda. Pada abad 18, Batavia (nama lama Jakarta) mempunyai problem akut dalam hal ekologi. Sanitasi dan sistem drainase yang buruk menyebabkan munculnya pelbagai penyakit, seperti malaria, disentri, dan kolera di kawasan Kota Lama (Blusse, 2004). Malaria bahkan dianggap seperti “kutukan” yang mengancam populasi penduduk Batavia. Penyakit ini menelan korban hingga 2.000-3.000 pekerja per tahun setelah tahun 1773 (van Der Brug, 2000).

Karena keadaan kawasan Kota Lama yang bertambah buruk, julukan yang pernah disandang oleh Batavia sebagai sang “Ratu dari Timur” dipelesetkan menjadi “Kuburan dari Timur”. Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels, yang melihat kawasan Kota Lama sudah tidak sehat dan nyaman, memerintahkan pemindahan pusat pemerintahan dan militer dari kawasan Old Town (Kota Tua, Jakarta Kota dan Pasar Ikan) ke New Town, daerah Weltevreden (Lapangan Banteng, Gambir, dan sekitarnya) yang lebih ke selatan, hijau, dan sejuk. Namun, daerah Weltevreden pun akhirnya dianggap tak layak sebagai pusat pemerintahan setelah H.F. Tillema, ahli kesehatan lingkungan, menulis studi yang menyimpulkan bahwa kota-kota pelabuhan di pantai Jawa tidaklah sehat, termasuk Batavia.

Pemerintahan kolonial – Bandung

Mengamini kajian yang dilakukan Tillema, Gubernur Jenderal van Limburg Stirum memilih Bandung sebagai ibu kota yang baru. Bandung dipilih karena didasari udaranya sejuk, pemandangannya indah, tata ruangnya apik, dan tidak terlalu jauh dari Jakarta. Bandung dengan keadaan topografinya juga dianggap sebagai benteng alam yang kokoh untuk menangkal serangan lawan. Pada awal 1920-an, sejumlah instansi dari Jakarta secara bertahap memindahkan kegiatannya, menyusul pembangunan gedung baru di Bandung (Suganda, 2007). Gemeente Bandung menyiapkan lahan sekitar 30 hektare untuk pembangunan gedung instansi sipil pusat. Namun, pembangunan ini terbengkalai karena keadaan ekonomi Hindia Belanda memburuk akibat depresi ekonomi pada akhir 1920-an, diikuti dengan Perang Dunia II pada akhir 1930-an.

Palangkaraya – Kota Pilihan Soekarno

Pasca-Indonesia merdeka sebetulnya dua kali ibu kota negara dipindahkan. Pertama, pada 1946 saat ibu kota dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta, didorong oleh kekacauan yang terjadi di Jakarta karena kedatangan Sekutu dan Belanda. Kedua, pada 1948, ibu kota dipindahkan dari Yogyakarta ke Bukittinggi karena Yogyakarta digempur dan Sukarno-Hatta ditangkap oleh Belanda. Tapi, pada kenyataannya, Bukittinggi tidak pernah benar-benar beroperasi secara efektif sebagai pusat pemerintahan. Belanda terus menggempur Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi sehingga mereka terus bergerak.

Setelah kondisi politik mulai stabil pada 1950-an, Sukarno mewacanakan kembali pemindahan ibu kota negara, dari Jakarta ke Palangkaraya. Saat meresmikan Palangkaraya sebagai ibu kota provinsi Kalimantan Tengah pada 1957, ia mengatakan kota ini berpotensi sebagai ibu kota baru Indonesia. Bahkan, Sukarno mengungkapkan telah memikirkan desain Palangkaraya menjadi kota metropolitan yang pluralis.

Mengapa Palangkaraya dipilih Sukarno?

Pertama, alasan geopolitik Palangkaraya yang terletak di tengah-tengah Indonesia dan berada di pulau terbesar Indonesia. Kedua, untuk meratakan pembangunan ekonomi yang selama ini berpusat di Jawa. Proyeksi Sukarno, dengan menjadikan Palangkaraya sebagai ibu kota, maka pembangunan Indonesia bagian Timur akan terdongkrak. Ketiga, kebijakan dekolonisasi Sukarno untuk membangun ibu kota sesuai dengan konsep keindonesiaan, bukan semata-mata warisan Belanda. Meskipun Palangkaraya mempunyai lokasi strategis karena tidak ada gunung berapi, tidak rawan gempa bumi dan banjir besar, tetapi kala itu tidak ada jalan darat yang mumpuni. Akses di kota ini adalah sungai sehingga akan menyebabkan pembangunan Palangkaraya sebagai ibu kota yang baru akan bertambah sulit. Namun, misi Sukarno untuk membangun Palangkaraya sebagai ibu kota baru tidak terealisasi. Malahan, ia fokus membangun Jakarta sebagai sebuah kota modern, melampaui imajinasi yang dibayangkan oleh orang-orang Eropa.

Perhatian Sukarno telah teralihkan pada urusan politik internasional dan Dunia Ketiga. Ia lebih tertarik dalam proyek besar menjadikan Indonesia sebagai motor utama dari blok anti-imperialis progresif, yang ia beri nama New Emerging Forces (Nefo). Untuk menunjang visinya tersebut, Sukarno membangun gedung, jalan, hotel, jembatan, dan kompleks olahraga di Jakarta. Proyek mercusuar Sukarno ini ingin menjadikan Jakarta sebagai simbol kekuatan baru Dunia Ketiga yang patut diperhitungkan oleh dunia. Akhirnya, rencana pemindahan ibu kota tidak pernah benar-benar terealisasikan karena Sukarno (di)jatuh(kan) setelah peristiwa 1965.

Apakah Palangkaraya, salah satu kota di Kalimantan ini menjadi kandidat yang layak?

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) turut menyoroti wacana pemindahan ibu kota yang digulirkan pemerintah. Kepala Pusat Data Informasi BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengakui bahwa wacana pemindahan ibu kota ke Kalimantan merupakan isu strategis. Dari kaca mata kebencanaan, Sutopo melihat bahwa wilayah Kalimantan memang minim ancaman kegempaan dibandingkan daerah lainnya.

Wacana Pemindahan Ibu Kota Pasca Soekarno

Dengan jatuhnya Sukarno bukan berarti wacana pemindahan ibu kota berhenti. Soeharto pernah memikirkan pemindahan pusat pemerintahan dari Jakarta ke Jonggol. Ia memilih daerah tersebut karena secara realistis wilayahnya tidak jauh dari Jakarta. Pada 1997, Soeharto mengeluarkan Keppres tentang pengembangan kawasan Jonggol menjadi kota mandiri. Proyek yang bermasalah karena pengerjaannya dilakukan oleh anaknya sendiri, Bambang Trihatmodjo, akhirnya tak rampung sebab Soeharto keburu lengser oleh gelombang reformasi. Penggantinya, B.J. Habibie, juga pernah mewacanakan pemindahan lokasi ibu kota ke Sidrap, Sulawesi Selatan. Wilayah ini dianggap opsi yang baik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah timur Indonesia. Namun, Habibie hanya memerintah sebentar dan disibukkan oleh urusan reformasi dan demokratisasi.

Pasca-Habibie, pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono menggulirkan kembali wacana pemindahan ibu kota negara. Wacana ini diembuskan kembali akibat banjir besar yang kerap kali menghambat aktivitas pemerintah pusat di Jakarta. SBY menawarkan tiga skenario tentang pemindahan ibu kota: (1) mempertahankan Jakarta sebagai ibu kota negara sekaligus pusat bisnis dengan pembenahan total; (2) membangun ibu kota yang benar-benar baru, seperti Australia atau Turki; dan (3) ibu kota tetap di Jakarta tetapi pusat pemerintahan berpindah ke tempat lain, seperti Malaysia. Namun, tidak ada kejelasan tentang langkah kebijakan apa yang diambil selanjutnya.

Kalau sekarang wacara pemindahan Ibu Kota kembali marak, lantas kota mana yang layak jadi Ibu Kota?

*Diolah dari berbagai sumber:

  1. https://tirto.id (https://tirto.id/jualan-wacana-pemindahan-ibu-kota-cr4W)
  2. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190429081114-20-390452/sejarah-pemindahan-ibu-kota-sejak-era-hindia-belanda

Heartline Tangerang

100.6 FM

Current track
TITLE
ARTIST