12 April 2021

Sandiaga Uno: Potensi Ekonomi Kreatif Tidak Ada Habisnya

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengatakan bahwa potensi ekonomi kreatif di Indonesia tidak ada habisnya. Ekonomi kreatif yang dimaksud adalah potensi yang bersumber pada nilai kreatifitas dan kekayaan intelektua.

Potensi ekonomi kreatif tidak akan habis sepanjang SDM kreatif itu ada. Saya harap pekerja seni dapat terus berinovasi dan berkreasi melalui pameran virtual ini, karya-karya pekerja seni akan semakin dikenal oleh masyarakat dan dapat menambah pengetahuan dan wawasan bagi para penikmat seni baik di Indonesia maupun ditingkat dunia,” ujar Sandiaga Uno saat memberikan sambutan pada pameran kaligrafi virtual tingkat ASEAN yang diselenggarakan pada tanggal 11 April 2021 sampai dengan 11 Mei 2021.

Saya sampaikan apresiasi setinggi-tingginya bagi Islamic Art Exhibition yang bekerjasama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta sebagai penyelenggara acara ini. Tidak lupa juga saya sampaikan terima kasih bagi Jakarta Islamic Centre (JIC) dan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi DKI Jakarta atas dukungannya. Kegiatan ini merupakan suatu bentuk dukungan dalam pengembangan aspek seni dan budaya dalam penguatan pengembangan seni islam di bidang kaligrafi dengan pendekatan digital. Selain itu, kegiatan ini juga merupakan suatu bentuk nyata bahwa sector ekonomi kreatif tetap bisa bangkit ditengah-tengah kondisi yang sulit ini,” kata Sandi.

"Tetaplah berkarya, mewarnai dunia dengan seni, karena hidup dengan seni menjadi indah, hidup dengan ilmu jadi mudah dan hidup dengan agama menjadi ter-arah," tutupnya.

Pameran “ASEAN Contemporary Islamic Calligraphy Art Virtual Exhibition” digelar selama bulan Ramadhan 1442 Hijriyah dengan tema “Color Changes The World”. Pameran tersebut diikuti oleh 92 seniman dari empat negara (70 seniman dari Indonesia, 14 dari Malaysia, 4 dari Brunei Darussalam, dan 4 seniman dari Singapura).

“ASEAN Contemporary Islamic Calligraphy Art Virtual Exhibition”

Seniman dari Indonesia, antara lain diwakili  AD Pirous, M Arif Syukur, Syaiful Adnan, D Sirojuddin AR, Agus Baqul, Said Akram, Badrus Zaman, S Handono Hadi, Fadjar Sutardi, Ilham Khoiri, Isep Misbah,  Rispul Rasyidin, Derry Sulaeman, Tulus Warsito, Khairunnisa Affandi, dan Kurnia Agung Robiansyah. Dari Malaysia, turut serta di antaranya, Abdul Ghofur, Umar bin Abd Rahman, Sharinah MD Nor, Azlin Hamidon, Ainun J Yacoob. Seniman Singapura antara lain Shahira M Sharif, Khairol Helmy, Fahmy Said, dan Mazli Said. Dari Brunei Darussalam, ada Bolhan dan Khairol Helmy.

Pamera dihelat Islamic Art Exhibition (IAE) bekerjasama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta didukung Jakarta Islamic Centre (JIC) dan Dewan Masjid Indonesia (DMI) DKI Jakarta. Mengikuti protokol pandemi Covid-19, perhelatan digelar secara virtual. Seluruh karya dirangkum dalam satu katalog digital format PDF, sajian 3D interaktif, dan video. Publik dapat mengakses semua itu melalui situs www.asean.islamicartexhibition.com. Di situ, tersaji ruang pamer virtual bercitra tiga dimensi. Mirip menonton pameran sungguhan.

"Lewat virtual, pameran dapat diakses dan dilihat khalayak tanpa batas ruang dan waktu," kata M Arif Syukur, seniman sekaligus inisiator  pameran ini.

Total 180 karya ditampilkan. Semuanya menyajikan estetika seni khat yang beragam dalam metode kerja, pendekatan visual, dan hasil akhirnya. Pengunjung diajak bertamasya dalam variasi seni kaligrafi. Setiap bentuk mewaliki selera dan inklinasi masing-masing seniman.

Pameran menjadi momen silaturrahim di antara para seniman kaligrafi Islam yang beragam di ASEAN. Keberagaman itu, yang juga tercermin dalam banyak variasi estetika visual, menjadi daya tarik bagi komunitas seni serta khalayak luas.

Karya-karya seniman memperlihatkan daya kreatif para seniman yang tetap “berdenyut hidup” di tengah pandemi Covid-19. Siapa pun boleh bertamasya dalam keelokan jalinan seni kaligrafi yang diolah dalam berbagai kemungkinan estetis dalam pameran ini. Semua itu menawarkan hiburan segar di tengah hari-hari yang sumpek selama pandemi.

Pameran  “ASEAN Contemporary Islamic Calligraphy Art Virtual Exhibition” menyajikan semangat “salam” dalam Islam: damai, ramah, dan indah.  Keragaman visual dan warna-warni—sesuai tema “Colour Changes the World”—memperkuat spirit untuk menghargai kemajemukan dunia. Ayat-ayat Al Quran atau matan hadis Nabi Muhammad SAW dalam jalinan seni kaligrafi menjadi pengingat bagi kita semua untuk senantiasa berpikir dan berperilaku indah. “Jalinan seni khat memperlihatkan dimensi madani (keadaban) Islam yang  indah, dan ramah. Dimensi estetik ini perlu terus digaungkan untuk mengimbangi dominasi dimensi politik_(siyasah)dan dimensi hukum formal(fiqh),” kata Ilham Khoiri, salah satu peserta pameran, dalam catatan pengantar katalog.