Brigade Manguni Peduli: Merawat Kebersamaan, Toleransi, dan Kepedulian di Tanah Perantauan
Radio Tangerang Heartline FM – Masa transisi anak bukan hanya tentang perubahan usia dan lingkungan, tetapi juga perubahan hubungan antara anak dan orang tua. Pada fase ini, orang tua perlu belajar melepaskan kontrol tanpa meninggalkan anak.
Setiap orang tua tentu memiliki naluri untuk melindungi anak. Ketika anak masih kecil, hampir seluruh aktivitasnya berada dalam pengawasan orang tua. Contohnya : mulai dari bangun tidur, makan, belajar, bermain hingga menentukan berbagai keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, ketika anak mulai memasuki masa transisi—dari TK ke SD, SD ke SMP, SMP ke SMA, hingga SMA ke perguruan tinggi—pola pengasuhan yang sama tidak selalu bisa diterapkan.
Dalam program Parenting with Heart pada sabtu (29/08), Zipora Tri Wardani menjelaskan bahwa masa transisi sering kali menjadi fase yang cukup menantang karena orang tua mulai merasa kehilangan kendali, sementara anak mulai membutuhkan ruang, kepercayaan, dan kemandirian.
Orang Tua Merasa Kehilangan, Anak Merasa Dikendalikan
Ketika anak masih kecil, orang tua terbiasa mengatur dan mengingatkan berbagai hal. Tetapi ketika anak bertumbuh menjadi remaja dan dewasa muda, kebutuhan mereka mulai berubah.
Anak mulai ingin memiliki privasi, mengambil keputusan sendiri, menghabiskan lebih banyak waktu bersama teman, dan tidak selalu menceritakan semua hal kepada orang tua.
Di sisi lain, orang tua justru dapat mengalami kecemasan. Situasi tersebut kemudian menciptakan kesenjangan. Orang tua merasa sedang memastikan keamanan dan kenyamanan anak, sedangkan anak dapat merasakan tindakan tersebut sebagai bentuk kontrol dan kurangnya kepercayaan.
Menurut Ibu Zipora, kedua pihak sebenarnya memiliki alasan yang dapat dipahami. Anak membutuhkan ruang untuk membuktikan bahwa dirinya mampu mandiri, sementara orang tua masih melihat kebiasaan lama anak dan merasa belum siap sepenuhnya untuk melepaskan kontrol.
“Melepas Tanpa Meninggalkan”
Salah satu konsep penting dalam parenting di masa transisi adalah control withdrawal, yang dapat dimaknai sebagai “melepas tanpa meninggalkan.” Melepas bukan berarti membiarkan anak begitu saja. Orang tua tetap hadir secara emosional dan tetap siap memberikan dukungan ketika dibutuhkan.
Perbedaannya adalah bentuk kontrol berubah. Jika sebelumnya orang tua menggunakan kontrol penuh, maka dalam masa transisi kontrol perlu bergeser menjadi kontrol berbasis relasi. Orang tua tidak lagi harus mengatur setiap detail kehidupan anak, tetapi membangun hubungan yang membuat anak merasa aman untuk bercerita, bertanya, dan meminta bantuan. Dengan demikian, orang tua tidak kehilangan peran. Justru perannya berkembang menjadi lebih relevan.
Perubahan terbesar dalam parenting masa transisi adalah perubahan posisi orang tua: dari pengendali menjadi pendamping. Orang tua tetap memiliki otoritas, tetapi otoritas tersebut tidak lagi terutama dibangun melalui kuasa. Otoritas hadir melalui kepercayaan, konsistensi nilai, dan kemampuan menjadi tempat rujukan yang aman bagi anak.
Anak perlu tahu bahwa orang tua tetap memiliki batasan dan aturan, tetapi aturan tersebut tidak menjadikan rumah sebagai tempat yang penuh tekanan. Ketika relasi dibangun dengan baik, anak akan lebih mungkin terbuka kepada orang tua mengenai apa yang sedang dialaminya.
Dengarkan Anak, Jangan Selalu Cepat Memberi Nasihat
Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam komunikasi orang tua dan anak adalah orang tua terlalu cepat memberikan solusi. Ketika anak bercerita, orang tua langsung memotong, memberikan nasihat, atau mengatakan apa yang seharusnya dilakukan. Padahal, terkadang anak hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.
Anak perlu merasakan bahwa orang tuanya adalah tempat yang aman untuk bercerita tanpa langsung dihakimi. Ketika anak merasa didengar dan dihargai, kepercayaan dalam hubungan pun dapat tumbuh. Karena itu, komunikasi di masa transisi perlu bergeser dari instruksi menjadi dialog.
Bukan hanya mengatakan:
“Kamu harus begini.”
Tetapi mulai bertanya:
“Menurut kamu bagaimana?”
atau
“Apa yang sebenarnya kamu rasakan?”
Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat membuka ruang komunikasi yang jauh lebih sehat.
Privasi Anak Bukan Berarti Anak Menjauh
Ketika memasuki masa remaja, kebutuhan anak terhadap privasi semakin besar. Mereka mungkin ingin memiliki ruang sendiri, lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman, atau tidak selalu ingin didampingi orang tua. Hal tersebut tidak selalu berarti anak sudah tidak menyayangi orang tuanya.
Perubahan tersebut merupakan bagian dari proses perkembangan menuju kemandirian. Masalah dapat muncul ketika orang tua menafsirkan kebutuhan privasi sebagai bentuk penolakan. Akibatnya, orang tua justru meningkatkan kontrol.
Semakin orang tua mengontrol, anak semakin menarik diri. Ketika anak semakin diam, kecemasan orang tua meningkat dan kontrol pun kembali diperketat. Siklus tersebut dapat membuat hubungan semakin jauh.
Batasan Tetap Diperlukan
Melepaskan kontrol bukan berarti menghilangkan batasan. Anak tetap membutuhkan aturan, terutama berkaitan dengan keamanan dan tanggung jawab. Namun, cara menyampaikan batasan menjadi sangat penting.
Misalnya, daripada terus-menerus bertanya, “Kamu di mana?” atau “Kapan pulang?”, orang tua dapat membuat kesepakatan bersama. Anak diberikan ruang untuk beraktivitas, tetapi tetap memiliki tanggung jawab untuk memberi kabar apabila pulang terlambat. Dengan cara tersebut, anak belajar bertanggung jawab sementara orang tua tetap mendapatkan rasa aman.
Perbedaan pandangan antara orang tua dan anak hampir tidak dapat dihindari, terutama ketika anak semakin dewasa. Orang tua tumbuh pada zaman yang berbeda. Anak menghadapi lingkungan sosial, teknologi, dan tantangan yang berbeda pula. Untuk itu, orang tua perlu belajar memisahkan antara ketidaksetujuan terhadap suatu keputusan dengan penerimaan terhadap anak sebagai pribadi.
Orang tua boleh mengatakan tidak setuju. Orang tua juga boleh memberikan batasan. Tetapi ketidaksetujuan tersebut tidak harus disampaikan dengan menghakimi atau memutuskan hubungan. Batas yang jelas justru dapat membuat anak merasa aman apabila disampaikan dengan tenang dan penuh penghargaan.
Hadapi Emosi Anak dengan Memahami, Bukan Membungkam
Masa transisi juga identik dengan perubahan emosi. Anak remaja dapat lebih mudah marah, frustrasi, atau menunjukkan emosi yang intens. Dalam kondisi tersebut, orang tua tidak harus langsung memaksa anak untuk berhenti marah. Yang dapat dilakukan adalah memberi ruang hingga emosinya lebih tenang, kemudian mengajaknya berbicara.
Orang tua dapat membantu anak mengenali bahwa di balik kemarahan mungkin terdapat emosi lain, seperti kecewa, sedih, frustrasi, malu, atau merasa ditinggalkan. Dengan mengenali dan memberi nama pada emosi, anak dapat belajar memahami dirinya sendiri.
Ibu Zipora juga memperkenalkan konsep 2A dan 2C, yaitu:
- Awareness – menyadari apa yang sedang dirasakan.
- Acceptance – menerima perasaan dan situasi yang sedang dihadapi.
- Chance – memiliki kesempatan untuk memperbaiki.
- Choice – memiliki pilihan untuk menentukan langkah berikutnya.
Dengan pendekatan ini, anak tidak hanya belajar mengendalikan emosi, tetapi juga belajar bertanggung jawab terhadap emosinya.
Orang Tua Juga Perlu Beradaptasi
Parenting masa transisi sebenarnya bukan hanya proses anak belajar menjadi dewasa. Orang tua juga sedang menjalani proses transisi. Orang tua perlu belajar menerima bahwa anak yang dahulu selalu membutuhkan bantuan kini mulai mampu mengambil keputusan sendiri.
Rasa khawatir, kehilangan kontrol, bahkan rasa sepi yang muncul ketika anak mulai mandiri adalah hal yang dapat terjadi. Namun, perasaan tersebut perlu dikelola agar tidak berubah menjadi kontrol berlebihan. Orang tua tidak harus kehilangan hubungan dengan anak ketika melepaskan kontrol. Sebaliknya, hubungan dapat menjadi lebih dewasa karena dibangun berdasarkan kepercayaan dan komunikasi.
Pada akhirnya, masa transisi adalah kesempatan bagi orang tua untuk membangun bentuk hubungan baru dengan anak. Bukan lagi hubungan antara orang yang selalu mengatur dan orang yang selalu mengikuti, tetapi hubungan antara orang tua yang menjadi pendamping dan anak yang sedang belajar bertanggung jawab atas kehidupannya.
Seperti pesan utama dalam pembahasan ini, yang terpenting di masa transisi adalah membangun relasi, bukan meretakkan relasi. Anak sedang belajar beradaptasi dengan perubahan fisik, emosional, lingkungan, dan tanggung jawab. Orang tua pun perlu belajar berubah secara emosional—dari pengendali menjadi pendamping. Karena pada akhirnya, melepaskan bukan berarti berhenti mencintai.
Melepaskan berarti memberikan ruang agar anak bertumbuh, sambil memastikan bahwa ketika mereka membutuhkan tempat untuk pulang, orang tua tetap ada.
Sumber: Video Parenting with Heart
Foto: Ilustrasi (Pexels)
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
