Mencintai dengan Cara Berbeda, Memahami Bahasa Kasih untuk Memperkuat Relasi
Radio Tangerang Heartline FM — Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan dan menerima kasih sayang. Perbedaan tersebut terkadang menimbulkan kesalahpahaman dalam hubungan, baik antara pasangan, orang tua dan anak, maupun antaranggota keluarga.
Hal itu dibahas dalam program Sketsa Keluarga Indonesia bersama Krishervina Rani Lidiawati, M. Psi., Psikolog – Tim Parenting Yayasan Busur Emas, yang merupakan bagian dari tim parenting Yayasan Busur Emas. Dalam perbincangan bertema “Mencintai dengan Cara Berbeda, Mengapa Tidak?”pada Kamis (28/08), Kris menjelaskan bahwa seseorang belum tentu merasa dicintai meskipun orang lain sebenarnya sudah menunjukkan perhatian.
Menurutnya, perbedaan tersebut dapat dipengaruhi oleh latar belakang dan budaya keluarga tempat seseorang dibesarkan. Cara seseorang menunjukkan kasih sayang pun belum tentu sama dengan cara orang lain ingin menerima kasih sayang.
“Cara untuk mencintai orang juga berbeda-beda. Dan mungkin kita juga merasa dicintai dengan cara yang berbeda-beda karena kita dibesarkan dengan budaya keluarga yang berbeda-beda,” ujar Kris dalam perbincangan tersebut.
Lima Bahasa Kasih
Kris kemudian menjelaskan konsep lima bahasa kasih yang populer melalui gagasan Five Love Languages dari Gary Chapman. Ia menekankan bahwa konsep tersebut merupakan buku populer dan bukan berarti setiap orang hanya memiliki satu bentuk bahasa kasih.
Lima bentuk yang dibahas adalah words of affirmation atau kata-kata afirmasi, quality time, receiving gifts atau pemberian hadiah, acts of service atau pelayanan, serta physical touch atau sentuhan fisik.
Kata-kata afirmasi dapat diwujudkan melalui pujian, apresiasi, ucapan terima kasih, maupun ungkapan kasih sayang. Sementara itu, quality time lebih menekankan kehadiran dan perhatian penuh tanpa gangguan.
Bahasa kasih berupa hadiah tidak selalu berkaitan dengan nilai atau harga barang. Hadiah dapat menjadi simbol bahwa seseorang mengingat dan memperhatikan orang yang disayanginya.
Adapun acts of service diwujudkan melalui tindakan sederhana, seperti membantu mengambilkan sesuatu, menyiapkan kebutuhan pasangan, atau memberikan bantuan ketika seseorang sedang membutuhkan. Sementara physical touch dapat berupa pelukan, menggandeng tangan, atau sentuhan sederhana yang membuat seseorang merasa dekat dan aman.
Kris menegaskan, kelima bentuk tersebut pada dasarnya dapat membuat seseorang merasa disayangi. Namun, tingkat kenyamanan dan kebutuhan setiap individu bisa berbeda.
Anak Pun Memiliki Cara Menerima Kasih Sayang
Bahasa kasih juga dapat diamati sejak anak masih kecil. Menurut Kris, orang tua dapat mengenali kecenderungan tersebut melalui kebiasaan dan respons anak dalam kehidupan sehari-hari.
Ada anak yang merasa nyaman ketika dipeluk dan ditemani sebelum tidur. Ada pula yang lebih senang ketika orang tua meluangkan waktu untuk bermain bersama. Sementara anak lainnya dapat menunjukkan respons positif ketika mendapatkan pujian atau apresiasi.
Karena itu, orang tua tidak perlu hanya menggunakan satu bentuk kasih sayang. Kelima bahasa kasih dapat diberikan sesuai kebutuhan anak.
Kris mengatakan bahwa masa kanak-kanak menjadi kesempatan bagi orang tua untuk mengisi “tangki cinta” anak melalui berbagai bentuk perhatian. Tubuh dan pengalaman anak sejak kecil turut merekam bagaimana dirinya diperlakukan oleh orang-orang terdekat.
Bahasa Kasih Bisa Bergeser Seiring Usia
Perubahan kebutuhan juga dapat terjadi ketika seseorang bertambah dewasa. Namun, menurut Kris, bahasa kasih seseorang tidak selalu benar-benar berubah. Yang lebih mungkin terjadi adalah adanya pergeseran kebutuhan.
Seseorang yang ketika kecil senang mendapatkan pujian, misalnya, ketika dewasa bisa jadi lebih menghargai waktu bersama atau tindakan nyata dari orang yang dicintainya.
“Bukan berubah tapi bergeser biasanya,” kata Kris ketika menjelaskan perubahan kebutuhan kasih sayang seiring pertambahan usia.
Karena itu, pasangan maupun anggota keluarga perlu terus mengamati dan berkomunikasi. Bentuk perhatian yang dahulu terasa cukup belum tentu menjadi bentuk perhatian yang paling dibutuhkan seseorang saat ini.
Orang Tua Juga Membutuhkan Kehadiran
Bahasa kasih tidak hanya penting dalam hubungan pasangan dan anak. Orang tua yang semakin lanjut usia juga membutuhkan perhatian dari anak-anaknya.
Kris menceritakan pengalamannya ketika bekerja sama dengan Dinas Sosial dan berinteraksi dengan para lansia. Dari pengalaman tersebut, ia melihat bahwa banyak orang tua justru membutuhkan quality time, seperti diajak berbicara, didengarkan, atau sekadar makan bersama.
Kesibukan anak ketika sudah dewasa terkadang membuat waktu bersama orang tua menjadi semakin terbatas. Padahal, kehadiran sederhana dapat menjadi bentuk kasih sayang yang sangat berarti.
Selain waktu berkualitas, membantu orang tua melakukan hal-hal sederhana juga dapat menjadi bentuk perhatian. Misalnya membantu menggunakan gawai, mengatur internet atau Wi-Fi, maupun membantu kebutuhan sehari-hari tanpa membuat mereka merasa direndahkan.
Tidak Memahami Bahasa Kasih Bisa Memicu Konflik
Dalam hubungan pasangan, ketidaktahuan mengenai cara pasangan menerima kasih sayang dapat menjadi salah satu sumber konflik.
Kris memberikan gambaran bahwa seseorang bisa merasa sudah menunjukkan cinta karena bekerja keras dan memberikan uang. Namun, pasangannya mungkin justru membutuhkan waktu bersama, percakapan, atau sentuhan.
Akibatnya, masing-masing merasa sudah berusaha tetapi tetap tidak merasa dicintai.
Konflik yang awalnya sederhana juga dapat membesar apabila kebutuhan emosional seseorang terus-menerus tidak terpenuhi. Karena itu, pasangan disarankan tidak hanya berasumsi, tetapi membicarakannya secara langsung.
Pertanyaan sederhana seperti, “Kamu merasa paling disayang kalau diperlakukan seperti apa?” dapat membantu pasangan memahami kebutuhan satu sama lain.
Menurut Kris, komunikasi menjadi penting karena seseorang tidak selalu dapat mengetahui kebutuhan pasangannya hanya dengan mengandalkan pengamatan.
Kenali Diri Sebelum Memahami Orang Lain
Sebelum mencoba memahami bahasa kasih orang lain, seseorang juga perlu mengenali dirinya sendiri.
Kris menjelaskan bahwa kesadaran terhadap kondisi diri atau self-awareness dapat membantu seseorang memahami apa yang membuat dirinya merasa dicintai. Setelah memahami kebutuhan diri, seseorang akan lebih mudah berempati dan mengamati kebutuhan orang lain.
Dengan demikian, mencintai bukan sekadar memberikan sesuatu yang menurut kita baik. Kasih sayang juga membutuhkan pemahaman tentang bagaimana perhatian tersebut diterima oleh orang yang kita sayangi.
Kasih Sayang dan Luka Emosional
Dalam perbincangan tersebut, Kris juga membahas hubungan antara bahasa kasih dan pengalaman traumatis. Menurutnya, pengalaman luka emosional dapat memengaruhi bagaimana seseorang membangun relasi dengan orang lain.
Namun, kehadiran kasih sayang yang konsisten dapat membantu seseorang merasa lebih aman dan terhubung dengan orang lain.
“Kelima bahasa kasih ini justru mengobati luka itu, luka-luka emosional itu bisa terobati kalau mendapatkan tabung emosionalnya,” ujar Kris. Ia menjelaskan bahwa bahasa kasih merupakan salah satu bagian dari kebutuhan emosional yang membantu membangun kelekatan antarmanusia.
Karena itu, mencintai dengan cara berbeda bukan berarti seseorang kurang mencintai. Bisa jadi, cara yang digunakan memang belum sesuai dengan kebutuhan orang yang menerima kasih tersebut.
Pada akhirnya, memahami bahasa kasih bukan tentang mencari satu cara yang paling benar, melainkan belajar mengenali, berkomunikasi, dan memberikan perhatian sesuai kebutuhan orang yang kita cintai.
Sebab dalam sebuah hubungan, niat untuk mencintai perlu disertai kemampuan untuk membuat orang lain benar-benar merasa dicintai.
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
