24 April 2026

Kasus Campak Meningkat, Orang Tua Diminta Waspada

Radio Tangerang Heartline FM – Kasus campak pada anak kembali menjadi perhatian. Dalam beberapa bulan terakhir, jumlah pasien yang datang ke fasilitas kesehatan dilaporkan meningkat tajam. Jika sebelumnya kasus campak tergolong jarang, kini hampir setiap hari ditemukan pasien dengan gejala serupa.

Hal tersebut disampaikan oleh dr. Drey, Sp.A – Dokter Spesialis Anak RS Hermina Periuk Tangerang, dalam sebuah talk show kesehatan bersama Radio Heartline Tangerang. Ia menegaskan bahwa campak bukan penyakit ringan yang bisa dianggap sepele.

“Campak adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus morbili. Penyakit ini sangat menular, dengan gejala utama demam, batuk, pilek, mata merah, dan ruam pada kulit,” jelasnya.

Gejala Awal Kerap Disangka Flu Biasa

Salah satu tantangan dalam mendeteksi campak adalah gejalanya di tahap awal yang menyerupai flu. Pada hari pertama hingga ketiga, anak biasanya hanya mengalami demam, batuk, dan pilek.

“Banyak yang mengira hanya flu biasa. Padahal, ruam khas campak biasanya baru muncul di hari keempat atau kelima,” ujar dr. Drey.

Ruam tersebut umumnya muncul pertama kali di wajah, terutama di belakang telinga, kemudian menyebar ke seluruh tubuh secara bertahap.

Penularan Sangat Cepat

Campak dikenal sebagai salah satu penyakit dengan tingkat penularan tinggi. Virus dapat menyebar melalui percikan batuk atau bersin (droplet), melalui udara (airborne), bahkan dari benda yang terkontaminasi.

Yang perlu diwaspadai, penderita sudah bisa menularkan virus sebelum ruam muncul.“Penularan bisa terjadi sejak empat hari sebelum ruam muncul hingga empat hari setelahnya,” kata dr. Drey.

Artinya, anak yang tampak hanya mengalami batuk pilek ringan tetap berpotensi menularkan virus ke orang lain. Dalam kondisi tertentu, satu penderita campak bahkan dapat menularkan virus ke 9 hingga 18 orang lainnya, terutama di tempat ramai seperti sekolah atau area bermain.

Anak Tanpa Imunisasi Paling Rentan

Anak usia di bawah lima tahun menjadi kelompok paling rentan, terlebih jika belum mendapatkan imunisasi campak. Selain itu, anak dengan kondisi gizi kurang atau daya tahan tubuh lemah juga berisiko mengalami gejala lebih berat. Tidak hanya menyerang anak-anak, campak juga dapat menginfeksi orang dewasa.

Risiko Komplikasi Serius

Jika tidak ditangani dengan baik, campak dapat menimbulkan komplikasi. Mulai dari yang ringan seperti infeksi telinga dan diare, hingga yang berat seperti pneumonia dan ensefalitis.

“Pneumonia adalah komplikasi yang paling sering menyebabkan kematian pada kasus campak,” ungkap dr. Drey. Karena itu, orang tua diminta tidak menunda pemeriksaan jika kondisi anak memburuk.

Pentingnya Pencegahan & Imunisasi

Untuk mencegah penularan, masyarakat diimbau menghindari kerumunan, terutama jika tidak dalam kondisi mendesak. Penggunaan masker dan kebiasaan mencuci tangan juga menjadi langkah penting. Selain itu, orang tua disarankan untuk menjaga kebersihan setelah beraktivitas di luar rumah sebelum berinteraksi dengan anak.

Imunisasi campak diberikan dalam beberapa tahap, yaitu pada usia 9 bulan, 18 bulan, serta saat anak berusia 5 hingga 7 tahun. Bagi yang terlewat, imunisasi tetap dapat diberikan sebagai upaya kejar (catch-up).“Imunisasi tidak hanya melindungi individu, tapi juga membentuk kekebalan kelompok,” jelasnya.

Perawatan dan Kapan Harus ke Dokter

Campak umumnya dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, perawatan tetap diperlukan untuk mencegah komplikasi.

Anak disarankan untuk:

  • Istirahat cukup
  • Mengonsumsi cairan yang cukup
  • Mengonsumsi makanan bergizi
  • Mendapatkan vitamin A

Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan jika mengalami demam tinggi, kejang, sesak napas, tidak mau makan, atau tanda dehidrasi.

Di tengah meningkatnya kasus, kewaspadaan menjadi kunci. Orang tua diharapkan lebih peka terhadap gejala awal dan tidak menganggap campak sebagai penyakit biasa. “Kenali gejalanya, batasi penularan, dan pastikan imunisasi anak lengkap,” tutup dr. Drey.

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: