Ajarkan Anak Berani Berkata Tidak untuk Membangun Batasan yang Sehat
Radio Tangerang Heartline FM – Kemampuan anak untuk mengatakan tidak merupakan salah satu keterampilan penting yang perlu dibangun sejak dini. Melalui pembelajaran tersebut, anak dapat mengenali batasan pribadi, melindungi dirinya, serta memiliki keberanian dalam mengambil keputusan tanpa harus merasa bersalah atau takut mengecewakan orang lain.
Hal tersebut disampaikan Masrinda Ambarita, psikoedukator sekaligus konselor, dalam program Sketsa Keluarga Indonesia yang membahas tema “Berani Berkata Tidak: Mengajarkan Anak Memiliki Batasan yang Sehat”.
Menurut Masrinda, batasan pribadi mencakup aspek fisik dan emosional. Keduanya perlu diperkenalkan kepada anak secara bertahap sesuai dengan perkembangan psikologis dan usianya.
Ia menjelaskan, pengenalan batasan fisik dapat dimulai ketika anak berusia sekitar 1,5 hingga 3 tahun. Pada tahap ini, orang tua perlu mengajarkan bagian-bagian tubuh anak, termasuk bagian yang boleh dan tidak boleh disentuh orang lain.
“Dari 1,5 tahun sampai 3 tahun itu kita mulai mengajarkan anak-anak tentang bagian dari tubuhnya. Jadi ketika kita mengajarkan mereka bagian-bagian mana yang boleh disentuh dan bagian mana yang tidak boleh, mereka memiliki batasan untuk tahu melindungi dirinya,” ujar Masrinda.
Selain batasan fisik, anak juga perlu belajar mengenali perasaan dan menyampaikan ketidaknyamanannya. Salah satu contohnya adalah ketika anak tidak ingin dipeluk atau disentuh oleh orang lain.
Masrinda mengingatkan agar orang tua tidak memaksakan kehendak dalam situasi tersebut. Menurutnya, anak perlu diberikan kesempatan untuk menolak secara sopan, termasuk ketika diminta bersalaman atau memeluk kerabat yang datang berkunjung.
Ia menilai, orang tua tetap dapat mengajarkan sopan santun melalui keteladanan. Namun, apabila anak belum bersedia bersalaman, orang tua sebaiknya tidak memaksanya dan dapat membicarakan alasan penolakan tersebut setelah situasi lebih tenang.
Sementara itu, pembelajaran mengenai batasan emosional dapat semakin dikembangkan ketika anak mulai memasuki lingkungan sekolah. Pada fase ini, anak mulai berinteraksi dengan teman sebaya dan berhadapan dengan berbagai ajakan maupun tekanan dalam pergaulan.
“Ketika mereka mulai memasuki dunia sekolah, karena nanti di dunia sekolah mereka akan banyak bertemu dengan teman-teman. Jangan sampai nanti mereka tidak bisa berkata tidak. Misalnya ketika diajak bermain atau melakukan sesuatu, mereka harus bisa mulai menjaga batasannya,” jelasnya.
Pola asuh berpengaruh terhadap keberanian anak
Masrinda menjelaskan, salah satu faktor yang membuat anak kesulitan mengatakan tidak adalah ketakutan terhadap hukuman, penolakan, atau pengucilan dari lingkungan pertemanan. Anak juga cenderung mengiyakan permintaan orang yang lebih dewasa karena merasa memiliki posisi yang lebih rendah.
Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian orang tua. Sebab, anak yang terbiasa patuh karena rasa takut berpotensi tumbuh menjadi pribadi yang selalu berusaha menyenangkan orang lain atau people pleaser.
Menurutnya, terdapat perbedaan antara kepatuhan yang muncul karena ketakutan dan kepatuhan yang lahir dari kesadaran diri. Anak yang memiliki kesadaran akan memahami alasan di balik aturan, sehingga mampu mengambil keputusan tanpa harus selalu bergantung pada perintah orang tua.
“Ketika dia patuh karena takut, di usia dewasanya itu sering sekali menjadi people pleaser. Ada ketakutan ketika nanti dia berkata tidak, ada rasa enggak enakan, terus bagaimana orang lain menilai dia,” ungkap Masrinda.
Untuk itu, ia menyarankan orang tua menerapkan pola asuh otoritatif yang mengutamakan komunikasi, diskusi, dan pemberian kesempatan kepada anak untuk menyampaikan pendapat. Pola tersebut dinilai lebih baik dibandingkan pola asuh otoriter yang cenderung menuntut anak selalu mengikuti keinginan orang tua.
Orang tua juga dapat memulai pembelajaran dari hal-hal sederhana di rumah. Misalnya, memberikan dua pilihan makanan, pakaian, atau kegiatan agar anak terbiasa mengenali apa yang disukai dan tidak disukainya.
“Hal sederhananya kita kasih dua pilihan. Misalnya ada jeruk, ada pisang. Kita sodorkan, kamu mau yang mana? Nah, dari situ kan kita tahu dia bisa memilih,” katanya.
Orang tua perlu menjadi teladan
Selain memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih, Masrinda menekankan pentingnya keteladanan orang tua dalam menetapkan batasan pribadi. Anak perlu melihat bahwa orang dewasa juga memiliki hak untuk menolak sesuatu yang tidak sesuai dengan kondisi atau kebutuhannya.
Ia juga mengingatkan agar orang tua membangun komunikasi yang terbuka dan menjelaskan alasan di balik setiap aturan. Penggunaan kata larangan seperti “jangan” tetap diperlukan dalam situasi darurat, terutama ketika anak menghadapi kondisi yang membahayakan. Namun, dalam situasi lainnya, orang tua sebaiknya memberikan penjelasan agar anak memahami alasan suatu tindakan tidak diperbolehkan.
Dalam lingkungan pertemanan, orang tua juga perlu membantu anak mengenali hubungan yang sehat. Masrinda menegaskan bahwa teman yang baik tidak seharusnya memaksakan kehendak kepada orang lain.
“Teman yang baik tidak akan memaksakan kehendaknya ke kamu,” tuturnya.
Apabila anak mengalami tekanan, perundungan, atau merasa tidak nyaman ketika penolakannya tidak dihargai, orang tua perlu memastikan anak memiliki tempat yang aman untuk bercerita. Anak dapat diarahkan untuk mencari bantuan kepada orang tua maupun guru bimbingan konseling (BK) di sekolah.
Masrinda menambahkan, tidak ada kata terlambat bagi orang tua untuk memperbaiki pola komunikasi dengan anak. Orang tua dapat kembali membangun kedekatan melalui percakapan sederhana dan memberikan ruang bagi anak untuk menentukan pilihannya sendiri.
Menutup perbincangan, ia mengingatkan bahwa orang tua perlu menjaga kesehatan mental dan mengelola emosi diri sendiri agar dapat memberikan teladan yang baik bagi anak.
“Kita bertanggung jawab di dalam mengelola emosi kita dan menjaga kesehatan mental kita, tapi kita tidak bertanggung jawab untuk mengelola emosi orang lain. Kita hanya bisa mengontrol diri kita sendiri,” pungkasnya.
Melalui pembiasaan tersebut, anak diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang mampu menyampaikan pendapat secara tegas dan santun, menghargai batasan diri maupun orang lain, serta memiliki kepercayaan diri dalam mengambil keputusan.
