21 August 2026
Ilustrasi karyawan profesional yang aktif dan memiliki inisiatif tinggi di tempat kerja

Selangkah Lebih Maju, Pentingnya Membangun Inisiatif di Dunia Kerja

Radio Tangerang Heartline FM — Menjadi pribadi yang mampu mengambil inisiatif menjadi salah satu kunci untuk berkembang di dunia kerja. Inisiatif tidak selalu harus dimulai dari perubahan besar, tetapi dapat dilakukan melalui langkah-langkah sederhana yang memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Dalam wawancara dengan radio Heartline dengan topik “Selangkah Lebih Maju”, yang menghadirkan Hendri Bun, seorang coach, trainer, dan writer, sebagai narasumber.

Dalam perbincangan tersebut, Hendri menjelaskan bahwa inisiatif merupakan kemampuan untuk melihat sebuah situasi, menemukan persoalan, kemudian mengambil tindakan untuk mencari solusi tanpa harus selalu menunggu perintah.

Hendri memberikan contoh kisah seorang pemuda bernama Joni yang bekerja sebagai staf pembungkus belanjaan di sebuah supermarket.

Joni mendapatkan tantangan untuk melakukan sesuatu yang berbeda dalam pekerjaannya. Meski pekerjaannya bersifat rutin, ia mencoba mencari cara sederhana agar dapat memberikan pengalaman berbeda kepada pelanggan.

Ia kemudian mengumpulkan kata-kata mutiara dari berbagai sumber, mencetaknya dalam potongan-potongan kecil, dan memberikan kertas tersebut kepada pelanggan setiap kali selesai membungkus belanjaan.

Inisiatif itu adalah kemampuan untuk memecahkan masalah dan mengambil tindakan dengan memikirkan solusi daripada menunggu atau diperintahkan.” ujar Hendri.

Langkah sederhana tersebut ternyata memberikan dampak besar. Dalam beberapa bulan, antrean di meja Joni menjadi jauh lebih panjang dibandingkan meja karyawan lainnya. Para pelanggan bahkan rela mengantre untuk mendapatkan pesan atau kata-kata mutiara yang diberikan Joni.

Menurut Hendri, kisah tersebut menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar. Sebuah ide sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan dampak bagi orang lain.

Inisiatif Berkaitan dengan Tanggung Jawab

Hendri mengatakan, seseorang yang memiliki inisiatif juga harus siap mengambil tanggung jawab atas gagasan yang disampaikannya.

Sebab, tidak sedikit orang yang mampu memberikan ide, tetapi enggan ketika diminta menjalankan ide tersebut.

“Kalau kita mengusahakan sesuatu, kita harus siap repot. Tapi kalau kita melihat ke depan, itu sesuatu yang berdampak dan mempengaruhi karier kita, mempengaruhi hidup kita,” jelasnya.

Ia menilai, keberanian mengambil tanggung jawab menjadi bagian penting dalam membangun karakter profesional. Seseorang yang berani mengusulkan perubahan sekaligus bersedia menjalankannya akan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang di tempat kerja.

Ada Tingkatan dalam Inisiatif

Dalam dunia kerja, menurut Hendri, tingkat inisiatif seseorang dapat dilihat dari bagaimana ia merespons persoalan dan mengambil tindakan.

Tingkat paling rendah adalah orang yang pasif dan hanya menunggu perintah. Bahkan ketika sudah diberikan arahan, ia belum tentu segera bergerak.

Berikutnya, ada orang yang mulai memiliki ide dan memberikan usulan, tetapi tidak bersedia mengambil tanggung jawab atas ide tersebut. Hendri menggambarkan kelompok ini sebagai orang yang banyak memberikan gagasan, tetapi tidak ikut menjalankannya.

Pada tingkat yang lebih baik, seseorang tidak hanya mengusulkan ide, tetapi juga bersedia mengambil tanggung jawab, menjalankan gagasan, serta memberikan laporan mengenai perkembangan pekerjaan tersebut.

“Orang yang sudah mengusulkan sesuatu kemudian mengambil tanggung jawab untuk melakukan apa yang diusulkan dan sudah melakukan sistem reporting, itu kelompok-kelompok yang akan menjadi champion,” katanya.

Lingkungan Kerja Berpengaruh

Hendri menekankan bahwa kemampuan berinisiatif tidak hanya dipengaruhi oleh pribadi seseorang. Lingkungan tempat seseorang tumbuh dan bekerja juga memiliki peran besar.

Menurutnya, seseorang bisa kehilangan keberanian untuk berinisiatif apabila setiap kesalahan atau kegagalan selalu mendapatkan respons negatif.

Ia mencontohkan seseorang yang pernah mengajukan ide, tetapi kemudian dimarahi karena hasilnya tidak sesuai harapan. Pengalaman seperti itu dapat membuat seseorang memilih untuk tidak lagi mengambil risiko.

Karena itu, pemimpin perlu menciptakan lingkungan yang memberikan ruang bagi karyawan untuk mencoba, melakukan kesalahan yang terukur, belajar, dan memperbaiki diri.

“Lingkungan yang memberikan ruang untuk kesalahan, tentunya kesalahan yang terkalkulasi, akan membuat seseorang mampu mengusahakan sesuatu dan mengambil tanggung jawab,” ujar Hendri.

Inisiatif, Ide, dan Inovasi Berbeda

Dalam dialog tersebut, seorang pendengar bernama Gregorius Anjar juga menanyakan perbedaan antara inisiatif, ide, dan inovasi.

Hendri menjelaskan bahwa ketiganya saling berkaitan, tetapi memiliki makna yang berbeda.

Inisiatif berasal dari dalam diri dan berkaitan dengan mentalitas untuk mengambil tindakan. Dari inisiatif tersebut kemudian muncul ide atau gagasan. Ketika ide tersebut diwujudkan menjadi sesuatu yang memberikan nilai atau perubahan, maka dapat berkembang menjadi inovasi.

“Kalau kita punya inisiatif, secara dari dalam kita sudah kuat, maka akan muncul ide-ide. Itu kemudian kita aktualisasikan menjadi produk, menjadi inovatif,” jelasnya.

Cara Melatih Inisiatif

Kemampuan berinisiatif, kata Hendri, dapat dilatih seperti halnya keterampilan lainnya. Semakin sering seseorang berlatih berpikir dan mencari solusi, semakin terbiasa pula ia mengambil tindakan.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menggunakan pola berpikir terstruktur ketika menghadapi masalah.

Pertama, seseorang perlu mengidentifikasi dan memperjelas masalah yang sebenarnya terjadi. Kedua, mencari berbagai alternatif solusi. Ketiga, memilih beberapa alternatif terbaik. Keempat, menentukan pilihan dan mulai mengeksekusinya.

Misalnya ketika melihat persoalan kebersihan di kantor, seorang karyawan tidak hanya mengeluhkan masalah tersebut. Ia dapat mengidentifikasi penyebabnya, memikirkan beberapa solusi, memilih solusi yang paling memungkinkan, kemudian menyampaikannya kepada atasan dan bersedia terlibat dalam pelaksanaannya.

Dengan pola tersebut, seseorang tidak lagi sekadar menjadi orang yang menemukan masalah, tetapi juga menjadi bagian dari solusi.

Selangkah Lebih Maju Dimulai dari Diri Sendiri

Hendri menilai, rasa memiliki terhadap pekerjaan atau lingkungan menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong seseorang untuk memiliki inisiatif.

Ketika seseorang merasa memiliki tanggung jawab terhadap pekerjaannya, ia akan lebih peka melihat hal-hal yang perlu diperbaiki.

Karena itu, menjadi pribadi yang “selangkah lebih maju” tidak selalu berarti harus melakukan sesuatu yang luar biasa. Langkah tersebut dapat dimulai dari keberanian melihat persoalan, memunculkan ide, mengambil tindakan, dan bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan.

Kisah Joni menjadi gambaran bahwa perubahan besar dapat berawal dari tindakan kecil. Dari sekadar memberikan potongan kertas berisi kata-kata mutiara kepada pelanggan, ia mampu menciptakan pengalaman yang berkesan dan bahkan menginspirasi orang lain.

Pada akhirnya, inisiatif bukan hanya tentang menjadi yang pertama bertindak, tetapi tentang keberanian untuk membuat keadaan menjadi sedikit lebih baik dari sebelumnya.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=CUnAN_rZJCk

Foto : Ilustrasi (pexels)

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: