Seberapa Terjal Pemulihan Ekonomi Indonesia Pasca Pandemi ?

Written by on November 25, 2020

Hampir seluruh dunia terkena dampak yang luar biasa dari kehadiran pandemi COVID-19. Indonesia menjadi salah satu negara yang terkena dampak cukup signifikan. Saat ini, kondisi negeri ini sangat berat dan lebih challenging dibandingkan sebelum pandemi terjadi.

Kalau kita lihat secara global pertumbuhannya hampir semua negatif. Jadi ini yang challenging adalah pandemi itu datang dan membuat shocking semua aktivitas ekonomi, karena ekonomi itu kan bertumbuh pada mobilitas. Jadi ketika nggak ada mobilitas nggak ada aktivitas ya nggak ada surplus sehingga supply demand terkena pukulan sekaligus, swasta terdampak luar biasa, warga negara juga terdampak kehilangan pekerjaan dan sebagainya. Itu yang terjadi saat ini,” ujar Yustinus Prastowo, Staf Khusus Menteri Keuangan saat menjadi pembicara di Special Talkshow HUT ke-51 YASKI dan HUT ke-22 Heartline FM100.6 Tangerang, Senin (23/11).

Yustinus menjelaskan bahwa sektor yang terpukul pertama kali sejak pandemi ini muncul adalah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Pada kuartal 1 tahun 2020, pertumbuhan ekonomi turun 1,97% yang menyebabkan dampak langsung terhadap pelaku UMKM. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mengakibatkan penurunan demand dan supply karena terganggunya aktivitas ekspor impor.

Senada dengan Yustinus, Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Jakarta Sarman Simanjorang mengatakan perekonomian Indonesia saat ini memang sedang tidak baik-baik saja.

Pertama adalah UKM/UMKM. Pada saat dulu kita merasakan krisis ekonomi 2008, UKM ini tampil sebagai penyelamat ekonomi kita, tapi ketika kita memasuki COVID-19 ini justru yang paling parah adalah UKM kita. Apalagi di Jakarta misalnya dengan PSBB yang  sangat ketat dan hampir 4 bulan kemarin itulah yang paling meluluhlantahkan UKM,” pungkas Sarman Simanjorang.

Menurut Sarman, upaya pemerintah dalam menyikapi hal ini sudah sangat baik, meski pun masih ada kebijakan-kebijakan yang kurang cepat secara teknis.

eflyer special talkshow “Seberapa Terjal Pemulihan Ekonomi pasca Pandemi?”

Sementara, Radityo Fajar Arianto selaku Ekonom Universitas Pelita Harapan memaparkan bahwa sebenarnya masyarakat, terutama para pelaku UMKM bisa mengandalkan teknologi yang ada saat ini dengan cara menghubungkan UKM dengan retail online.

Nah, ini saya nggak bisa kebayang kalau pandemi ini datang di saat 20 tahun yang lalu, habis kita. Kita sampai hari ini bisa bertahan itu salah satu faktornya adalah karena kita sudah terkoneksi dengan internet, khususnya di kota-kota besar sehingga UKM/UMKM ini bisa berharap dan mencoba untuk belajar bagaimana cara menjual produk-produk mereka lewat online,” kata Radityo.

Radityo juga menegaskan hal yang serupa terkait upaya pemerintah yang cepat tanggap menyikapi perekonomian Indonesia saat pandemi ini.

Tapi untuk menumbuhkan optimisme, sebenarnya kalau kita lihat di laporan terakhir kuartal 3, kita cukup bersyukur karena menunjukkan tanda-tanda perbaikan, khususnya di sektor moneter. Jadi, kalau kita lihat indikator-indikator makro kita misalnya nilai tukar cukup stabil. Terus inflasi kita terjaga dengan baik. Lalu, kemarin baru kita dengar GubernurBank Indonesia menurunkan repo 7 hari artinya itu bisa mendorong orang untuk memiliki akses pendanaan ke bank,” ujar Radityo.

Yustinus Prastowo mengatakan bahwa kebijakan pemerintah ini sudah sangat membantu masyarakat di tengah pandemi. Mulai dari stimulus bantuan sosial/bansos, relaksasi, pemberian pulsa atau kuota gratis. Bahkan saat ini, menurut Yustinus, merupakan kali pertama dalam sejarah, pemerintah mengelontorkan stimulus 4,2% dari PDB atau sekitar 695,2 triliun untuk para pelaku UMKM serta banpres produktif sebesar 2,4 juta per UKM.

Menjawab kegelisahan masyarakat terkait hutang Indonesia yang beberapa waktu lalu dipinjam dari Jerman dan Australia, Yustinus Prastowo menjelaskan rambu-rambu yang dipakai pemerintah ialah Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang batas maksimum rasio hutang adalah 60% terhadap PDB.

Sebenarnya, dari 2006 sampai 2019 pemerintah Indonesia konsisten menjaga rasio berada di bawah 30%, separuh dari maksimum. Namun, pada 2020 akibat pandemi COVID-19, perekonomian Indonesia melambat, pajak turun, dan belanja meningkat. Padahal Indonesia membutuhkan biaya yang sangat besar untuk menangani permasalahan tersebut. Oleh sebab itu, pemerintah Indonesia dengan terpaksa berhutang. Itu pun dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan bekerja sama dengan Bank Indonesia untuk berbagi beban hutang.

Pinjaman Australia dan Jerman itu dalam rangka tata krama persahabatan internasional, dukungan bilateral yang baik.Mereka menawarkan bantuan, kalau dibanding dengan lelang SBN ini tidak besar hanya kurang lebih sekitar 9 dan 15 triliun, ini sekali lelang. Tapi kan kita ini menghormati negara yang perhatian ke kita ingin menolong, apa lagi dengan tenor panjang 11 tahun dengan suku bunga sangat rendah,” jelas Yustinus.

Menurut Radityo, salah satu keuntungan Indonesia terletak pada jumlah dan struktur penduduk negara ini karena bisa mempercepat pemulihan ekonomi. Jika jumlah penduduk tinggi, potensi konsumsi penduduk juga tinggi.

“…dan juga para middle class up ini kalau bisa spending. Jangan hanya menabung karena saat ini kalau kita ingin membuat perekonomian berjalan, kita harus spending,” ujar Radityo.

Segalanya akan menjadi percuma dan tidak optimal apabila kesehatan tidak ditangani dengan baik. Keseimbangan menjadi kunci utama dan perlu dijaga agar perekonomian Indonesia dapat dibuka kembali secara perlahan dengan tetap mengupayakan yang terbaik guna menghentikan pandemi COVID-19.

Game changer kita adalah vaksin tetapi kita tidak boleh hanya bergantung pada vaksin, tetap protokol kesehatan penting ditegakkan,” tegas Yustinus.

Dari sisi pengusaha, Sarman Simanjorang mengatakan bahwa mereka siap mendukung apapun program pemerintah terkait upaya pengendalian penyebaran virus Corona.

Kami dari pengusaha nomor satu mendukung itu. Langkah apapun oleh pemerintah kita akan dukung, karena memang kunci kita cuma satu. Ketika nanti covid ini bisa berlalu kita sangat yakin pertumbuhan ekonomi kita akan sangat melejit. Tapi yang penting adanya vaksin ini adalah satu-satunya jalan kita bisa mempercepat pemulihan ekonomi kita,” pungkas Sarman Simanjorang.

Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan, pemulihan ekonomi dan penanganan pandemi masih akan berlanjut sampai semester 1 2021, maka pemerintah telah mengalokasikan stimulus sebesar 372 triliun untuk 2021. Selain itu, alokasi sebesar 29,6 triliun juga diperuntukkan terhadap transformasi digital, memperluas coverage layanan, menambah infrastruktur sehingga WFH, study from home (SFH), dan digitalisasi UMKM ke market place dapat berjalan lebih baik. (jul)


Current track

Title

Artist