Dari Luka Menjadi Sahabat: Mengenal Inner Child agar Relasi Lebih Sehat
Radio Tangerang Heartline FM – Luka masa kecil atau inner child sering kali memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan menjalin hubungan saat dewasa. Namun, luka tersebut bukan sesuatu yang harus ditakuti. Dengan mengenali dan mengelolanya, inner child justru dapat menjadi sahabat dalam perjalanan bertumbuh. Hal tersebut disampaikan oleh Wiwin Nur Hayati, M.Th., M.Pd., dalam program Sketsa Keluarga Indonesia yang disiarkan oleh Heartline FM.
Menurut Wiwin, inner child adalah bagian dari diri yang menyimpan pengalaman masa kecil beserta emosi dan kebutuhan yang saat itu belum terpenuhi.
“Sering kali bukan hanya trauma besar yang membentuk inner child, tetapi juga kebutuhan emosional sederhana yang tidak sempat dipenuhi, seperti kebutuhan akan rasa aman, diterima, atau didengarkan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa inner child tidak selalu identik dengan luka. Ada dua bentuk inner child, yaitu:
- Healthy inner child, yang ditandai dengan sikap ceria, kreatif, mudah memaafkan, optimis, dan mampu menikmati hidup.
- Wounded inner child, yang ditandai dengan emosi berlebihan, mudah tersinggung, rendah diri, sulit percaya kepada orang lain, hingga selalu merasa tidak aman.
Wiwin menjelaskan, luka masa kecil yang tidak disadari dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan saat dewasa, mulai dari hubungan dengan pasangan, anak, keluarga, hingga lingkungan kerja.
Ketika seseorang bereaksi secara berlebihan terhadap situasi tertentu, bisa jadi yang muncul bukan sekadar respons terhadap kejadian saat ini, melainkan luka lama yang belum selesai diproses.
“Kalau respons kita jauh lebih besar dibanding situasinya, itu bisa menjadi tanda ada kebutuhan emosional yang belum terpenuhi sejak masa kecil,” katanya.
Ia mencontohkan seseorang yang sangat marah ketika janji tidak ditepati. Setelah ditelusuri, ternyata kemarahan tersebut berakar dari pengalaman masa kecil ketika pernah merasa ditinggalkan atau tidak mendapatkan rasa aman.
Siapa yang bisa mengalaminya? (Who)
Menurut Wiwin, hampir setiap orang memiliki pengalaman inner child. Bedanya, tidak semua orang menyadari keberadaannya.
Tanda-tandanya antara lain:
- Mudah marah atau tersinggung secara berlebihan.
- Sangat sensitif terhadap kritik.
- Sulit mengendalikan emosi meski tahu seharusnya bersikap tenang.
- Mengulangi pola pengasuhan yang pernah diterima saat kecil.
“Sebagian besar orang justru tidak menyadari bahwa perilaku mereka hari ini dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu,” ujarnya.
Inner child perlu mulai dikenali ketika seseorang merasa memiliki pola emosi atau perilaku yang terus berulang dan mengganggu kehidupan sehari-hari.
Misalnya:
- Selalu merasa tidak dihargai.
- Mudah tersinggung terhadap hal-hal kecil.
- Sulit membangun hubungan yang sehat.
- Sering menyesali reaksi emosional setelah konflik selesai.
Menurut Wiwin, semakin cepat seseorang mengenali pola tersebut, semakin besar peluang untuk membangun relasi yang lebih sehat.
Di Mana Proses Penyembuhan Dimulai? (Where)
Wiwin menekankan bahwa proses mengenali inner child dimulai dari diri sendiri.
Ia menyarankan untuk menyediakan waktu di tempat yang tenang, kemudian menuliskan pengalaman masa kecil yang masih membekas atau melihat kembali foto masa kecil sebagai sarana refleksi.
Jika proses tersebut terasa berat, seseorang dapat mencari bantuan dari konselor, psikolog, mentor, atau orang yang dipercaya dan mampu memberikan rasa aman tanpa menghakimi.
Wiwin membagikan beberapa langkah sederhana untuk mulai bersahabat dengan inner child:
- Mengenali emosi yang muncul ketika merasa terpicu (triggered).
- Menamai emosi tersebut, misalnya marah, sedih, takut, atau kecewa.
- Menelusuri akar penyebabnya dengan bertanya “mengapa” hingga menemukan kebutuhan yang belum terpenuhi.
- Menerima pengalaman masa lalu tanpa menyalahkan diri sendiri maupun orang tua.
- Memenuhi kebutuhan tersebut dengan cara yang sehat melalui komunikasi yang asertif.
- Membangun pola relasi baru yang lebih sehat bersama pasangan, keluarga, atau lingkungan sekitar.
Ia juga mengingatkan bahwa proses penyembuhan bukan berarti menghapus luka sepenuhnya.
“Inner child” tidak selalu bisa hilang seperti hitungan matematika. Yang paling penting adalah belajar mengelolanya sehingga tidak lagi mengendalikan hidup kita,” ungkapnya.
Di akhir perbincangan, Wiwin menegaskan bahwa kesadaran merupakan langkah pertama menuju pemulihan.
Dengan mengenali luka masa kecil, seseorang tidak hanya memperbaiki hubungan dengan dirinya sendiri, tetapi juga mencegah pola luka yang sama diwariskan kepada pasangan maupun anak-anak di masa depan.
“Masa lalu memang tidak bisa diubah, tetapi cara kita meresponsnya hari ini bisa diubah. Ketika kita mau mengenali dan menerima inner child, kita sedang membangun masa depan yang lebih sehat bagi diri sendiri dan orang-orang yang kita cintai,” pungkasnya.
Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=X_SHOeit8Fs
Foto: SS Youtube Heartline Network
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
