Menang atau Kalah: Mari Menata Hati

Written by on April 18, 2019

Final tunggal putera, kejuaraan All England tahun 1978. Rudy Hartono, pemegang mahkota juara 8 kali, melawan Liem Swie King, yang sudah dua kali masuk final. Ini bukan pertandingan biasa, tapi “perang” antar 2 kampiun bulu tangkis asal Indonesia, negara pemegang supremasi bulutangkis dunia saat itu.

Pertama, ini “civil war”. Perang saudara sering disebut lebih seru dan menegangkan dibanding perang antar bangsa.

Kedua, rematch antar kedua pemain sudah berlangsung beberapa kali. King lebih muda 7 tahun. Tapi Rudy 11 tahun lebih awal malang-melintang di dunia bulutangkis internasional. Juara RT sampai dunia pernah diraihnya. Karirnya runtut dari bawah, dengan aneka pengalaman dan ekspos yang lengkap. Rekam jejak dititi dengan predikat nyaris sempurna. Kalangan bulutangkis dunia mengakuinya.

Ketiga, perang saudara selalu diwarnai gengsi. Kalah dengan orang lain, tak apa. Asal jangan dengan saudara sendiri. Bagi penonton, sebaliknya. Siapa pun yang menang, siapa pun yang kalah, tak masalah. Mereka adalah saudara sebangsa yang tujuannya pasti sama. Mulia. Demi merah-putih yang satu dan hanya satu.

Pertandingan berlangsung seru. Rudy semula memimpin. Disusul King. Angka disamakan. Rudy unggul lagi. Disamakan kembali. Ketat. Sangat ketat. Tapi, pertandingan harus berakhir. Juara harus lahir. Kali ini King menang 2 set langsung, 15-10 dan 15-3.

Serunya pertandingan tak segera hilang, setelah pemenang ditentukan dan piala dibagikan. Penonton bertepuk tangan, panjang sekali. Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan. Kedua pemain berkaca-kaca, penonton menitikkan airmatanya. Bangga, haru, bahagia.

Upacara usai. Penonton pulang. Pesawat TV dimatikan. Rekaman pertandingan tak diputar lagi. Tak demikian halnya dengan kedua pemain. Mereka sedang bergulat dengan perasaannnya. Mereka sedang “menata hati”.

Pemenang menahan diri, untuk tak berlebihan mengungkapkan kegembiraannya. Rasa jumawa harus dipendam dalam-dalam. Congkak dan tinggi hati harus ditutup rapat-rapat.

Pemenang gemebyar, namun beban yang ditanggung tak kalah berat. “Makin tinggi pohon kelapa, makin kencang ditiup angin”. Agar tak tumbang, merunduklah. Angin tak menghantam yang andap asor. Rasa menang lebih liar untuk dikelola, karena kumbang dan kupu-kupu merubung bunga yang semerbak dan penuh madu. Mereka sering meninggalkan racun yang memabukkan. Sedikit komentar menjadi emas. Banyak komentar adalah perunggu. “When you win, say nothing. When you lose, say less”. (Paul Brown – Pelatih sepakbola terkenal dari Amerika).

Beban bagi yang kalah tak kalah berat. Harga diri seolah runtuh. Semakin jarang ungkapan kemenangan yang diteriakkan sebelum pertandingan, semakin ringan beban yang dipikul kala kekalahan harus diterima. Persis ungkapan Rudy Hartono, saat berkomentar seusai pertandingan. “Jangan anggap pertandingan adalah segalanya dalam hidup ini, agar kemenangan atau kekalahan tak menjadi beban”.

Menang atau kalah adalah hal yang biasa. Hari ini menang besok bisa kalah. Begitu sebaliknya. Begitu seterusnya, sampai usia bumi ini usai. Bumi tak akan berhenti berputar hanya karena seseorang menang, atau pun kalah. “The show must go on”.

King dan Rudy sama-sama sulit. Mereka harus menata hati, Karena menang atau kalah bisa membuat terjerembab. Berjiwa besar adalah jalan keluar. Berjiwa besar kalau menang, tanpa harus merasa mengalahkan. Berjiwa besar kalau kalah, tanpa harus merasa sebagai pecundang. Indonesia beruntung mempunyai pahlawan seperti King dan Rudy. Mereka menerima hasil, menang dan kalah. Garis kehidupan harus dilakoni bersama. Untuk kemajuan bersama. Untuk kemaslahatan bersama. Untuk kebahagiaan dan kedamaian bersama. Berdua beriringan masuk ke kamar ganti busana, bersama. Berdua kembali ke tanah air, bersama. Kemudian, berdua bekerja membangun dunia bulutangkis, bersama.

Perang saudara” berubah menjadi “bersaudara”, ketika wasit meniup peluit panjang.

 

Penulis: PM. Susbandono Speaker Program Radio “Wisdom of The Day” di Heartline Radio 100.6 FM


Heartline Tangerang

100.6 FM

Current track
TITLE
ARTIST