Rasisme & Seksisme dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat

Written by on November 2, 2020

Kritik tajam terhadap Kamala Harris mengemuka hanya beberapa jam setelah calon presiden Partai Demokrat Joe Biden memilihnya sebagai pendamping untuk melawan pasangan Donald Trump-Mike Pence dalam pemilihan presiden Amerika. Berbeda dengan kecaman terhadap Biden, atau Trump dan Pence, yang lebih pada soal rekam jejak mereka menangani suatu isu; serangan terhadap Kamala lebih karena sosoknya sebagai perempuan. Kecaman itu berlipat ganda karena Kamala berasal dari kelompok multi-etnis, ayah asal Jamaika dan ibu asal India.

Tak hanya Kamala, kecaman juga sempat dirasakan lima perempuan lain ketika bersama Kamala di awal pilpres mencalonkan diri sebagai kandidat calon presiden Partai Demokrat, yaitu anggota Kongres dari Hawaii Tulsi Gabbar, senator New York Kirsten Gillibrand, senator Minnesota Amy Klobuchar, senator Massachusetts Elizabeth Warren dan aktivis-politisi Marianne Williamson.

Juga ratusan perempuan lainnya, termasuk yang berasal dari Partai Republik, ketika mereka memperebutkan kursi di Senat dan DPR, atau bertarung untuk menjadi gubernur. Pakar politik di Universitas Loyola di Chicago, Dr. Ratri Istania, mengatakan bahwa perjuangan perempuan di Amerika sejak 100 tahun lalu tampaknya memang belum selesai. Pengakuan hak perempuan untuk memberikan suara tidak serta merta membuat jalan mereka untuk duduk di lembaga legislatif [Senat dan DPR] dan eksekutif berjalan mulus. Tetapi ini jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Sejak pemilihan sela tahun 2018, jumlah perempuan yang ikut bertarung maupun yang memberikan suara meningkat pesat.

Namun Prof. Etin Anwar, ilmuwan perempuan di Hobart & William Smith Colleges di New York mengatakan kritik tajam yang diarahkan sebenarnya lebih karena warga ingin menguji calon yang bertarung dan sekaligus mengetahui agenda yang ditawarkan.

Di Amerika ini meskipun mereka kejam satu sama lain, sangat galak pada lawan politiknya, itu semua karena pemilihnya sangat agenda-oriented [berorientasi pada agenda-agenda calon presiden.red]. Pemilih ingin tahu bagaimana rencana ekonomi Biden, bagaimana kebijakan imigrasi Trump, bagaimana kebijakan luar negeri mereka. Seperti apa di Demokrat, seperti apa di Republik. Jadi narasi-narasi rasis, seksis, homofobik, dan lain-lain itu semata-mata karena keingintahuan dan sekaligus mempertahankan agenda-agenda itu. Berbeda dengan di Indonesia, yang justru menimbulkan narasi-narasi kejam itu sebagian besar karena orientasi agama,” ujar Prof. Etin Anwar kepada Voice of America (VOA).

 

Ferraro & Palin Juga Hadapi Kecaman Pedas

Kamala Harris adalah perempuan ketiga dalam sejarah Amerika yang pernah dicalonkan untuk posisi strategis, yaitu sebagai calon wakil presiden. Sebelumnya ada Geraldine Ferraro yang dipilih Walter Mondale mendampinginya sebagai cawares Partai Demokrat dalam pilpres tahun 1993 dan Sarah Palin yang dipilih John McCain sebagai cawapres Partai Republik dalam pilpres tahun 2008. Keduanya juga menghadapi kecaman yang tidak kalah sengitnya.

Hal serupa juga dihadapi Hillary Clinton, capres Partai Demokrat dalam pilpres tahun 2016, dan puluhan atau bahkan ratusan perempuan yang mencalonkan diri untuk kursi di Senat dan DPR, baik di tingkat negara bagian maupun nasional, termasuk untuk posisi eksekutif. Anggota Kongres Alexandria Ocasio Cortez, Ayanna Pressley, Ilhan Omar dan Rashida Tlaib merasakan langsung dampak iklim yang memarjinalkan perempuan ini. Demikian pula Gubernur Michigan Gretchen Whitmer, satu dari sembilan gubernur perempuan di Amerika, yang baru-baru ini menjadi target penculikan karena kebijakan lockdown yang dikeluarkannya.

Jika kita melihat apa yang terjadi memang tidak dapat dipungkiri bahwa Amerika ini sebenarnya masih misoginis. Apalagi jika melihat kultur politik yang memang didominasi warga kulit putih, Evangelical, dan setelah terpilihnya Amy Coney Barrett; saya kira memang perjuangan politik perempuan di Amerika agak sedikit suram. Ini karena konservatif tidak terlalu suka jika perempuan memimpin,” papar pakar politik di Universitas Loyola di Chicago, Dr. Ratri Istania.

 

Pasca Tewasnya George Flyod

Isu rasisme juga semakin menguat pasca tewasnya laki-laki kulit hitam George Flyod di tahanan polisi setelah lehernya ditekan lutut polisi kulit putih Derek Chauvin selama hampir delapan menit, yang membuatnya tidak dapat bernafas. Floyd ditangkap polisi karena diduga menggunakan uang dua puluh dolaran palsu untuk berbelanja di sebuah toko kelontong di Minneapolis, Minnesota. Kasus Flyod membuka luka lama warga Amerika keturunan Afrika akan aksi kekerasan polisi terhadap mereka. Kedua calon presiden berupaya keras menjawab hal ini dalam kampanye dan debat terbuka.

 

Partisipasi Politik, Khususnya Perempuan, Diperkirakan Tinggi

Mengingat sengitnya pertarungan pilpres kali ini, US Elections Project dan Brookings Institute memperkirakan jumlah warga Amerika yang akan memberikan suara akan sangat tinggi. Indikasi ini sudah tampak dari melesatnya jumlah warga yang memberikan suara lebih dini, baik lewat pos maupun yang datang langsung ke TPS di negara-negara bagian yang melangsungkan early voting, yang hingga laporan ini disampaikan jumlahnya sudah mencapai hampir 90 juta.

Dari hampir 240 juta warga Amerika berhak memilih, lebih dari 150 juta diperkirakan akan memberikan suara tahun ini atau berarti lebih dari 62% – jumlah yang hampir menyamai jumlah mereka yang memberikan suara pada pemilu 2008 [61,65%] dan pilpres 2016 – dan juga 2004 – yaitu 60.1%.

Survei yang dilakukan Pew Research atas pemilu paruh waktu pada November 2018 menunjukkan jumlah pemilih perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki. Sekitar 55% perempuan memberikan suara mereka, dibanding laki-laki yang mencapai 51,8%. Atau jauh lebih tinggi dibanding pemilu paruh waktu pada tahun 2014 di mana hanya 43% perempuan dan 40,8% laki-laki yang memberikan suara mereka. Jumlah yang kurang lebih sama diperkirakan akan tampak dalam pilpres 3 November. (VOA| em/hj/lt)


Current track

Title

Artist