11 May 2026
Ilustrasi dampak cuaca panas ekstrem terhadap kesehatan sistem hormon manusia

Cuaca Panas Berlebih Ganggu Sistem Hormon, Ini Penjelasan Dokter

Radio Samarinda Heartline FM – Gelombang panas ekstrem tidak hanya berdampak pada kenyamanan, tetapi juga berpotensi mengganggu sistem hormonal tubuh secara serius. Kondisi ini bahkan dapat memicu berbagai masalah kesehatan jika tidak diantisipasi sejak dini.

Wakil konsultan endokrinologi di Rumah Sakit Sir HN Reliance, India, Rashi Agarwal, menegaskan bahwa suhu tinggi yang berkepanjangan memberi tekanan pada sistem pengatur hormon dalam tubuh.

“Meningkatnya suhu bukan hanya tidak nyaman, tetapi juga dapat secara signifikan mengganggu keseimbangan hormonal, terutama di negara seperti India, di mana paparan panas yang berkepanjangan semakin umum terjadi,” kata Agarwal dilansir dari Antaranews, Minggu (3/5/2026).

Ia menjelaskan, tubuh manusia mengandalkan hipotalamus sebagai pusat pengatur suhu sekaligus pengendali berbagai jalur hormon. Ketika tubuh terpapar panas ekstrem, sistem ini dapat terganggu dan memicu reaksi berantai pada hormon.

Salah satu dampak paling nyata terlihat pada peningkatan hormon stres kortisol.

“Paparan panas yang terus-menerus dapat meningkatkan kadar kortisol, yang berkontribusi pada kelelahan, iritabilitas, kualitas tidur yang buruk, dan bahkan peningkatan lemak perut dari waktu ke waktu,” ucap dia.

Selain itu, dehidrasi dan stres akibat panas juga dapat mengganggu fungsi tiroid, yang berimbas pada melambatnya metabolisme serta munculnya gejala seperti mudah lelah dan sulit berkonsentrasi.

Gangguan juga dapat terjadi pada sensitivitas insulin. Kondisi ini membuat penderita pradiabetes atau diabetes lebih rentan mengalami fluktuasi kadar gula darah akibat perubahan hidrasi dan kerja insulin.

Pada perempuan, suhu tinggi turut memengaruhi keseimbangan hormon reproduksi. Hal ini dapat memicu siklus menstruasi yang tidak teratur, memperparah gejala pramenstruasi, hingga gangguan kesuburan sementara.

Tak hanya itu, ketidakseimbangan elektrolit akibat panas sering kali luput dari perhatian, padahal kondisi ini bisa berdampak pada hormon adrenal dan menimbulkan keluhan seperti pusing, lemas, hingga jantung berdebar.

Agarwal mengingatkan sejumlah tanda yang perlu diwaspadai, antara lain kelelahan berkepanjangan meski sudah beristirahat, gangguan tidur, perubahan suasana hati, siklus menstruasi tidak teratur, perubahan berat badan tanpa sebab jelas, hingga buruknya kontrol gula darah pada penderita diabetes.

Untuk meminimalkan risiko, ia menyarankan beberapa langkah pencegahan seperti menjaga kecukupan cairan, menghindari paparan panas pada jam puncak, mengonsumsi nutrisi seimbang yang kaya elektrolit, serta menjaga kualitas tidur.

“Individu dengan gangguan endokrin yang sudah ada sebelumnya harus sangat berhati-hati dan mungkin memerlukan pemantauan lebih ketat selama gelombang panas. Panas ekstrem bukan hanya masalah lingkungan, ini adalah pemicu stres endokrin. Mengenali tanda-tanda awal dapat membantu mencegah konsekuensi metabolik jangka panjang,” tutupnya. (*)

 

**Dengarkan sekarang di Frekuensi 94.4 FM** atau

🌐 **Streaming langsung di website kami:**

👉 [Klik di sini] https://heartline.co.id/radio-samarinda-heartline-fm/

 

📱 Ingin selalu terhubung?

Unduh aplikasi **JALUR HATI** di App Store dan Google Play.

 

Ikuti kami di media sosial:

📸 Instagram: @heartlinesamarinda

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: