Film “Michael”: Pecahkan Rekor Dunia Namun Tuai Kritik Tajam
Radio Tangerang Heartline FM – Industri layar lebar global kembali diguncang oleh kehadiran film bioskop terbaru sang King of Pop, bertajuk Michael. Resmi mengudara di bioskop Indonesia sejak 22 April 2026, film karya sutradara Antoine Fuqua ini langsung tancap gas dengan meraup pendapatan fantastis sebesar US$39,5 juta hanya dalam tiga hari pertama. Angka ini secara resmi menempatkan Michael sebagai pemegang rekor pembukaan tertinggi untuk kategori biopik musisi sepanjang sejarah.
Namun, kesuksesan finansial ini diikuti dengan polarisasi tajam. Di satu sisi, penonton awam tampak sangat terkesima, sementara kritikus profesional justru memberikan catatan dingin terhadap eksekusi narasinya.
Totalitas Jaafar Jackson: Sang Reinkarnasi
Daya tarik utama film ini terletak pada pundak Jaafar Jackson. Keponakan kandung mendiang Michael Jackson ini banjir pujian berkat transformasinya yang dianggap “kembar” dengan sang paman. Melansir laporan Variety, Jaafar tidak hanya sukses secara visual, tetapi juga berhasil menangkap esensi vokal dan gestur khas Michael Jackson dengan presisi luar biasa.
Penonton dibuat terpukau oleh adegan rekonstruksi panggung era 1980-an, di mana teknik tari dan intonasi bicara Jaafar dinilai mampu menghidupkan kembali memori kolektif terhadap legenda pop tersebut.
Megahnya Visual dan Akting Pendukung
Sisi artistik film ini patut diacungi jempol. Dengan sinematografi kelas atas, Michael berhasil menyulap ruang bioskop menjadi arena konser megah, terutama saat mereka ulang momen ikonik era Thriller dan Beat It. Tak heran jika skor audiens di Rotten Tomatoes melonjak hingga 97%.
Selain aspek musikal, kekuatan akting Colman Domingo sebagai Joe Jackson turut memperkuat fondasi emosional film. Domingo dianggap berhasil mengeksplorasi sisi otoriter Joe Jackson dan dinamika kompleks hubungan ayah-anak yang membentuk karier Michael.
Celah di Mata Kritikus: Terlalu “Bermain Aman”?
Berbanding terbalik dengan antusiasme penggemar, para kritikus film hanya memberikan skor di kisaran 38%. Salah satu kritik pedas datang dari The Guardian, yang menyoroti naskah film karena dianggap terlalu menghindari kontroversi hukum dan sisi gelap sang bintang.
Beberapa poin utama kritik meliputi:
- Kurangnya Kedalaman: Narasi dianggap lebih seperti “surat cinta” untuk penggemar daripada biografi objektif.
- Penulisan Naskah: Film dinilai bermain aman dengan hanya menonjolkan momen-momen emas.
- Analisis Psikologis: Durasi 150 menit dianggap belum cukup untuk membedah kepribadian kompleks Michael di luar sorotan lampu panggung.
Meskipun menyisakan perdebatan panjang mengenai sudut pandang naratifnya, Michael membuktikan bahwa pesona sang legenda belum pudar. Tingginya angka penjualan tiket menjadi bukti sahih bahwa dunia masih sangat haus akan sosok Michael Jackson.
Ditulis ulang redaksi
Editor : MA
Foto : Degan di film biopik terbaru bertajuk Michael.(Dok. Universal Pictures)
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
