20 August 2026

Filsafat dan Ilmu Sosial: Masih Relevankah di Zaman Now?

Radio Tangerang Heartline FM — Filsafat sering dianggap sebagai ilmu yang sangat tua dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun, di tengah perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, perubahan iklim, konflik politik, hingga berbagai persoalan sosial, filsafat justru masih memiliki peran penting. Filsafat membantu manusia mempertanyakan hal-hal mendasar, berpikir secara kritis, serta memahami realitas secara lebih mendalam dan menyeluruh.

Dalam perbincangan program Philosophy Now di 100.6 Heartline Radio, Jose Marwoto berbincang dengan Emmanuel Bria, peneliti sekaligus kandidat PhD di University of Queensland, Australia. Keduanya membahas hubungan filsafat dengan ilmu-ilmu sosial serta relevansinya dalam menghadapi persoalan abad ke-21.

Menurut Emmanuel Bria, filsafat telah berkembang selama lebih dari dua ribu tahun. Pemikiran Plato dan Aristoteles, misalnya, menjadi salah satu fondasi penting bagi perkembangan pemikiran Barat dan ilmu pengetahuan. Dalam perkembangannya, filsafat juga berhubungan erat dengan teologi pada abad pertengahan dan kemudian berkembang menjadi berbagai cabang ilmu yang lebih spesifik.

Banyak bidang yang dahulu menjadi bagian dari filsafat akhirnya berkembang menjadi disiplin ilmu tersendiri. Fisika, ekonomi, ilmu politik, dan berbagai ilmu lainnya semakin memiliki metodologi serta bidang kajian masing-masing. Karena itu, filsafat kemudian menghadapi tantangan untuk kembali menemukan perannya di tengah perkembangan ilmu pengetahuan modern.

Meski demikian, menurut Bria, filsafat masih sangat relevan. Salah satu alasannya adalah filsafat mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai realitas, pengetahuan, dan cara manusia memahami dunia. Dalam filsafat dikenal antara lain ontologi dan epistemologi. Ontologi mempertanyakan hakikat keberadaan dan realitas, sedangkan epistemologi membahas bagaimana manusia memperoleh pengetahuan dan memahami kebenaran.

Pendekatan tersebut sangat berguna dalam ilmu sosial. Berbagai persoalan seperti perubahan iklim, konflik, energi, pertambangan, hingga kebijakan politik tidak cukup dipahami hanya melalui angka dan data. Dibutuhkan cara berpikir yang lebih kritis, mendalam, dan holistik untuk memahami berbagai faktor yang berada di balik suatu fenomena.

Bria sendiri menekuni bidang ekonomi politik dengan perhatian pada energi, perubahan iklim, dan mineral. Di University of Queensland, ia terlibat dalam lingkungan penelitian yang bersifat multidisipliner, bersama ilmuwan sosial, geolog, ahli geografi, dan bidang keilmuan lainnya. Pendekatan semacam ini memungkinkan sebuah persoalan dilihat dari berbagai perspektif sekaligus.

Salah satu contoh yang dibahas adalah persoalan pertambangan mineral dan energi. Pengelolaan sumber daya alam tidak cukup hanya mempertimbangkan kepentingan ekonomi dan kemajuan teknologi. Dampaknya terhadap lingkungan, keanekaragaman hayati, serta masyarakat sekitar juga perlu diperhatikan. Karena itu, diperlukan kerangka berpikir yang mampu melihat hubungan berbagai aspek tersebut secara utuh.

Pemikiran Alfred North Whitehead menjadi salah satu inspirasi bagi Bria dalam melihat realitas secara holistik. Menurutnya, dunia merupakan suatu proses yang saling terhubung. Cara pandang ini relevan untuk memahami persoalan kontemporer yang semakin kompleks, termasuk perubahan iklim dan hubungan manusia dengan alam.

Filsafat juga tidak seharusnya hanya dipahami sebagai ilmu tentang moralitas atau etika. Etika memang menjadi salah satu cabang penting, termasuk ketika manusia menghadapi perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan. Namun, filsafat memiliki ruang yang jauh lebih luas karena juga menyentuh pertanyaan mengenai keberadaan, pengetahuan, kebenaran, logika, dan hakikat realitas.

Menariknya, generasi muda saat ini justru menunjukkan ketertarikan terhadap filsafat. Banyak anak muda membaca buku-buku filsafat karena merasa filsafat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai kehidupan dan dunia. Hal tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan manusia untuk berpikir secara mendalam dan kritis tidak pernah benar-benar hilang.

Filsafat juga dapat membantu seseorang dalam bidang lain. Belajar filsafat tidak berarti seseorang harus menjadi filsuf. Pengetahuan filsafat dapat dipadukan dengan ilmu ekonomi, politik, teknologi, komunikasi, maupun bidang lainnya. Dengan demikian, seseorang dapat memahami bidang keahliannya secara lebih kritis, sistematis, dan menyeluruh.

Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan berpikir filosofis juga dapat membantu seseorang menyusun gagasan dengan lebih terstruktur. Filsafat melatih manusia untuk tidak mudah menerima sebuah pernyataan begitu saja, tetapi mempertanyakan alasan, dasar pemikiran, serta konsekuensi dari suatu gagasan.

Pada akhirnya, filsafat tetap relevan selama manusia masih menghadapi pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang kehidupan. Tantangan abad ke-21 justru semakin membutuhkan pemikiran yang tidak terkotak-kotak. Masalah perubahan iklim, teknologi, politik, ekonomi, dan kehidupan sosial saling berhubungan sehingga membutuhkan pendekatan yang holistik dan interdisipliner.

Pesan penting dari perbincangan tersebut adalah bahwa manusia perlu tetap rendah hati dalam mencari pengetahuan. Tidak ada satu bidang ilmu yang mampu menjawab seluruh persoalan kehidupan. Karena itu, kita perlu terbuka untuk belajar dari berbagai disiplin ilmu dan dari orang lain.

Filsafat bukan sekadar ilmu yang membahas pemikiran para filsuf masa lalu. Filsafat adalah cara untuk memahami realitas dengan lebih dalam, kritis, runtut, dan menyeluruh. Selama manusia masih mau bertanya, mencari kebenaran, dan memahami dunia secara lebih baik, filsafat akan tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan modern.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=DDW7N0zQyaM

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: