10 February 2026
Ilustrasi beban kerja rumah tangga tidak seimbang dalam rumah tangga

Berhenti Saling Menyalahkan, Cara Cerdas Mewujudkan Pembagian Tugas Rumah yang Adil

Radio Tangerang Heartline FM – DALAM banyak rumah tangga heteroseksual, “shift kedua” atau beban pekerjaan rumah tangga setelah jam kantor sering kali jatuh lebih berat ke pundak istri. Meski zaman telah berubah, survei menunjukkan perempuan masih melakukan pekerjaan rumah tangga dua kali lebih banyak daripada pria. Ketimpangan ini bukan sekadar masalah teknis, tapi merupakan ancaman bagi kesehatan mental dan keharmonisan hubungan.

Dr. Jelena Kecmanovic, psikolog klinis asal Washington, DC, mengungkapkan ketimpangan ini memicu kemarahan dan burnout pada perempuan, yang berujung pada penurunan kepuasan hubungan dan risiko perceraian. Namun, alih-alih terus menyalahkan pasangan, ada strategi berbasis sains untuk mengubah dinamika ini menjadi kolaborasi tim yang solid.

  1. Ubah Sudut Pandang: Lawan Masalah, Bukan Pasangan
    Sering kali, ketimpangan terjadi bukan karena niat buruk, melainkan kebiasaan yang tidak disadari akibat norma gender. Psikolog Dr. Morgan Cutlip menyebut pria dalam kategori ini sebagai “pasangan yang mau namun pasif.”
    Kuncinya adalah berhenti berasumsi bahwa pasangan sengaja ingin menyakiti Anda. Perubahan nyata terjadi ketika pasangan merasa diperlakukan sebagai rekan satu tim, bukan lawan. Fokuslah pada sistem yang tidak berjalan, bukan pada karakter individu.
  1. Tekankan Manfaat Bagi Semua Anggota Keluarga
    Pembagian tugas yang adil tidak hanya menguntungkan istri, tapi juga membawa dampak positif bagi suami dan anak-anak. Menurut Dr. Daniel Carlson dari University of Utah, pria yang terlibat aktif dalam urusan domestik cenderung merasa lebih bahagia, jarang merasa bersalah, dan memiliki hubungan yang lebih erat dengan anak-anak mereka.
    Spencer Hilligoss, seorang wirausahawan, mengakui perubahan ini. Setelah berkomitmen menjadi pasangan yang setara dalam memasak dan mengasuh anak, ia merasakan kedekatan yang lebih dalam.
    “Dengan itu, ketegangan menjadi jauh lebih berkurang, dan muncul lebih banyak kehangatan serta koneksi,” ujar Hilligoss.
  1. Praktikkan Afirmasi dan Rasa Syukur
    Diskusi mengenai tugas rumah sering kali dianggap sebagai serangan pribadi pria, yang memicu sikap defensif. Untuk memutus lingkaran setan ini, mulailah dengan apresiasi. Penelitian menunjukkan bahwa merefleksikan nilai-nilai inti dan mengakui kekuatan pasangan dapat menurunkan sikap defensif saat menghadapi kritik.
    Zachary Watson, seorang pelatih kehidupan, menekankan pentingnya ucapan terima kasih yang tulus dalam proses negosiasi tugas. “Kami mengutamakan mengakui apa yang kami hargai satu sama lain dan mengucapkan terima kasih, bahkan saat kami tidak sepakat tentang cara membagi tanggung jawab rumah tangga,” kata Watson.

Membangun rumah tangga yang adil tidak dicapai melalui cercaan, melainkan melalui empati dan komitmen bersama. Menegur pria mungkin terasa melegakan sesaat, namun merangkul mereka sebagai mitra dalam proyek bersama adalah cara yang jauh lebih efektif untuk perubahan jangka panjang.

Sumber : mediaindonesia.com

Foto : Ilustrasi(freepik)

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: