Indonesia Dinilai Bisa Beli Minyak Rusia di Harga US$59 per Barel, Lebih Murah dari Harga Global
Radio Tangerang Heartline FM – PAKAR energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, menilai Indonesia memiliki peluang untuk mendapatkan pasokan minyak dari Rusia dengan harga sekitar US$59 per barel. Harga ini disebut lebih rendah dibandingkan harga minyak dunia yang saat ini mengalami lonjakan akibat ketidakstabilan geopolitik.
Saat ini, harga minyak global tercatat berada di kisaran US$100 per barel, yang dipicu oleh meningkatnya ketegangan konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.
“Betul. Andaikan dengan harga normal pun, yang sekitar US$60-70 per barel, minyak Rusia tetap lebih murah yaitu sekitar US$59 per barel,” ujar Yayan, Selasa (14/4).
Harga Minyak Rusia Lebih Rendah Sejak Sanksi Barat
Yayan menjelaskan bahwa setelah negara-negara Barat memberlakukan embargo terhadap minyak Rusia sejak 2022, harga minyak Rusia mengalami penurunan signifikan. Pada 2025, harga minyak Rusia bahkan disebut berada di level sekitar US$25 per barel.
Ia menambahkan bahwa harga tersebut jauh lebih rendah dibandingkan minyak dari kawasan Timur Tengah yang berada pada kisaran US$60-70 per barel.
Di sisi lain, harga minyak dunia saat ini kembali melonjak seiring meningkatnya eskalasi konflik AS-Israel melawan Iran yang menyebabkan penutupan Selat Hormuz. Kondisi ini membuat harga minyak sempat menembus US$116 per barel.
“Kalau kita lihat berdasarkan asumsi penerimaan, pemerintah Rusia menetapkan harga minyak sebesar US$59 per barel,” ucap Yayan.
Perhitungan Biaya dan Efisiensi Impor Minyak
Lebih lanjut, Yayan menjelaskan bahwa jika Indonesia membeli minyak dari Rusia dan menambahkan biaya logistik sekitar 30%, maka harga akhir bisa berada di kisaran US$76,7 hingga US$80 per barel, termasuk seluruh biaya pengiriman.
Dengan perhitungan tersebut, biaya impor minyak dari Rusia dapat lebih hemat sekitar 31% hingga 51% dibandingkan harga minyak dunia yang sempat mencapai US$116 per barel.
“Lebih efisien, atau bahkan lebih murah dari itu jika lobi antara Presiden Prabowo dengan Presiden Putin berhasil,” tutur Yayan.
Pembahasan Kerja Sama Energi Indonesia-Rusia
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa pertemuan antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin membahas kerja sama sektor energi secara konkret dan berorientasi pada kepentingan nasional.
Kerja sama tersebut mencakup pengembangan kilang minyak, penguatan perdagangan minyak, serta peningkatan pemanfaatan teknologi energi.
“Dalam jangka panjang, Indonesia turut membuka peluang kolaborasi di sektor energi bersih. Sebagai upaya yang diarahkan untuk mendukung diversifikasi energi,”ujar Bahlil.
Dampak Gejolak Energi Global dan Strategi Indonesia
Ketidakstabilan pasar energi global yang masih berlangsung turut memberikan tekanan pada pasokan energi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Untuk menjaga ketahanan energi nasional, pemerintah terus mencari langkah strategis, termasuk menjajaki peluang kerja sama dengan Rusia sebagai salah satu negara produsen energi utama dunia.
Sumber : mediaindonesia.com
Foto : Kilang Balongan(Antara)
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
