Brigade Manguni Peduli: Merawat Kebersamaan, Toleransi, dan Kepedulian di Tanah Perantauan
Radio Tangerang Heartline FM – Organisasi masyarakat tidak hanya dapat menjadi wadah berkumpul berdasarkan kesamaan daerah atau budaya, tetapi juga dapat mengambil peran dalam membangun kepedulian sosial dan menjaga kebersamaan di tengah masyarakat yang majemuk.
Semangat tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam talk show “Brigade Manguni Peduli” yang menghadirkan Wakil Ketua atau Watuan WK Tonaas Brigade Manguni Indonesia (BMI) DPD Kota Tangerang Selatan, Jelly A.Goni, bersama Ketua Kecamatan Serpong atau Walak/Tonaas Serpong, Medy Rambembuoch.
Dalam perbincangan tersebut, keduanya menjelaskan bahwa keberadaan Brigade Manguni Indonesia tidak hanya berkaitan dengan identitas masyarakat Minahasa atau Kawanua, tetapi juga diarahkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat di tempat organisasi tersebut berada.
Berawal dari Kepedulian terhadap Daerah
Menurut penuturan narasumber, Brigade Manguni Indonesia berawal dari Sulawesi Utara dan lahir dari semangat masyarakat serta sejumlah tokoh untuk mengantisipasi dampak konflik yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia pada awal 2000-an.
Semangat awal tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah organisasi yang membawa identitas budaya Minahasa sekaligus memiliki perhatian terhadap kehidupan sosial masyarakat.
Nama “Manguni” sendiri merujuk pada burung yang menjadi salah satu simbol yang dikenal dalam budaya masyarakat Sulawesi Utara. Dalam penjelasan narasumber, Manguni dipandang sebagai simbol kebijaksanaan dan keberanian.
Seiring perkembangannya, BMI tidak hanya berada di Sulawesi Utara. Narasumber menyebut keberadaannya telah berkembang di berbagai wilayah di Indonesia.
BMI Tangerang Selatan Berdiri pada 2013
Di Tangerang Selatan, Brigade Manguni Indonesia mulai terbentuk sekitar tahun 2013 atas inisiatif masyarakat Kawanua yang tinggal di wilayah tersebut.
Kehadiran BMI di Tangerang Selatan juga tidak semata-mata dimaksudkan sebagai wadah bagi masyarakat asal Sulawesi Utara. Organisasi ini berkembang dengan semangat untuk membangun kebersamaan dan mencegah terjadinya gesekan di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda.
Tangerang Selatan sendiri dikenal sebagai wilayah yang masyarakatnya berasal dari berbagai daerah. Karena itu, menurut narasumber, keberadaan organisasi harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat mereka tinggal.
“Berangkatnya dari Tanah Minahasa, tetapi ketika berada di tanah perantauan kita juga harus menghargai kearifan lokal,” menjadi salah satu semangat yang disampaikan dalam perbincangan tersebut.
Dari Menjaga Budaya hingga Melayani Masyarakat
Salah satu hal yang menjadi ciri BMI adalah upaya mempertahankan identitas dan budaya Minahasa. Namun, identitas tersebut tidak diposisikan sebagai alasan untuk menutup diri dari masyarakat lain.
Sebaliknya, narasumber menegaskan bahwa BMI berusaha merangkul masyarakat lintas latar belakang dan membangun persatuan dalam kehidupan bermasyarakat.
Semangat tersebut tercermin dalam prinsip yang mereka pegang, yakni “Sitou Timou Tumou Tou”, yang dimaknai sebagai manusia hidup untuk menghidupkan atau memberikan kehidupan bagi orang lain.
Prinsip tersebut menjadi salah satu motivasi agar keberadaan organisasi tidak berhenti pada kepentingan kelompok, tetapi dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Bersinergi dengan Pemerintah
Dalam menjalankan kegiatan sosial, BMI Tangerang Selatan juga menyampaikan bahwa mereka membangun sinergi dengan pemerintah dan berbagai pihak.
Sejumlah kegiatan yang disebutkan antara lain pembinaan serta penyuluhan mengenai bahaya narkoba dan kegiatan sosial seperti pembagian takjil pada bulan Ramadan di sekitar kantor wali kota.
Kerja sama tersebut menunjukkan bahwa organisasi masyarakat dapat mengambil peran sebagai mitra dalam menjalankan kegiatan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Konsisten Mengedukasi Generasi Muda tentang Bahaya Narkoba
Salah satu kegiatan yang pernah dilakukan BMI Tangerang Selatan adalah kampanye mengenai bahaya narkoba bersama Badan Narkotika Nasional (BNN).
Pada 2017, kegiatan tersebut dilakukan melalui acara di ruang publik dan melibatkan pelajar SMA di Tangerang Selatan. Salah satu bentuk kegiatannya adalah festival tari antinarkoba yang menjadi sarana edukasi sekaligus ajakan kepada generasi muda untuk menjauhi narkoba.
Program penyuluhan mengenai penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika kemudian dilakukan melalui kegiatan di sekolah-sekolah dengan menggandeng BNN.
Dalam perkembangannya, perhatian BMI kemudian tidak hanya tertuju pada isu narkoba. Program mereka juga diarahkan pada isu ramah anak, ramah lingkungan, serta pencegahan kenakalan remaja.
Menjaga Toleransi di Tengah Masyarakat Majemuk
Pesan lain yang kuat dalam talk show tersebut adalah pentingnya menjaga toleransi dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi maupun konflik yang terjadi di luar lingkungan masyarakat.
Narasumber menceritakan pengalaman ketika muncul situasi yang berpotensi menimbulkan gesekan akibat persoalan yang berkaitan dengan perbedaan. Dalam situasi tersebut, BMI Tangerang Selatan memilih untuk tidak terpancing dan justru menjaga suasana tetap kondusif.
Mereka juga mengapresiasi perhatian pihak kepolisian yang mengajak organisasi untuk berkomunikasi dan menjaga situasi agar tetap aman.
Menurut narasumber, rasa nasionalisme harus diwujudkan melalui kemampuan menahan diri dan tidak mudah terpancing oleh persoalan yang dapat merusak persatuan.
Generasi Muda Menjadi Kunci Masa Depan
Di bagian akhir perbincangan, perhatian diarahkan kepada generasi muda. BMI berharap anak-anak muda dapat menjadi generasi yang mampu menjaga bangsa sekaligus memiliki kemampuan untuk menyaring berbagai pengaruh dari lingkungan maupun media digital.
Narasumber juga mengingatkan pentingnya menghindari konflik yang hanya berawal dari kesalahpahaman kecil. Penggunaan gadget dan informasi yang diterima melalui media digital juga dinilai perlu disikapi dengan bijak.
Bagi mereka, generasi muda merupakan tonggak penting bagi masa depan bangsa. Karena itu, selain kemampuan menjaga diri, generasi muda juga diharapkan memiliki iman dan nilai-nilai yang kuat agar mampu mengambil keputusan yang baik.
Hidup untuk Menghidupkan Orang Lain
Pada akhirnya, “Brigade Manguni Peduli” bukan hanya berbicara tentang sebuah organisasi yang lahir dari identitas daerah. Lebih jauh, tema tersebut membawa pesan tentang bagaimana identitas budaya dapat berjalan berdampingan dengan nasionalisme, toleransi, dan kepedulian sosial.
BMI Tangerang Selatan berharap dapat terus terbuka dan berkolaborasi dengan berbagai komunitas maupun organisasi lain. Bahkan, mereka menyampaikan harapan agar masyarakat dari berbagai latar belakang dapat bergabung dan bersama-sama membangun Tangerang Selatan menjadi wilayah yang semakin aman dan kondusif.
Semangat tersebut kembali pada filosofi yang disampaikan dalam talk show: manusia hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk memberikan kehidupan dan manfaat bagi orang lain.
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:Di tengah masyarakat yang semakin beragam, semangat inilah yang menjadi penting—berbeda dalam latar belakang, tetapi tetap bersatu dalam kepedulian terhadap sesama dan bangsa.
