The Lion King: A Life Lesson!

Written by on July 22, 2019

Oh yes, the past can hurt.

But from the way I see it,

you can either run from it, or learn from it.

 

Simba, singa kecil itu, tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Matanya menatap kosong saat Ayahnya, Mufasa, tiba-tiba terjungkal dari tebing dan diseruduk hingga mati oleh segerombolan binatang yang lari ketakutan. Dalam kebingungan, sang Paman kerabat terdekat yang sekaligus menjadi aktor intelektual kematian sang Ayah, datang menghampirinya. Bukannya memberi pertolongan tetapi Sang Paman yang berambisi menjadi raja itu justru menanamkan satu benih mematikan ke dalam pikiran Simba melalui kata-kata yang ia manipulasi:

 “Simba, kamu yang membunuh ayahmu! Kamu pembunuh! Anak seperti apa kamu ini? Kamu gak layak dianggap anak Sang Raja Singa yang begitu kami hormati. Tahu gak, ayahmu sudah memberimu banyak kesempatan, tetapi apa yang kamu perbuat? Kamu anak yang tidak tahu diri! Kamu gak berharga! Kamu anak gak berguna!”

Simba, Putra Mahkota Raja Singa, yang sebelumnya pemberani, percaya diri, dan punya cita-cita ingin segera menjadi raja, saat mendengar kata-kata Sang Paman, harga diri dan kepercayaannya hancur luluh-lantak. Gambaran dirinya terkoyak! Potret kejiwaannya menjadi buram dan hitam. Ia linglung dan terhuyung-huyung. Simba bertanya kepada pamannya, “Lantas apa yang harus aku perbuat sekarang?” Pamannya dengan licik menjawab, “Lari, pergi jauh, dan jangan pernah kembali lagi ke sini!”

Banyak orang baru menyadari kalau kehidupannya selama ini diprogram oleh orang lain (biasanya kerabat dekat) yang pernah ia temui di masa lalu, mungkin sewaktu dirinya masih kecil. Mereka dengan sengaja atau tidak memasukkan kata-kata penghancur ke benak kita! Kata-kata busuk itu tumbuh, mengakar dan berbuah. Kata-kata itulah yang membunuh seseorang dengan pelan-pelan dari dalam. Di kepala kita, kata-kata itu seperti mantra setiap kali sebuah kesempatan dan peristiwa berlalu, sebab kata-kata itu terekam hingga saat ini, yang nadanya berbunyi, “Aku tidak layak! Aku orang yang malang! Aku orang yang penuh penderitaan! Ini semua salahku! Aku selalu gagal.” Tahukah Anda bahwa daya rusak kata-kata ini seperti bom yang menghancurkan gambar diri seseorang?

Simba akhirnya tumbuh dengan potret dan gambar diri yang salah. Ia menyimpan luka-luka batinnya di tempat terdalam, di batinnya. Sampai suatu hari seekor kera bertanya, “Siapakah kamu?” Simba lantas diajak bercermin ke sebuah danau dan menemukan gambar diri yang sejati: bahwa ia adalah Anak Raja Singa, bukan sekedar singa biasa-biasa saja, dan bahwa ayahnya masih hidup dan ada di dalam dirinya.  

Bukankah demikian juga dengan hidup Anda! Sejak kecil Anda mungkin tumbuh dengan gambar diri yang salah karena kata-kata busuk dari orang tua Anda dan diperkuat oleh pandangan sinis lingkungan di sekitar Anda, yang akhirnya meyakinkan Anda bahwa memang benar itulah saya. “Saya yang tidak berguna. Saya yang tidak berharga. Saya yang pasti gagal.” Siapakah Anda? Bukankah Anda adalah karya agung Tuhan yang diciptakan dengan sangat unik dan otentik tiada duanya. Tuhan menciptakan Anda dengan sungguh amat baik. Tuhan mencintai Anda tanpa pamrih apapun kondisinya saat ini.

Sekarang, keluarkan semua nyanyian-nyanyian dalam kaset rekaman masa lalu yang ditanam orang-orang dalam pikiran Anda. Ganti dengan rekaman baru, nyanyian baru, refren baru, syair-syair baru yang mengidungkan rasa syukur atas kebaikan Tuhan. Bercerminlah dan temukanlah bahwa Anda adalah anak Tuhan dan Tuhan hidup di dalam diri Anda. “Remember who you are,” Kata Mufasa, The Lion King! (JM)


Heartline Tangerang

100.6 FM

Current track
TITLE
ARTIST