Khawatir Berlebihan Bisa Merusak Jiwa dan Raga, Ini Cara Mengatasinya
Radio Tangerang Heartline FM — Kekhawatiran merupakan bagian dari kehidupan. Namun, ketika rasa khawatir muncul secara berlebihan dan membuat seseorang terus-menerus memikirkan sesuatu tanpa menemukan jalan keluar, kondisi tersebut justru dapat menguras energi dan mengganggu keseharian.
Fenomena ini kerap disebut overthinking. Dalam program Wisdom of the Day Radio Heartline, PM Susbandono membahas bagaimana kebiasaan berpikir dan khawatir secara berlebihan dapat memengaruhi kondisi jiwa maupun raga.
Menurut Pak Sus, kehidupan yang semakin cepat, persaingan yang semakin ketat, serta berbagai kesulitan yang dihadapi manusia dapat membuat seseorang lebih mudah mengalami kekhawatiran berlebihan.
Overthinking Bukan Sekadar Banyak Berpikir
Pak Sus menjelaskan bahwa overthinking pada dasarnya merupakan aktivitas berpikir yang dilakukan secara berlebihan. Persoalannya bukan sekadar seseorang sedang memikirkan sesuatu, tetapi ketika pikiran tersebut menghabiskan terlalu banyak waktu dan energi tanpa menghasilkan tindakan atau penyelesaian.
“Overthinking itu kata kerja,” kata Pak Sus. Menurutnya, seseorang memiliki pilihan untuk melakukan atau tidak melakukan aktivitas tersebut.
Ia menggambarkan overthinking sebagai kondisi ketika tubuh mungkin tidak melakukan aktivitas apa pun, tetapi pikiran terus bekerja secara berlebihan. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat menjadi beban bagi seseorang.
Terjebak Masa Lalu dan Takut Masa Depan
Kekhawatiran berlebihan, menurut Pak Sus, dapat muncul dalam dua bentuk. Pertama, seseorang terus memikirkan masa lalu. Misalnya, menyesali keputusan yang pernah dibuat atau terus bertanya-tanya mengapa dirinya melakukan sesuatu pada waktu sebelumnya.
Kedua, seseorang terlalu mencemaskan masa depan. Ia terus membayangkan apa yang akan terjadi, termasuk mengkhawatirkan kondisi kesehatan atau nasibnya, meskipun persoalan tersebut belum tentu terjadi. Kondisi tersebut membuat seseorang hidup dalam sesuatu yang sebenarnya belum tentu terjadi atau sesuatu yang sudah berlalu dan tidak dapat diubah.
Dalam perbincangan tersebut, Pak Sus mengutip sebuah gagasan yang dikaitkan dengan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Gagasan tersebut membagi masalah menjadi dua, yakni masalah yang bisa diselesaikan dan masalah yang tidak bisa diselesaikan.
Jika sebuah masalah dapat diselesaikan, maka fokus seharusnya diarahkan pada tindakan untuk menyelesaikannya. Sementara jika sesuatu memang berada di luar kendali dan tidak dapat diselesaikan, terus-menerus memikirkannya tidak serta-merta mengubah keadaan.
Pesan yang ingin ditekankan adalah pentingnya menghindari kekhawatiran yang tidak produktif.
Menata Hati dan Menggunakan Akal Sehat
Lantas bagaimana menghadapi overthinking?
Pak Sus menyebut dua hal penting, yakni menata hati dan menggunakan akal sehat. Menata hati berarti belajar menerima bahwa tidak semua hal dalam kehidupan dapat dikendalikan. Sementara menggunakan akal sehat berarti melihat persoalan secara lebih realistis dan mencari bagian mana yang memang dapat dilakukan.
Menurutnya, seseorang tidak perlu membawa sebuah persoalan di dalam pikiran selama 24 jam apabila persoalan tersebut tidak dapat berubah hanya karena terus dipikirkan.
Dengan kata lain, bukan semua persoalan harus dihilangkan dari pikiran, tetapi cara seseorang merespons dan memikirkan persoalan tersebut yang perlu diatur.
Ketika Overthinking Mulai Mengganggu Tubuh
Kekhawatiran yang berlebihan juga perlu mendapat perhatian ketika mulai memengaruhi kehidupan sehari-hari.
Salah satu tanda yang disebut dalam perbincangan adalah gangguan tidur. Ketika seseorang mulai sulit tidur nyenyak atau sering terbangun pada malam hari karena pikirannya terus aktif, kondisi tersebut perlu diperhatikan.
Selain itu, kekhawatiran berlebihan dapat berkembang menjadi kecemasan. Dalam materi tersebut dijelaskan bahwa rasa khawatir tidak selalu negatif, tetapi ketika kekhawatiran berkembang menjadi kecemasan yang mengganggu, dampaknya dapat menjadi lebih serius.
Pak Sus juga mengingatkan bahwa kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap kondisi fisik, termasuk keluhan yang berkaitan dengan pencernaan dan tekanan darah.
Ubah Cara Berpikir, Bukan Selalu Keadaannya
Tidak semua kenyataan dapat diubah. Namun, seseorang masih dapat mengubah cara dirinya memandang kenyataan tersebut.
Inilah salah satu pesan penting yang disampaikan Pak Sus. Menurutnya, ketika seseorang tidak mampu mengubah keadaan, hal yang masih dapat dilakukan adalah mengubah cara berpikir dalam menghadapi keadaan tersebut.
“Orang tidak mampu mengubah kenyataan. Tetapi orang bisa mengubah cara memikirkan kenyataan,” ujarnya.
Karena itu, overthinking tidak cukup hanya dilawan dengan mengatakan kepada diri sendiri untuk “berhenti berpikir”. Yang lebih penting adalah membangun pola pikir yang lebih realistis, menata hati, kemudian menentukan tindakan yang memang bisa dilakukan.
Jangan Ragu Mencari Bantuan
Jika overthinking sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, seseorang tidak harus menghadapinya sendirian.
Pak Sus menyarankan agar seseorang dapat berbicara dengan orang-orang terdekat, seperti pasangan, anak, orang tua, saudara, kerabat, maupun teman dekat.
Jika masalah sudah terasa sulit ditangani sendiri, bantuan profesional juga dapat menjadi pilihan. Dalam materi tersebut disebutkan bahwa seseorang dapat berkonsultasi dengan psikolog maupun psikiater.
Mencari bantuan bukan berarti seseorang lemah. Justru, mengenali bahwa diri sendiri membutuhkan dukungan merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan diri.
Jangan Biarkan Kekhawatiran Menguasai Hidup
Khawatir adalah hal yang manusiawi. Namun, kekhawatiran tidak seharusnya mengambil seluruh ruang dalam kehidupan. Ketika pikiran terus membawa seseorang kembali ke masa lalu atau terlalu jauh mencemaskan masa depan, yang hilang justru kesempatan untuk menjalani kehidupan pada saat ini. Karena itu, belajar membedakan mana yang dapat dikendalikan dan mana yang harus dilepaskan menjadi langkah penting.
Menata hati, menggunakan akal sehat, dan mengubah cara berpikir terhadap kenyataan dapat menjadi langkah awal untuk keluar dari lingkaran overthinking.
Sebab, seperti pesan yang disampaikan dalam Wisdom of the Day, kita mungkin tidak selalu dapat mengubah kenyataan, tetapi kita masih memiliki kesempatan untuk mengubah cara kita memandang dan menghadapi kenyataan tersebut.
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
