17 July 2026
Tangkapan layar program edukasi kesehatan mental mengenai karakteristik Gangguan Kepribadian Ambang atau BPD

Mengenal Borderline Personality Disorder: Gangguan Kepribadian yang Kerap Disalahpahami

Radio Tangerang Heartline FM – Borderline Personality Disorder (BPD) atau Gangguan Kepribadian Ambang merupakan salah satu gangguan kesehatan mental yang masih sering disalahartikan oleh masyarakat. Banyak orang menganggap kondisi ini sama dengan gangguan bipolar atau kepribadian ganda, padahal ketiganya merupakan diagnosis yang berbeda dengan karakteristik masing-masing.

Hal tersebut dibahas dalam program Sketsa Keluarga Indonesia hasil kerja sama Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI). Dalam kesempatan itu, psikiater dr. Jubilate Edward Irwanto Tambun, Sp.KJ., atau yang akrab disapa dr. Iru, menjelaskan berbagai aspek mengenai BPD, mulai dari gejala, penyebab, hingga penanganannya.

Bukan Bipolar, Melainkan Gangguan Kepribadian

Dr. Iru menjelaskan bahwa BPD merupakan gangguan kepribadian yang berbeda dengan gangguan mood seperti depresi maupun bipolar. Jika bipolar memiliki episode tertentu, maka BPD merupakan pola kepribadian yang menetap dan memengaruhi berbagai aspek kehidupan seseorang.

Penderita BPD umumnya mengalami perubahan emosi yang sangat cepat, kesulitan mengendalikan perasaan, bersikap impulsif, serta mengalami hubungan interpersonal yang tidak stabil. Mereka juga sering mengalami perubahan cara memandang diri sendiri maupun orang lain.

“Ketidakstabilan menjadi ciri utama BPD, baik dalam emosi, relasi, maupun identitas diri,” jelas dr. Iru.

Sulit Menjalin Hubungan yang Sehat

Salah satu tantangan terbesar yang dialami penyandang BPD adalah mempertahankan hubungan yang sehat dengan orang lain. Mereka sering kali memiliki rasa takut yang berlebihan terhadap penolakan atau ditinggalkan (fear of abandonment).

Akibatnya, seseorang dengan BPD dapat menjadi sangat bergantung pada pasangan, keluarga, atau teman dekat. Namun di sisi lain, perubahan emosi yang ekstrem justru sering membuat hubungan tersebut menjadi renggang.

Tak jarang mereka menunjukkan perilaku yang bertolak belakang, mulai dari sangat mengagumi seseorang hingga tiba-tiba membencinya dalam waktu singkat.

Perasaan Hampa yang Berkepanjangan

Selain ketakutan ditinggalkan, penderita BPD juga kerap mengalami chronic emptiness atau perasaan hampa yang berlangsung dalam waktu lama.

Menurut dr. Iru, rasa hampa tersebut bukan sekadar merasa bosan, tetapi merupakan kondisi emosional yang sangat mengganggu sehingga sebagian penderita melakukan tindakan menyakiti diri sendiri (self-harm) untuk mendapatkan sensasi yang membuat mereka merasa “hidup”.

Perilaku ini bukan bertujuan mencari perhatian, melainkan merupakan bentuk kesulitan dalam mengelola emosi yang sangat intens.

Dipengaruhi Faktor Genetik dan Trauma Masa Kecil

Penyebab BPD tidak berasal dari satu faktor saja. dr. Iru menjelaskan bahwa kondisi ini merupakan kombinasi antara faktor biologis dan lingkungan.

Dari sisi biologis terdapat kerentanan genetik, sementara faktor lingkungan yang paling berpengaruh adalah pengalaman traumatis pada masa kanak-kanak, seperti kekerasan fisik, kekerasan seksual, kekerasan verbal, pengabaian orang tua, hingga kehilangan figur pengasuh sejak dini.

Pengalaman tersebut dapat memengaruhi perkembangan kepribadian hingga seseorang memasuki usia dewasa.

Terapi Menjadi Kunci Penanganan

Meski merupakan gangguan kepribadian yang menetap, BPD bukan berarti tidak dapat ditangani.

  1. Iru menekankan bahwa psikoterapi menjadi metode utama dalam membantu penyandang BPD mengelola emosinya, membangun hubungan yang lebih sehat, serta mengembangkan mekanisme koping yang lebih adaptif.

Obat-obatan juga dapat diberikan, namun sifatnya hanya membantu mengatasi gejala tertentu, seperti impulsivitas atau perubahan suasana hati yang ekstrem.

Dengan terapi yang konsisten, banyak penyandang BPD mampu menjalani kehidupan secara produktif, mempertahankan pekerjaan, menyelesaikan pendidikan, hingga membangun hubungan sosial yang lebih baik.

Peran Keluarga Sangat Penting

Selain terapi profesional, dukungan keluarga dan orang-orang terdekat memiliki peran besar dalam proses pemulihan.

  1. Iru mengingatkan agar keluarga tidak memberi label negatif, seperti menyebut penyandang BPD sebagai “lebay” atau “sekadar mencari perhatian”. Sebaliknya, mereka membutuhkan pemahaman, validasi emosi, dan dukungan untuk menjalani proses terapi.

Keluarga juga diharapkan memahami bahwa perubahan perilaku yang muncul merupakan bagian dari gangguan yang dialami, bukan sesuatu yang disengaja.

Stop Stigma terhadap Gangguan Mental

Di akhir diskusi, dr. Iru mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan mental serta menghilangkan stigma terhadap penyandang gangguan kejiwaan.

Apabila menemukan anggota keluarga atau orang terdekat dengan gejala yang mengarah pada BPD, masyarakat dianjurkan segera berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater agar memperoleh diagnosis dan penanganan yang tepat.

Dengan dukungan lingkungan, terapi yang tepat, dan pemahaman yang baik, penyandang Borderline Personality Disorder tetap memiliki peluang besar untuk hidup produktif dan menjalin hubungan yang sehat dengan orang lain.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=ZenToKO2qO8

Foto : SS Youtube Heartline Network

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: