Survei WVI: 76% Guru Khawatir dan Ragu Melakukan KBM Tatap Muka

Written by on November 24, 2020

Pandemi COVID-19 menyebabkan berbagai gangguan dalam kinerja guru dan tenaga kependidikan (GTK) yang berbeda bagi masing-masing daerah maupun jenis satuan pendidikan sehingga berisiko memperbesar kesenjangan kualitas pendidikan, terutama di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta Sekolah Luar Biasa (SLB).

Dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional pada 25 November, WahanaVisi Indonesia (WVI) bersama Kementerian Pendidikan Kebudayaan (Kemendikbud) mengadakan web seminar via zoom (20/11/20) yang menghadirkan para guru dari daerah 3T dan guru pendidikan khusus. Hal ini bertujuan mengungkapkan tentang kondisi, hambatan dan tantangan yang sedang dihadapi, hingga harapan mereka terkait kegiatan pembelajaran di masa pandemi.

Wahana Visi Indonesia telah melakukan sebuah penelitian yang berjudul “Survei Suara Guru di Masa Pandemi COVID-19” bersama Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (GTK Dikmen Diksus) di bawah Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) serta didukung oleh PREDIKT.

Berdasarkan hasil survei (27.046 responden dari 34 provinsi di Indonesia) tersebut, sebanyak 76% guru yang menyatakan bahwa mereka masih khawatir dan ragu untuk kembali ke sekolah dan melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM) secara tatap muka. Namun saat ini, beberapa sekolah dari daerah 3T sudah memulai KBM tatap muka secara bergiliran, setiap hari dibatasi hanya dua kelas yang masuk sekolah.

Henvilli Marto Iwan Jehabu, guru SDN Wejang Nendong di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur mengatakan, pembelajaran tatap muka ini masih belum maksimal karena semua pihak merasa khawatir dengan aspek kesehatan.

Yang dibutuhkan saat ini adalah alat pelindung diri seperti masker, hand sanitizer, fasilitas cuci tangan, juga vitamin untuk anak-anak untuk membantu daya tahan tubuh mereka,” ujar Henvili.

Tantangan dan Hambatan Mengajar

Sebesar 62% guru menyatakan bahwa mereka sangat membutuhkan pelatihan digital tingkat lanjut ,sedangkan 35% guru menyatakan masih membutuhkan keterampilan pelatihan digital dasar. Menanggapi keterbatasan perangkat digital dan jaringan internet, guru di daerah 3T lebih banyak melakukan pembelajaran jarak jauh dengan metode luring, serta kombinasi antara luring dan daring.

Mariana Nineng, Kepala Sekolah SDN Jelimpo 9 di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat bercerita, banyak kendala yang dihadapi saat mendatangi anak-anak di rumah mereka yang terkadang saat dikunjungi malah tidak ada di rumah.

Kami mohon pemerintah memperhatikan kesulitan-kesulitan kami seperti, kalau guru mengunjungi anak, kadang motor macet di jalan, kadang harus berjalan kaki, kalau hujan harus memakai payung. Kami mohon perhatian di sini, bagaiman acaranya, supaya ada jalan keluarnya pada masa pandemi ini. Guru juga susah mendapatkan informasi karena jaringan di sini kadang datang kadang hilang, tergantung cuaca. Kalau mati lampu, internet macet, seperti itu. Jadi, kami ingin dibantu juga. Bagaimana pemerintah harus memperhatikan hal ini kepada guru-guru agar informasi darimanapun, dari Dinas Pendidikan, dari pemerintah bisa kami terima untuk mengembangkan bagaimana guru ini bisa berbuat di sekolah, semaksimal mungkin untuk memberikan pelajaran kepada anak-anak dengan informasi yang ada,” ujar Mariana.

Tantangan berbeda dialami oleh guru pendidikan khusus yang mengajar anak-anak berkebutuhan khusus. Lusia Hurint, guru SLB Kotaraja, Kupang, NTT mengatakan, sampai saat ini SLB masih belum melakukan KBM tatap muka. Para guru mengkhawatirkan kondisi kesehatan anak-anak berkebutuhan khusus yang rentan terpapar virus. Oleh karena itu, KBM tetap dilakukan secara daring dengan materi ajar yang dibagikan kepada orangtua dalam waktu tertentu.

Kendala kami guru-guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), kami tidak bisa memberikan pembelajaran secara optimal kepada anak-anak kami. Bahkan, penilaian perkembangan anak-anak pun tidak bisa kami berikan secara objektif,” kata Happy Christina, Tutor PAUD Baluse Terpadu KabupatenNias Selatan.

Kepala Dinas Pendidikan, Perpustakaan dan Arsip Daerah Papua, Christian Sohilait menyebutkan, hanya 34% siswa di papua yang bisa efektif melakukan pembelajaran secara daring dan sebanyak 66% sisanya luring.

Permasalahan dan Kekhawatiran Guru

Menurut hasil survei WVI, permasalahan dan kekhawatiran guru selama pandemi mencakup tiga aspek. Pertama, aspek pelaksanaan kebijakan pendidikan selama masa pandemi. Hal ini meliputi, masalah kepemilikan gawai, kuota, jaringan internet, dan kapasitas teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Kendala geografis kunjungan guru kerumah dan pengambilan tugas, terutama di daerah 3T dan berisikotinggi COVID-19. Rumah tidak nyaman untuk kegiatan belajar mengajar (KBM), orang tua sulit mendampingi belajar di rumah (BdR). Pendidikan khusus daring sulit, namun risiko anak penyandang disabilitas atau anak berkebutuhan khusus (ABK) tinggi saat PTM, sehingga SLB tidak bisa mengikuti kurikulum.

Kedua, aspek tunjangan, sertifikasi, dan pra-jabatan yang meliputi, iuran untuk gaji guru honorer di sekolah swasta terdampak sulitnya perekonomian orang tua peserta didik dan terpaksa menggunakan dana BOS dan berjualan untuk menambah gaji guru. Kemudian, tunjangan sertifikasi tidak merata, terlambat atau berkurang.

Ketiga, aspek kepemimpinan pendidikan, yaitu sistem komando terlalu birokratis dan kurang jelas sehingga Dinas Pendidikan dan Kepala Sekolah cenderung menunggu instruksi atau belum berani mengambil keputusan strategis mandiri di saat kritis. Lalu, pelaksanaan panduan pengawasan sekolah kekurangan dana. Terakhir, Kepemimpinan kurang luwes karena pembelajaran jarak jauh (PJJ) hal baru, terutama bagi anak penyandang disabilitas.

Education Team Leader WVI Mega Indrawati mengatakan, untuk mencari jalan keluar dari dampak pandemi COVID-19 pada sektor pendidikan dan kesehatan perlu melibatkan berbagai pihak. Guru yang merupakan garda terdepan untuk memfasilitasi penyelenggaraan di sekolah juga perlu diberikan kesempatan untuk menyuarakan pendapat, ide, harapan dan kebutuhannya, baik saat Belajar dari Rumah (BdR) maupun Adaptasi Kebiasaan Baru ketika sekolah dibuka kembali.

Kemendikbud telah mengeluarkan kebijakan terkait dana BOS di masa kedaruratan COVID-19 yang dapat digunakan untuk mendukung kesiapan satuan pendidikan, termasuk akomodasi pembelian alat pelindung diri seperti masker, hand sanitizer, dan alat kesehatan seperti termometer tembak.

Mengenai kebijakan pembelajaran tatap muka, pemerintah telah mengeluarkan panduan bagi pemerintah daerah dan sekolah untuk pembukaan sekolah dengan menyesuaikan zona COVID-19 dan daftar periksa kesiapan sekolah. Keselamatan siswa dan guru harus tetap menjadi prioritas utama, ungkap Dr. Praptono, Direktur Pendidikan Profesi dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (jul)


Current track

Title

Artist