Sekolah di Udara: Mendekatkan yang Tak Terjangkau (nyaris) Tanpa Batas

Written by on May 26, 2020

Dua bulan lebih, Pandemi Covid-19 berlangsung dan menciptakan banyak sekali kebiasaan baru alias new normal di segala bidang. Semua yang dulu dilakukan bertatap muka, kini diejawantahkan secara daring (online). Salah satunya adalah kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Sejak awal pandemi, kala pemerintah mewajibkan kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring dari rumah, kebutuhan kuota internet pun meningkat. Namun sayang peningkatan kebutuhan kuota tersebut tidak berbanding lurus dengan peningkatan kreatifitas para pengajar. Hal tersebut mengemuka saat Wahana Visi Indonesia (WVI) menggelar survey Suara Anak 2 – 20 April silam. Beberapa masalah muncul terkait dengan proses sekolah jarak jauh secara daring, yaitu metode belajar yang monoton (tak ada bedanya dengan saat tatap muka), one way communication, dan ketiadaan akses internet.

Padahal, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sejak awal melalui surat edarannya sudah wanti-wanti kepada para pengajar untuk tidak menyelesaikan semua materi dalam kurikulum. Para pengajar mesti mengadaptasi materi pelajaran dalam situasi dan kondisi pandemi. Yang penting, siswa masih terlibat dalam pembelajaran yang relevan seperti keterampilan hidup, kesehatan, dan empati.

Untuk itu, Radio Heartline FM100.6 Tangerang sebagai salah satu anggota Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) menginisiasi konsep “Sekolah di Udara” Sebuah konsep yang sederhana, menghadirkan pembahasan materi belajar di ruang dengar para siswa dan keluarga. Tidak hanya siswa, tapi seluruh anggota keluarga pun dapat belajar.

Sekolah di Udara” mempertemukan teori mata pelajaran dengan fakta kehidupan sehari-hari, langsung dari para pengajar. Juga membuka interaksi dua arah, sehingga pemahaman dapat diperoleh sekaligus membuat pikiran menjadi terampil menanggapi fenomena sosial di sekitar. Sehingga teori tidak berhenti hanya pada hafalan semata, tapi juga mewujudnyata dalam pikiran, perkataan dan tindakan siswa sehari-hari.

Edisi perdana “Sekolah di Udara”, dimulai dengan tema “Covid-19 dalam Sudut Pandang Biologi, Sosiologi dan Psikologi” yang dihadirkan oleh SMAK 5 Penabur Jakarta. Bersama 3 orang pengajar (Boanerges Tiberias/Guru Biologi, Ernilawati/Guru Sosiologi, dan Christian Imas/Guru Psikologi), para siswa diajar memahami Covid-19 secara aplikatif.

Siaran “Sekolah di Udara” memanfaatkan beragam teknologi terkini, seperti aplikasi Zoom, live on YouTube, live streaming, sekaligus teknologi yang tak pernah mati, yaitu Radio!

Sejumlah jawaban atas banyak pertanyaan selama ini atas Covid-19 disampaikan secara lugas. Diantaranya, ‘Mengapa mesti menjaga jarak aman?’, ‘Mengapa mesti pakai masker?’, ‘Kok perlu cuci tangan pakai sabun?’, ‘Harus ya menjaga tetap terhubung/berinteraksi sosial secara daring dengan sesama?’, ‘Mengapa perlu berpikir positif, padahal situasi sedang negatif?’, dan lainnya.

“Menarik! Proses belajar mengajar yang berangkat dari fenomena sehari-hari, tidak melulu berawal dari buku”

Demikian salah satu komentar dari seorang siswa Rabu, 20 Mei 2020, saat edisi perdana program “Sekolah di Udara” disiarkan.

Ya, karena pendidikan itu sejatinya membawa siswa kepada pemahaman yang benar tentang apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari di sekitar mereka. Bagaimana teori-teori pelajaran dapat diaplikasikan, bukan sekadar dihafal mati.

Melalui program “Sekolah di Udara”, Radio Heartline FM100.6 Tangerang beserta jaringannya siap menjadi fasilitator lembaga pendidikan dimanapun berada untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Bertepatan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional (2 Mei) dan Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei), Radio Heartline FM100.6 Tangerang siap mewujudkan salah satu pesan Ki Hajar Dewantara: “Jadikanlah setiap tempat sebagai sekolah” Karena belajar itu bisa dimana saja, kapan saja, dan melalui apa saja…

Sekolah di Udara” mendekatkan yang tak terjangkau, kala tiada akses internet, nyaris tanpa batas… (karena, jujur, bila akses listrik tak ada, maka program ini tak dapat didengar… maaf).


Current track

Title

Artist