Radio Pemersatu Bangsa menuju Transformasi Digital

Written by on April 30, 2019

Peran radio dalam sejarah kebangsaan Indonesia, sudah cukup panjang dan memiliki andil yang besar. Radio selalu hadir saat bangsa ini membutuhkan suara-suara yang meneduhkan. Tanpa mengecilkan peran positif media berlayar, namun kita bisa menyaksikan, bagaimana selama masa-masa kampanye pemilu legislatif dan pilpres beberapa waktu lalu, banyak sekali sajian-sajian diskusi kampanye yang provokatif dan vulgar yang dipertontonkan di depan mata rakyat Indonesia. Tuturan yang mengaduk-aduk emosi, terasa berselancar di gelombang era Post-Truth, membuat bangsa ini serasa seperti kapal yang hendak terbelah.

Keprihatinan itu kemarin muncul dalam pembukaan Munas PRSSNI (Persatuan Siaran Swasta Nasional Indonesia) XV, yang bertempat di Jakarta. Karena itu, tema yang diusung dalam Munas PRSSNI kali ini adalah bagaimana peran radio dituntut untuk menjadi pemersatu bangsa, sejalan dengan tantangan yang harus dihadapi oleh industri radio sendiri yakni bertransformasi ke dunia digital.

Kekuatan radio yang lokal dan personal, banyak diamini sebagai kekuatan yang belum maksimal dieksplorasi oleh pekerja radio untuk memberi dampak besar bagi perkembangan media dan ekonomi lokal. Ketua Dewan Pers, Stanley Yoseph Adi Prasetyo mengatakan, radio masih dibutuhkan namun siarannya harus mencerminkan kebutuhan masyarakat pendengarnya agar tidak ditinggal pergi. Menurut dia, kekuatan konten lokal adalah keunikan sekaligus kekuatan radio yang sekarang mulai dilupakan pengelola radio. “Radio itu lokal, tapi pengalaman saya ke beberapa daerah di kawasan barat, tengah, hingga ujung timur, saya dengarkan radionya, isinya, cara ngomongnya lo gue juga, sama persis denganJakarta. Kalau begini, dimana lokalitasnya?” ungkap Stanley dalam sambutannya di pembukaan Munas XV PRSSNI di Hotel El Royale, Jakarta, Senin (29/4/2019).

Kreativitas menjadi keahlian penting di era digital ini. Direktur Penyiaran Kominfo, Geryantika Kurnia, juga menandaskan pentingnya radio harus relevan dengan tren digital. “Misalnya, saat ini yang dilihat bukan besar kecilnya kantor, tetapi besar kecilnya viewer!” Dalam diskusi lanjutan setelah pembukaan, hadir juga Executive Director Nielsen, Hellen Katherina. Menurut Hellen, penetrasi radio di 11 kota Nielsen sebesar 36%, dimana 50%nya adalah anak muda. Survey juga membuktikan bahwa banyak anak muda yang mendengarkan radio via HP, baik melalui radio tuner atau apps. “Penetrasi digital ini akan semakin tinggi dan cepat lompatannya. Tahun 2017 sebesar 38% dan tahun 2018 = 50%, jadi hanya dalam waktu 1,5 tahun lompatannya 30%. Jadi tidak ada gunanya lihat ke belakang, mau tidak mau harus lihat ke depan, susun business model ke depan. Monetize!” Ujar Hellen.  

Hadir juga sebagai pembicara, Dari Dentsu One Indonesia dan Ketua P31, Janoe Arijanto. Beliau memberi catatan dari sudut pandang agensi. Menurutnya, ada fenomena sekarang persaingan brand itu per zona daerah. Jadi setiap radio punya kesempatan untuk mendapatkan iklan, tak harus radio besar, tapi radio yang standar, tidak jelek-jelek amat. Radio di mata agensi masih punya kekuatan, seperti unique listening moment yang tidak dimiliki media lain. Kekuatan radio, menurut Janoe adalah Listener lebih loyal, direct enggagement, local cultural context. Ini semua harus dikapitalisasi! “Jadi fokus di kekuatan radio saja: Local genius, local knowledge and local context as a strong insight!” Ujarnya. (JM)


Heartline Tangerang

100.6 FM

Current track
TITLE
ARTIST