Pendidikan Anak Dimulai dari Rumah, Orang Tua Diminta Bangun Relasi di Tengah Tantangan Digital
Radio Tangerang Heartline FM — Mendidik anak bukan sekadar memastikan mereka memiliki prestasi akademik atau mampu mengikuti perkembangan zaman. Lebih dari itu, pendidikan sejak usia dini menjadi fondasi dalam membentuk karakter, nilai, serta hubungan anak dengan keluarga dan lingkungannya.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam program talkshow Bersama founder Sekolah Athalia, Charlotte K. Priatna. Dalam perbincangan tersebut, Charlotte menekankan pentingnya prinsip “right from the start”, yakni membangun pendidikan anak dengan dasar dan cara yang benar sejak awal.
Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada hasil akhir. Orang tua dan pendidik perlu memahami tujuan pendidikan serta nilai yang hendak ditanamkan kepada anak.
Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Pengetahuan
Charlotte menjelaskan, dalam perspektif pendidikan Kristen, anak dipandang sebagai pribadi yang dipercayakan Tuhan kepada orang tua dan guru. Karena itu, proses pendidikan semestinya tidak hanya mengikuti keinginan orang tua, tetapi juga mempertimbangkan tujuan dan nilai yang hendak dibangun dalam kehidupan anak.
Ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi membuat anak semakin mudah mendapatkan informasi. Pengetahuan dapat diperoleh dari berbagai sumber, termasuk internet, YouTube hingga kecerdasan buatan (AI).
Namun, kemudahan memperoleh informasi tidak otomatis menggantikan peran manusia dalam mendidik anak.
Menurut Charlotte, kekuatan pendidikan justru terletak pada relasi antara guru dan murid serta orang tua dan anak. Hubungan tersebut memungkinkan adanya empati, perhatian, dorongan, dan sentuhan emosional yang tidak dapat sepenuhnya diberikan oleh teknologi.
“Kalau hanya transfer knowledge, ilmu bisa didapat dari AI, dari YouTube, dari mana-mana. Tetapi relasi ketika dia mendapat empati dari gurunya, ketika dia bisa di-encourage oleh gurunya, AI tidak bisa melakukan itu,” jelas Charlotte.
Tantangan Parenting di Era Digital
Perubahan teknologi juga membuat tantangan orang tua semakin kompleks. Jika dahulu pengaruh terhadap anak lebih mudah diamati melalui lingkungan pertemanan secara langsung, kini anak dapat berinteraksi dengan banyak orang melalui ruang digital tanpa sepenuhnya diketahui orang tua.
Anak dapat berkomunikasi, bermain, mencari informasi hingga membangun hubungan melalui perangkat digital. Kondisi tersebut membuat orang tua perlu meningkatkan perhatian dan pendampingan.
Charlotte menilai, ketergantungan terhadap teknologi juga berpotensi membuat anak semakin jauh dari relasi nyata. Gadget dapat memberikan hiburan, pengakuan, bahkan rasa diterima yang membuat anak merasa nyaman.
Di sisi lain, hubungan digital belum tentu menghasilkan relasi yang autentik.
Fenomena tersebut terlihat dari banyaknya orang yang memiliki banyak pengikut di media sosial, tetapi tetap merasa kesepian ketika menghadapi persoalan nyata dalam kehidupan.
Karena itu, keluarga perlu kembali membangun relasi yang nyata melalui komunikasi, kehadiran dan kebersamaan.
Orang Tua dan Sekolah Harus Berjalan Seirama
Charlotte juga menekankan pentingnya kerja sama antara keluarga dan sekolah dalam mendidik anak.
Menurutnya, pendidikan tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada sekolah. Begitu pula sekolah tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan orang tua.
Keduanya harus menjadi mitra yang memiliki visi yang sejalan.
“Jangan sampai orang tua ke kanan, guru ke kiri. Itu berarti enggak akan bisa jalan lurus ke depan,” ujarnya.
Kerja sama tersebut menjadi semakin penting ketika anak menghadapi berbagai pengaruh dari lingkungan sosial, termasuk lingkungan digital yang sulit sepenuhnya dikontrol.
Orang tua perlu memahami siapa saja yang berinteraksi dengan anak, nilai apa yang diterima anak, serta bagaimana anak merespons berbagai pengaruh tersebut.
Keluarga Perlu Memiliki Visi
Selain membangun relasi, keluarga juga perlu memiliki visi dalam mendidik anak.
Charlotte mengibaratkan keluarga seperti sebuah organisasi yang membutuhkan arah dan tujuan. Suami dan istri perlu memiliki kesepahaman mengenai nilai apa yang ingin ditanamkan dan pribadi seperti apa yang hendak dibentuk dalam diri anak.
Visi keluarga tersebut tidak harus selalu dituangkan dalam bentuk dokumen formal. Namun, prinsip dan tujuan pendidikan anak perlu dibicarakan bersama agar orang tua memiliki arah yang sama.
Dengan adanya visi, proses mendidik anak tidak sekadar berjalan dari hari ke hari, tetapi memiliki tujuan yang jelas.
Tidak Ada Kata Terlambat dalam Parenting
Dalam sesi interaktif, seorang pendengar mengisahkan anak perempuannya yang masih duduk di bangku SMP tetapi mulai terlibat dalam pergaulan yang dianggap mengkhawatirkan, jarang pulang dan mulai menjauh dari keluarga.
Menanggapi hal tersebut, Charlotte menegaskan bahwa dalam parenting tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki hubungan dengan anak.
Ia mengajak orang tua untuk tidak hanya berfokus pada kesalahan anak, tetapi terlebih dahulu berusaha memenangkan kembali hati anak.
Orang tua perlu memastikan bahwa rumah tetap menjadi tempat yang aman bagi anak untuk kembali.
Ia mengaitkan hal tersebut dengan kisah anak yang hilang dalam Alkitab. Sang ayah tetap menunggu kepulangan anaknya dan menyambutnya ketika ia kembali.
Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa kasih orang tua seharusnya tidak bergantung pada prestasi, perilaku, ataupun kondisi anak.
“Jadi saat ini sudah bukan lagi menggembalakan hatinya, tetapi memenangkan hatinya,” kata Charlotte.
Disiplin Bukan Berarti Kekerasan
Pembahasan lain yang muncul adalah mengenai disiplin anak. Charlotte membedakan antara ketegasan dan kekerasan.
Menurutnya, orang tua tetap perlu memiliki aturan dan batasan yang jelas. Namun, penerapannya tidak harus dilakukan dengan bentakan, ancaman atau tindakan keras.
Ketegasan justru dapat dilakukan dengan kelembutan sekaligus konsistensi.
Ia juga mengingatkan orang tua untuk membedakan antara mengasihi dan mengasihani anak. Mengasihi berarti memenuhi kebutuhan anak, bukan selalu memenuhi seluruh keinginannya.
Kebutuhan akan kasih sayang, rasa aman, perhatian dan penghargaan perlu dipenuhi. Sementara itu, keinginan anak tidak selalu harus dikabulkan.
Anak juga perlu belajar menghadapi kekecewaan agar memiliki kemampuan untuk menghadapi realitas kehidupan.
Ketika Anak Mulai Jatuh Cinta
Memasuki masa remaja, ketertarikan terhadap lawan jenis merupakan bagian dari perkembangan anak. Charlotte mengingatkan orang tua agar tidak langsung melarang atau memusuhi perasaan tersebut.
Sebaliknya, orang tua dapat menggunakan momentum itu untuk membangun komunikasi.
Anak dapat diarahkan untuk mengenal seseorang bukan hanya dari sisi baiknya, tetapi juga memahami karakter, kelemahan dan cara orang tersebut memperlakukan orang lain.
Dengan demikian, anak belajar bahwa cinta bukan hanya mengenai ketertarikan terhadap kelebihan seseorang, tetapi juga tentang kemampuan menerima pribadi secara utuh dan bertanggung jawab.
Menanam Nilai Sejak Awal
Pada akhirnya, pendidikan anak merupakan proses panjang. Apa yang ditanamkan orang tua pada masa awal kehidupan anak dapat menjadi bekal ketika mereka menghadapi berbagai tantangan di kemudian hari.
Charlotte mengingatkan, perjalanan anak tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada kemungkinan anak mengalami masa sulit, mengambil keputusan yang salah atau bahkan menyimpang dari nilai yang telah diajarkan.
Namun, fondasi yang telah dibangun sejak awal tetap dapat menjadi pengingat bagi anak untuk kembali kepada nilai-nilai yang pernah ditanamkan.
Karena itu, orang tua tidak perlu menyerah ketika menghadapi persoalan dalam parenting. Yang terpenting adalah terus membangun relasi, hadir bagi anak, memberikan kasih yang benar, serta menanamkan nilai sejak awal.
Sebab pendidikan yang baik bukan hanya tentang bagaimana membuat anak menjadi pintar, tetapi bagaimana membentuk pribadi yang memiliki arah, karakter dan kemampuan membangun relasi yang sehat di tengah perubahan zaman.
Foto : Ilustrasi (pexels)
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
