22 October 2026
Gerna Situmeang membahas tips komunikasi efektif saat anak sulit mendengarkan orang tua di Parenting with Heart Radio Tangerang Heartline FM

Anak Sulit Mendengarkan Orang Tua? Tanda Pentingnya Komunikasi yang Efektif

Radio Tangerang Heartline FM – Menghadapi anak yang sulit mendengarkan perkataan orang tua menjadi tantangan tersendiri dalam kehidupan keluarga. Nasihat yang disampaikan berulang kali terkadang tidak diikuti tindakan, sehingga memicu frustrasi dan ketegangan antara orang tua dan anak.

Persoalan tersebut dibahas dalam program Parenting with Heart yang menghadirkan Gerna Situmeang, M.A. Counseling, ACC, anggota tim parenting Yayasan Busurmas. Dalam perbincangan tersebut, ia menekankan bahwa kemampuan anak mendengarkan orang tua berkaitan erat dengan cara orang tua membangun komunikasi dan memahami keunikan anak.

Menurut Gerna, setiap anak memiliki karakter, gaya belajar, serta cara merespons yang berbeda. Karena itu, orang tua tidak dapat menerapkan pendekatan komunikasi yang sama kepada semua anak.

“Ada anak yang memang butuh waktu untuk berpikir dulu sebelum bicara, tetapi ada juga anak yang bicara dulu baru berpikir,” jelas Gerna dalam program tersebut.

Ia menambahkan, anak yang pendiam dan membutuhkan waktu lebih lama untuk menjawab bukan berarti tidak mendengarkan. Orang tua perlu memberikan kesempatan kepada anak untuk memproses informasi sebelum merespons, tanpa langsung menuduhnya mengabaikan perkataan orang tua.

Gaya Komunikasi Orang Tua Memengaruhi Respons Anak

Gerna menjelaskan, komunikasi yang efektif dimulai dari pengenalan orang tua terhadap karakter anak. Perbedaan kepribadian, kecerdasan, gaya belajar, dan cara mengungkapkan perasaan perlu menjadi pertimbangan ketika berkomunikasi.

Selain pilihan kata, nada suara, ekspresi wajah, gestur tubuh, serta kondisi emosional orang tua juga memengaruhi bagaimana pesan diterima anak.

Anak dapat menangkap ketika orang tua berbicara dengan nada tinggi, meremehkan, atau menghakimi. Jika pola tersebut terus berulang, anak berpotensi menarik diri dan enggan terbuka kepada orang tua.

Karena itu, orang tua perlu belajar mengendalikan emosi serta menyesuaikan cara berkomunikasi dengan kebutuhan anak. Tujuannya bukan sekadar membuat anak menuruti perintah, melainkan membangun komunikasi dua arah yang membuat anak merasa diterima dan dipahami.

Hindari Kebiasaan Mengoreksi dan Terlalu Cepat Memberi Nasihat

Salah satu hambatan komunikasi dalam keluarga adalah kecenderungan orang tua merasa lebih tahu karena memiliki pengalaman hidup yang lebih banyak. Akibatnya, ketika anak bercerita, orang tua sering kali langsung mengoreksi, menyangkal, atau memberikan nasihat sebelum memahami persoalan yang sebenarnya.

Menurut Gerna, kebiasaan tersebut dapat membuat orang tua kehilangan pesan penting yang ingin disampaikan anak, termasuk perasaan sedih, marah, kecewa, atau takut yang mungkin tidak diungkapkan secara langsung.

Ia mengingatkan bahwa mendengarkan anak bukan hanya memperhatikan kata-kata yang diucapkan, tetapi juga memahami makna di balik perkataan tersebut.

Orang tua juga perlu menghindari kebiasaan berbicara sambil mengerjakan banyak hal sekaligus. Ketika anak mengajak berbicara, orang tua sebaiknya meletakkan telepon genggam, memberikan perhatian penuh, dan melakukan kontak mata secara wajar.

Dengan demikian, anak dapat merasakan bahwa dirinya dihargai dan memiliki ruang yang aman untuk bercerita.

Pilih Waktu yang Tepat untuk Berkomunikasi

Gerna menyarankan agar orang tua memilih waktu yang tepat dan memastikan adanya keterhubungan ketika berbicara dengan anak. Komunikasi sebaiknya tidak dilakukan dalam keadaan terburu-buru atau ketika orang tua sedang dikuasai emosi.

Orang tua dapat membangun kebiasaan berbicara bersama anak pada waktu-waktu yang disepakati, seperti saat makan malam, dalam perjalanan ke sekolah, atau menjelang tidur.

Jika anak sedang asyik bermain, orang tua dapat meminta waktu dengan cara yang baik. Sebaliknya, jika orang tua sedang sibuk, mereka dapat menjelaskan kapan bisa kembali memberikan perhatian kepada anak.

Namun, apabila anak sedang menghadapi persoalan penting yang membutuhkan perhatian segera, orang tua perlu mempertimbangkan untuk menghentikan kesibukan sejenak dan mendengarkannya.

“Jadi, jangan bicara sebelum anak memperhatikan kita. Pastikan kita siap untuk bicara dengan anak dan pastikan anak juga memperhatikan kita,” ujar Gerna.

Ia menegaskan bahwa waktu yang tepat bukan hanya soal memilih momen, tetapi juga memastikan orang tua dan anak benar-benar terhubung dalam percakapan.

Gunakan Bahasa Positif dan Apresiasi Anak

Selain memperhatikan waktu dan cara berbicara, orang tua dianjurkan menggunakan bahasa yang positif ketika mengarahkan anak. Dibandingkan terus-menerus memberikan larangan atau teguran, orang tua dapat menyampaikan dorongan yang membantu anak memahami perilaku yang diharapkan.

Sebagai contoh, daripada mengatakan “jangan malas-malasan”, orang tua dapat mendorong anak untuk belajar lebih rajin. Pendekatan positif juga dapat disertai apresiasi terhadap usaha, inisiatif, dan tindakan baik yang dilakukan anak.

Gerna menilai bahwa apresiasi secara verbal maupun nonverbal dapat membantu anak merasakan kasih sayang dan dukungan orang tua.

Ia juga menyarankan orang tua untuk bertanya sebelum memberikan komentar atau nasihat. Misalnya, dengan mengatakan, “Kamu mau Mama memberikan pendapat atau cukup mendengarkan dulu?”

Cara tersebut memberi kesempatan kepada anak untuk menyampaikan kebutuhan mereka, sekaligus melatih komunikasi yang saling menghargai.

Orang Tua Perlu Menjadi Teladan

Gerna menegaskan bahwa ketika ingin anak belajar mendengarkan, orang tua perlu terlebih dahulu memberikan contoh melalui perilaku sehari-hari.

Ketika anak berbicara, orang tua sebaiknya menghentikan aktivitas lain dan memberikan perhatian. Jika anak belum merespons, orang tua perlu memastikan bahwa anak memang mendengar dan memperhatikan, alih-alih langsung mengulang perintah dengan suara keras dari ruangan berbeda.

Pendekatan yang tenang, hangat, dan tidak reaktif membantu menciptakan rasa aman sehingga anak lebih nyaman berkomunikasi dengan orang tua.

“Ketika kita ingin anak kita mendengarkan kita, kita lebih dulu memberi contoh kepada anak,” tegasnya.

Melalui perbincangan Parenting with Heart ini, Gerna mengajak orang tua untuk terus belajar mengenali karakter anak, memperbaiki cara berkomunikasi, serta membangun kebiasaan mendengarkan secara aktif.

Dengan komunikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan anak, orang tua diharapkan dapat membangun hubungan yang lebih dekat, menciptakan suasana keluarga yang aman, dan membantu anak lebih terbuka dalam menyampaikan pikiran maupun perasaannya.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=c2T32LACAB4