Terlalu Sering Negative Thinking Bisa Ganggu Kesehatan Mental
Radio Tangerang Heartline FM — Berpikir negatif merupakan hal yang dapat dialami siapa saja. Namun, jika pola pikir negatif terjadi terus-menerus dan memengaruhi cara seseorang melihat diri sendiri maupun lingkungan, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian.
Dalam sebuah Talkshow dr. Dharmawan Ardi Purnama, Sp.KJ ,dokter spesialis kedokteran jiwa yang juga terlibat dalam kegiatan edukasi kesehatan mental. Dalam perbincangan tersebut, ia menjelaskan bahwa negative thinking berkaitan dengan adanya distorsi pikiran yang membuat seseorang cenderung melihat berbagai situasi dari sudut pandang negatif.
Menurut dr. Ardi, dalam konteks gangguan mental, pikiran memiliki peran penting. Pada sejumlah kondisi, gangguan dapat terlihat melalui perubahan pola pikir, sementara pada kondisi lainnya dapat lebih dominan pada perubahan suasana perasaan.
“Negative thinking itu sebetulnya distorsi pikiran,” ujar dr. Ardi saat menjelaskan mengenai pola pikir negatif.
Negative Thinking dan Thinking Error
Ardi menjelaskan bahwa seseorang yang mengalami negative thinking dapat memiliki kecenderungan automatic thinking, yaitu munculnya pikiran tertentu secara otomatis tanpa terlebih dahulu melalui proses pertimbangan yang objektif.
Pola tersebut kemudian dapat membuat seseorang terus melihat suatu persoalan dari sisi negatif. Dalam kondisi tertentu, terdapat berbagai bentuk kesalahan berpikir atau thinking error yang dapat memperkuat pola pikir tersebut.
Jika tidak disadari, pola pikir negatif dapat memengaruhi bagaimana seseorang mengambil keputusan, berinteraksi dengan orang lain, maupun menilai berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya.
Karena itu, seseorang perlu belajar mengenali pola pikir yang muncul dalam dirinya, termasuk memperhatikan apakah pikiran tersebut benar-benar sesuai dengan fakta atau justru merupakan interpretasi negatif yang berulang.
Tidak Semua Negative Thinking Berarti Gangguan Jiwa
Munculnya pikiran negatif tidak serta-merta berarti seseorang mengalami gangguan jiwa. Pikiran negatif dapat muncul sebagai respons terhadap tekanan, masalah kehidupan, kelelahan, atau pengalaman tertentu.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika pola tersebut berlangsung terus-menerus, semakin kuat, dan mulai mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari.
Dalam wawancara tersebut, dr. Ardi mendorong masyarakat untuk melihat kondisi dirinya secara lebih menyeluruh. Salah satunya dengan memperhatikan apakah pikiran yang muncul menyebabkan tubuh terasa tegang atau lelah, mengganggu kualitas tidur, maupun memengaruhi hubungan dengan orang-orang di sekitar.
Ia menyarankan seseorang untuk melihat bagaimana dirinya merespons lingkungan dan apakah pola tersebut mulai menimbulkan persoalan dalam kehidupan sehari-hari.
Orang Terdekat Bisa Memengaruhi Pola Pikir
Lingkungan keluarga juga dapat memiliki peran dalam pembentukan pola pikir seseorang. Ardi menjelaskan bahwa orang tua yang terbiasa menunjukkan sikap terlalu cemas atau berpikir negatif di depan anak dapat secara tidak sadar memberikan contoh yang kemudian ditiru.
“Kalau orang tuanya terlalu overthinking, terlalu negative thinking terus-terusan di depan anak, mungkin tanpa sadar anak juga akan melakukan hal yang sama,” jelasnya.
Karena itu, ketika menghadapi persoalan psikologis pada anak, perhatian tidak selalu cukup diarahkan kepada anak. Pola interaksi dan lingkungan keluarga juga perlu diperhatikan.
Menurut dr. Ardi, dalam situasi tertentu orang tua juga perlu mendapatkan pendampingan agar perubahan yang dilakukan pada anak dapat berjalan lebih efektif.
Belajar Mengubah Pola Pikir
Mengatasi negative thinking tidak cukup hanya dengan memaksa diri untuk selalu berpikir positif. Dia menjelaskan bahwa perubahan pola pikir membutuhkan proses dan latihan.
Ia mengibaratkannya seperti kendaraan yang sedang bergerak mundur. Ketika ingin bergerak maju, kendaraan perlu melewati posisi netral terlebih dahulu.
Menurutnya, seseorang yang terbiasa berpikir negatif tidak harus langsung dipaksa melihat segala sesuatu secara positif. Tahap awal yang lebih penting adalah belajar melihat keadaan secara netral dan objektif.
“Latih dulu jadi netral. Setelah itu baru kita bisa melihat apa yang positifnya,” kata dr. Ardi.
Latihan tersebut dapat dilakukan secara bertahap melalui berbagai pendekatan, termasuk latihan mindfulness. Dalam wawancara tersebut, dr. Ardi menjelaskan bahwa mindfulness bukan hanya meditasi, tetapi juga latihan untuk menyadari apa yang sedang dilakukan dan dirasakan pada saat ini.
Latihan sederhana dapat diterapkan ketika makan, berdoa, maupun melakukan aktivitas sehari-hari dengan memberikan perhatian penuh pada apa yang sedang dilakukan.
Kapan Perlu Mendapatkan Bantuan Profesional?
Ketika pola pikir negatif semakin sulit dikendalikan dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, seseorang dapat mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional.
Pendekatan yang diberikan dapat berbeda-beda sesuai kondisi masing-masing individu. Dalam sejumlah kasus, latihan psikologis, psikoterapi, atau coaching dapat menjadi bagian dari proses penanganan. Sementara pada kondisi tertentu, dokter dapat mempertimbangkan penggunaan obat sebagai bagian dari terapi.
Ardi menegaskan bahwa obat bukan satu-satunya solusi. Obat dapat membantu fungsi otak ketika memang diperlukan, tetapi pasien tetap membutuhkan usaha dan latihan untuk membangun pola pikir yang lebih sehat.
“Tidak semuanya harus pakai obat. Kalau perlu baru kita kasih obat,” jelasnya.
Dengan demikian, mengenali negative thinking sejak dini menjadi langkah penting. Masyarakat tidak perlu langsung memberikan label kepada seseorang hanya karena ia memiliki pikiran negatif. Yang lebih penting adalah memahami seberapa sering pola tersebut muncul, seberapa kuat pengaruhnya, dan apakah sudah mengganggu kehidupan sehari-hari.
Perubahan pun dapat dimulai dari langkah sederhana: menyadari pikiran yang muncul, memeriksa kembali apakah pikiran tersebut sesuai fakta, belajar melihat situasi secara netral, serta mencari bantuan profesional ketika diperlukan.
Foto : Ilustrasi(pexels)
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
