Waspada Adiksi Pornografi, Psikiater: Bisa Berdampak pada Kesehatan Mental dan Perlu Penanganan Profesional
Radio Tangerang Heartline FM – Paparan pornografi yang semakin mudah diakses melalui perangkat digital menjadi tantangan serius, terutama bagi anak dan remaja. Psikiater RSUD Duren Sawit Jakarta, dr. Yenny Siti Yanti Sinambela, Sp.KJ(K) mengingatkan bahwa adiksi pornografi bukan sekadar kebiasaan, melainkan gangguan yang dapat memengaruhi kesehatan mental sehingga memerlukan penanganan secara profesional. Hal tersebut disampaikannya dalam talkshow di Heartline FM melalui Zoom.
Menurut dr. Yenny, pornografi memiliki cakupan yang luas sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan, tidak hanya berupa gambar atau video, tetapi juga ilustrasi, tulisan, suara, animasi, hingga bentuk lain yang mengandung eksploitasi seksual dan melanggar norma kesusilaan.
Ia menjelaskan, kemajuan teknologi membuat akses terhadap konten pornografi semakin mudah karena dapat diakses kapan saja, di mana saja, bahkan secara anonim. Kondisi tersebut meningkatkan risiko anak-anak terpapar sejak usia dini.
“Anak-anak dan remaja merupakan kelompok yang paling rentan karena perkembangan otaknya belum matang, terutama pada bagian yang mengatur pengambilan keputusan dan pengendalian emosi,” ujar dr. Yenny.
Ia menjelaskan, penggunaan pornografi tidak selalu berarti seseorang mengalami adiksi. Namun, kondisi tersebut patut diwaspadai ketika seseorang mulai kehilangan kendali, tetap mengakses pornografi meski menimbulkan konsekuensi negatif, mengabaikan aktivitas penting, hingga mengganggu hubungan sosial maupun keluarga.
Menurutnya, adiksi pornografi dapat memicu berbagai masalah kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan, gangguan konsentrasi, hingga menurunnya kualitas hubungan dengan pasangan. Pada kasus yang lebih berat, penderita membutuhkan terapi psikologis maupun penanganan psikiatrik.
Penanganan dilakukan melalui asesmen menyeluruh untuk mengetahui faktor biologis, psikologis, dan lingkungan yang memengaruhi perilaku adiktif. Terapi dapat berupa motivational interviewing, cognitive behavioral therapy (CBT), serta edukasi untuk mengenali pemicu agar dapat mencegah kekambuhan. Pada kondisi tertentu yang disertai depresi atau gangguan kecemasan, dokter juga dapat memberikan terapi obat sesuai indikasi medis.
“ Pemulihan sangat mungkin dilakukan apabila penderita bersedia mencari pertolongan profesional,”ungkapnya.
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=4MvDkUFv-2Y&list=PLq3TKKy-o2QEku5NG2lRTATS9XkA6zd8K
Foto : SS Youtube Heartline Network
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
