Senyum di Pintu Elok

Written by on June 26, 2020

Tahukah Anda berapa harga sebuah senyuman? Berapa nilai tukar sebuah kegembiraan? Tidak terhingga! Senyuman dan Kegembiraan punya nilai yang jauh lebih besar daripada materi. Mereka yang bisa tersenyum dan bergembira adalah orang-orang yang sesungguhnya kaya sebab mereka punya sesuatu yang tidak bisa diukur oleh dunia ini. Sebuah pepatah menuturkan, “You are not rich, until you have something that money can’t buy.” Itulah mengapa orang berpendapat, membuat orang lain tersenyum dan bergembira adalah sebuah ibadah, sebuah perbuatan baik, sebuah kesalehan karena tindakan tersebut membuat seseorang melampui ukuran duniawi.

Ada hal  yang paling membahagiakan diantara perilaku kita untuk membuat seseorang tersenyum, yakni membuat seorang anak kecil bisa tersenyum, tertawa dan bergembira. Siapapun akan meleleh hatinya saat melihat seorang anak tersenyum lebar atau tertawa lepas. Salah satu penulis mengatakan, “The most beautiful thing in the world is a child’s smile. The next best thing? Knowing that you are the reason behind it.” Saat Anda membuat seorang anak tersenyum, Anda sedang menciptakan surga di muka bumi ini. Saat konflik terjadi di Filiphina selatan, ada satu kelompok koor anak-anak yang menyanyi dari satu desa ke desa lain, mereka membagikan senyum dan kegembiraan mereka kepada orang-orang dewasa yang dipenuhi nafsu membunuh. Dan desa-desa yang mereka kunjungi itu berubah. Menjadi lebih damai, layaknya surga.

Dari senyuman anak-anak itu, ternyata ada satu senyuman yang begitu indah yang pernah ada di muka bumi ini, yakni senyuman anak-anak yatim piatu. Para penulis novel-novel yang bertema anak yatim, seperti Oliver Twist, Heidi, Cosette (Les Miserables), Peter Pan dan lain-lain senantiasa menggambarkan anak yatim sebagai anak yang telah kehilangan segala-galanya. Seorang penulis, Svetlana Alexievich menuturkan, “For a child, the loss of a parent is the loss of memory itself.” Memori adalah aset dalam hidup seseorang, sebab hidup ini adalah sebuah tumpukan ingatan. Saat aset itu hilang, maka ia bisa dikatakan, kehilangan sebagian besar hidupnya. Anda mungkin ingat lagu Nobody’s Child yang dipopulerkan oleh Karen Young pada tahun 1969. Lagu ini menceritakan tentang seorang anak tuna netra di panti asuhan. Anak ini merasa kehilangan segala-galanya karena tidak jelas siapa orang tuanya. Dia tumbuh besar tanpa ayah maupun ibu. Begitu putus asa, hingga anak ini mengatakan ingin mati saja karena nanti di surga dia merasa akan bahagia.

Bakti-Indonesia

Siang itu, Arif (17 tahun) bersama dengan teman-temannya dan adik-adiknya yang berjumlah sekitar 70 orang, tak henti tersenyum dan tertawa menyaksikan kebanyolan dan kelucuan sosok Badut yang mengibur mereka selama hampir 1 jam. Ada yang berbeda memang di siang itu, di Panti Asuhan Pintu Elok, yang berlokasi di Jalan Benda Barat 6, Pamulang, Tangerang Selatan. Panti ini nampak ramai. Anak-anak berkumpul di sebuah aula terbuka. Beberapa diantaranya memainkan peralatan musik, seperti drum, keyboard dan gitar. Diantara mereka ada yang menyanyi. Anak-anak bertepuk tangan dan terlibat dalam permainan. Tangan mereka teracung saat Om Badut menanyakan sesuatu karena ada hadiah di balik pertanyaan itu. Tidak ada yang tidak senang. Mereka semua tersenyum.

Kami sudah beberapa bulan ini di-lockdown karena pandemi Covid-19. Jadi senang sekali ada yang datang ke Panti dan membuat acara, “ ujar Arif dengan mata berbinar. “Kami sudah lama tak dikunjungi tamu.

Siang itu, para pengusaha dan aktivitis masyarakat yang tergabung dalam gerakan #Bakti-Indonesia memang mengunjungi Panti Asuhan yang didirikan sejak 1989 itu. Mereka tergabung dalam Mercantile Atlethic Club (MAC). Sejak April 2020, Gerakan #Bakti-Indonesia memang sudah melakukan aksi sosial dengan turun langsung membagikan makanan paket bantuan berupa Alat Pelindung Diri (APD) dan makanan bergizi bagi tenaga medis di rumah sakit, paket sembako berisi beras, minyak goreng, sarden, minuman herbal, mi instan, gula, dan masker sebanyak lebih dari 10.000 paket. Semua ini disalurkan di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Selain itu, beberapa yayasan sosial dan keagamaan di luar DKI, seperti di Sumatra Barat dan di Jawa Tengah, juga telah menerima bantuan melalui #Bakti-Indonesia. Mereka juga menggandeng McDonald dan Teh Botol Sosro untuk mendistribusikan makanan dan minuman ke berbagai panti asuhan dari tanggal 22 sampai dengan 27 Juni 2020. Termasuk siang itu, mereka mengunjungi Panti Asuhan Pintu Elok, di daerah Pamulang, Tangerang Selatan.

Kita semangat sekali kalau ada yang datang,” tutur Arif yang sekarang sudah mendapatkan beasiswa di sebuah kampus ternama di daerah Tangerang. “Walaupun mereka datang dan bikin acara saja, kami sudah sangat senang, meskipun mereka tidak membawa apa-apa. Aku percaya, semua yang datang ke sini ada rencana dari Tuhan.

Buah Pandemi adalah Empati

Wibisono Sidiadinoto, salah satu penggerak #Bakti-Indonesia yang sehari-hari menjabat sebagai Direktur Utama Jakarta Land Management begitu terkesan melihat kegembiraan anak-anak.

Saya merasa sangat trenyuh. Mereka dari umur 4 bulan sampai 17 tahun diadopsi di sini. Mereka dititipkan, ada yang yatim, ada yang yatim piatu. Tapi keistimewaannya, anak-anak ini tidak boleh adopsi. Masyarakat hanya bisa mensponsori mereka untuk hidup dan sekolah.” Tutur Wibisono. Informasi bahwa anak-anak ini tidak boleh diadopsi, dibenarkan oleh Pimpinan Harian Panti Asuhan Pintu Elok, Ibu Wishe. “Iya, benar. Tidak boleh diadopsi, hanya bisa disponsori. Sebab anak-anak ini sudah dipercayakan oleh Tuhan kepada kami.

Pandemi membuahkan empati! Itulah yang dilakukan #Bakti-Indonesia sejauh ini, menebar empati dan menggerakkan solidaritas untuk menolong orang-orang yang membutuhkan bantuan. “Di masa yang sangat sulit seperti saat ini, ada orang yang care dengan mereka yang kesulitan, termasuk kepada anak-anak panti. Kami dari #Bakti-Indonesia ingin agar anak-anak ini tetap memiliki Iman, Pengharapan dan Kasih. Terutama mereka tidak putus asa dan tetap bersemangat. Kami merasa hanya dengan solidaritas kita bisa mengalahkan pandemi ini.” Tutur Wibisono.
Saat acara selesai, anak-anak dari Panti Asuhan Pintu Elok ini memainkan secara kolosal alat musik angklung. Mereka mendendangkan secara instrumentalik sebuah lagu lawas “I Have A Dream.” Lirik lagu ini sesungguhnya menggetarkan hati, seolah-olah mewakili perasaan anak-anak di panti ini, dimana walaupun terbatas mereka punya mimpi. “I have a dream, a song to sing. To help me cope with anything…I believe in angels, something good in everything I see. I believe in angels when I know the time is right for me…..I have a dream, a fantasy. To help me through reality….

Empati Anda membangkitkan kembali kobaran kepercayaan diri di dada anak-anak ini, keberanian untuk bermimpi. Mimpi bahwa kehidupan mereka akan berubah. Mimpi bahwa segala sesuatunya akan menjadi lebih baik lagi. (JM)

 

 


Current track

Title

Artist