Masih Ada Kelaparan Balita di Indonesia…

Written by on August 3, 2020

Anak adalah seorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Dilansir dari profil anak Indonesia (2019) ada sekitar 80 juta anak atau 30% penduduk Indonesia usia anak yang perlu mendapatkan hak – haknya dan juga perlindungan. Dalam melindungi anak bukan hanya tugas pemerintah dan orang tua saja, melainkan juga tugas orang – orang yang melakukan interaksi secara langsung maupun tidak langsung.

Berdasarkan indeks kelaparan global (2019), Indonesia masih menghadapi kelaparan yang serius.  M. Hendro Utomo selaku Founder Foodbank of Indonesia mengatakan arti kelaparan disini secara harafiah yaitu adanya anak – anak yang kelaparan pada jam – jam tertentu disetiap harinya dan walaupun ada makanan tetapi tidak dapat mencukupi kebutuhan untuk tumbuh kembangnya dengan baik. Hal ini bisa terjadi karena kasus kelaparan pada balita terjadi pada wilayah – wilayah yang menghasilkan pangan seperti Cianjur, Brebes, Subang, Grobogan, dan sebagainya.

Dalam survey demografi dan kesehatan Indonesia (2017), terkait dengan gizi balita bahwa hanya ada 9 dari 10 Ibu yang pernah menyusui, dan hanya 51% yang memberikan ASI ekslusif. Hal inilah yang menjadi tantangan bagi pemerintah untuk memberikan edukasi kepada keluarga terutama pada perempuan (Ibu) bahwa setelah melahirkan harus memberikan ASI ekslusif kepada anaknya, karena ASI merupakan salah satu asupan gizi terpenting dalam pertumbuhan seorang anak.

Selain itu, adapun tantangan bagi pemerintah untuk mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa kebutuhan asupan gizi pada anak berbeda – beda berdasarkan usia yaitu :

  • Usia 6 – 23 bulan (MPASI) : 25% sayur dan buah, 35% karbohidrat, 30% protein hewani, dan 10% protein nabati.
  • Usia 2 – 5 tahun : 30% sayur dan buah, 35% karbohidrat, 35% protein hewani dan nabati.

Dalam perkembangan revolusi industri ternyata memberikan pengaruh pada referensi pola makanan masyarakat yang seharusnya hanya untuk memenuhi kebutuhan secukupnya, tetapi sekarang menjadi sebuah gaya hidup (lifestyle). Hal ini dapat dilihat dari pengolahan pangan rumahan menjadi sebuah bisnis yang sehingga masyarakat memberikan asupan gizi kepada anaknya tidak sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Ada beberapa hal yang penyebab yaitu : kurangnya pengetahuan, cara pola asuh orang tua, lifestyle, status sosial (gengsi), dan ingin serba instan. Untuk mengatasi hal ini pemerintah harus melakukan sosialisasi atau pembelajaran secara mendalam kepada masyarakat bagaimana cara pola asupan gizi anak dengan benar dan selain itu masyarakat harus bisa memperbaiki gaya hidup. (Sintya Monika)


Current track

Title

Artist