Ritual Nebukoq Diusulkan Masuk Kalender Tahunan, Jadi Penanda Berakhirnya Masa Panen
Radio Samarinda Heartline FM – Setiap tahun ditanggal 28 Mei, ritual adat Nebukoq yang menjadi penanda berakhirnya masa panen padi masyarakat Dayak digelar di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu).
Ritual Nebukoq dilaksanakan masyarakat Kampung Ujoh Bilang melalui prosesi adat dan pertunjukan simbolis tahapan ritual yang diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi adat tersebut merupakan bentuk ungkapan syukur masyarakat Dayak atas hasil berladang yang diperoleh selama satu musim tanam, sekaligus bagian dari warisan budaya leluhur yang masih terus dijaga hingga saat ini.
Seiring berjalannya waktu, ritual tersebut saat ini diusulkan masuk dalam kalender tahunan daerah. Kepala Adat Kampung Ujoh Bilang Amundus Lah mengatakan ritual Nebukoq merupakan bagian dari rangkaian adat masyarakat Dayak yang berkaitan erat dengan siklus bercocok tanam padi.
Sejak awal membuka ladang hingga masa panen, masyarakat Dayak memiliki berbagai pantangan dan aturan adat yang wajib dipatuhi agar hasil panen yang diperoleh melimpah.
“Jadi Nebukoq itu adalah ungkapan syukur masyarakat atas hasil yang diperoleh selama berladang dalam satu tahun,” kata Amundus kepada Korankaltim.com.
Sebelum prosesi Nebukoq dilakukan, warga tidak diperbolehkan membersihkan atau memotong jerami padi di ladang. Larangan tersebut juga berarti masyarakat belum dapat membuka lahan baru sebelum seluruh tahapan ritual selesai dilaksanakan.
Dalam tradisi Nebukoq, terdapat beberapa tahapan ritual utama yang memiliki makna tersendiri. Tahap pertama dikenal dengan istilah makan jemeq atau memberi makan jerami padi sebagai bentuk rasa terima kasih masyarakat Dayak kepada tanaman padi yang telah memberikan hasil panen.
Selain itu, masyarakat adat meyakini tanaman padi memiliki ruh jelmaan dewa yang memberikan kehidupan kepada manusia. “Kami yakin padi itu adalah jelmaan dewa, jadi kami memberi makan dia dulu,” kata Amundus.
Tahapan berikutnya disebut mekaq tik, yakni simbol dibukanya atau dilepaskannya seluruh pantangan dan larangan selama masa berladang.
Setelah ritual tersebut dilakukan, masyarakat baru diperbolehkan melanjutkan aktivitas membersihkan lahan dan membuka ladang baru.
Sementara tahap terakhir dikenal dengan istilah mitang jemeq atau memotong jerami padi sebagai tanda masyarakat telah diperbolehkan membersihkan seluruh sisa jerami, menebas rumput, memotong pohon, hingga membuka lahan pertanian baru.
Selain prosesi adat, masyarakat juga menampilkan berbagai makanan tradisional khas warisan leluhur dalam kegiatan syukuran Nebukoq.
Amundus mengatakan pihak adat berencana menetapkan 28 Mei sebagai Hari Nebukoq agar tradisi tersebut terus dilestarikan dan dilaksanakan secara rutin setiap tahun.
“Hari ini mungkin saya akan menetapkan 28 Mei sebagai Hari Nebukoq. Jadi setiap tahun akan dilaksanakan di tanggal yang sama,” ucapnya.
Dalam tradisi masyarakat Dayak, sebelum memasuki musim tanam padi, tanaman pertama yang ditanam di ladang baru biasanya adalah kacang hijau atau dalam bahasa Dayak disebut bertak ubit sebelum kemudian dilanjutkan dengan penanaman benih padi.
Dengarkan sekarang di Frekuensi 94.4 FM atau
🌐 Streaming langsung di website kami:
👉 [Klik di sini] https://heartline.co.id/radio-samarinda-heartline-fm/
📱 Ingin selalu terhubung?
Unduh aplikasi JALUR HATI di App Store dan Google Play.
Ikuti kami di media sosial:
📸 Instagram: @heartlinesamarinda
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
