Ginjal Sehat Dimulai dari Pilihan Makan yang Tepat
Radio Tangerang Heartline FM – Penyakit ginjal kronis masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang terus meningkat di Indonesia. Ironisnya, banyak penderita baru mengetahui kondisi ginjalnya setelah fungsi organ tersebut mengalami penurunan yang cukup berat. Karena itu, edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan ginjal sejak dini menjadi sangat penting, terutama melalui penerapan pola makan sehat dan gaya hidup yang baik.
Hal tersebut disampaikan dalam program Sketsa Keluarga Indonesia yang menghadirkan dr. Dedyanto Henky S, M.Gizi, AIFO-K; Nutrition Consultant Kalbe dan Airin Levina, Brand Owner Nephrisol & Nephrisol D.
Menurut dr. dedy, masih banyak masyarakat yang menganggap fungsi ginjal hanya sebatas menghasilkan urine. Padahal, organ ini memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan tubuh.
“Ginjal tidak hanya memproduksi urine, tetapi juga membuang racun hasil metabolisme, mengatur keseimbangan cairan, memproduksi hormon eritropoietin untuk pembentukan sel darah merah, mengatur tekanan darah melalui hormon renin, serta mengaktifkan vitamin D,” jelas dr. Diranto.
Ia menambahkan bahwa kerusakan ginjal bersifat permanen. Berbeda dengan organ lain yang masih memiliki kemampuan regenerasi tertentu, fungsi ginjal yang telah rusak umumnya tidak dapat kembali seperti semula. Oleh sebab itu, upaya pencegahan jauh lebih penting dibandingkan pengobatan.
Gaya Hidup Menjadi Penyebab Utama
Banyak orang mengira penyakit ginjal lebih banyak disebabkan oleh faktor keturunan. Padahal, menurut dr. dedy, penyebab terbesar penyakit ginjal kronis justru berasal dari gaya hidup.
“Dua penyebab utama penyakit ginjal kronis adalah hipertensi yang tidak terkontrol dan diabetes melitus. Kedua penyakit ini jika dibiarkan dalam waktu lama akan merusak nefron, yaitu unit penyaring pada ginjal,” ujarnya.
Kerusakan jutaan nefron tersebut berlangsung perlahan selama bertahun-tahun tanpa menimbulkan gejala berarti. Karena itulah penyakit ginjal sering disebut sebagai silent disease.
Pentingnya Makanan Bergizi untuk Ginjal
Pola makan menjadi salah satu faktor paling menentukan dalam menjaga kesehatan ginjal. Konsumsi makanan tinggi gula, tinggi garam, serta rendah aktivitas fisik akan meningkatkan risiko diabetes, hipertensi, dan obesitas yang akhirnya berdampak pada fungsi ginjal.
“Pada akhirnya kita adalah apa yang kita makan. Apa yang kita konsumsi akan menentukan apakah tubuh tetap sehat atau justru mengalami berbagai penyakit,” kata dr. Diranto.
Ia mengimbau masyarakat untuk mulai membatasi konsumsi gula, garam, dan makanan olahan, memperbanyak konsumsi makanan alami, rutin berolahraga, serta memenuhi kebutuhan cairan sesuai kondisi tubuh.
Tanda-Tanda Awal Kerusakan Ginjal
Masyarakat perlu mengenali beberapa tanda yang dapat mengindikasikan gangguan ginjal, antara lain:
- urine berbusa,
- pembengkakan pada kaki atau wajah,
- mudah lelah akibat anemia,
- gatal berkepanjangan,
- mual dan muntah,
- sesak napas akibat penumpukan cairan.
Menurut dr. dedy, pemeriksaan laboratorium tetap menjadi cara terbaik untuk mengetahui fungsi ginjal, terutama melalui pemeriksaan ureum, kreatinin, laju filtrasi glomerulus (LFG), dan analisis urine.
Sementara itu, Airin Levina menjelaskan bahwa kebutuhan nutrisi pasien penyakit ginjal berbeda-beda sesuai stadium penyakitnya. Untuk orang sehat, kebutuhan protein berkisar sekitar 0,8–1 gram per kilogram berat badan per hari. Namun pada pasien penyakit ginjal kronis yang belum menjalani dialisis, asupan protein justru harus dibatasi agar tidak mempercepat penurunan fungsi ginjal.
“Sebaliknya, pasien yang sudah menjalani hemodialisis membutuhkan protein lebih tinggi karena sebagian protein ikut terbuang selama proses cuci darah,” jelas Airin.
Selain protein, pasien penyakit ginjal juga memerlukan pengaturan kalori, kalium, fosfor, natrium, vitamin, dan mineral sesuai rekomendasi dokter maupun ahli gizi.
Airin mengatakan bahwa Kalbe menjalankan edukasi kesehatan ginjal melalui pendekatan pencegahan primer, sekunder, dan tersier.
Pencegahan primer ditujukan kepada masyarakat sehat agar menjaga fungsi ginjal melalui pola hidup sehat. Pencegahan sekunder menyasar penderita hipertensi maupun diabetes agar penyakitnya tetap terkontrol sehingga tidak berkembang menjadi gagal ginjal. Sedangkan pencegahan tersier difokuskan pada pasien penyakit ginjal kronis agar kualitas hidup tetap terjaga dan komplikasi dapat diminimalkan.
“Kami percaya bahwa mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Karena itu edukasi menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan ginjal masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Minum Air Putih Tidak Selalu Harus Dua Liter
Salah satu anggapan yang banyak beredar adalah setiap orang wajib minum dua liter air putih setiap hari.
Menurut dr. Diranto, kebutuhan cairan sebenarnya bergantung pada berat badan dan tingkat aktivitas seseorang.
“Untuk orang sehat, kebutuhan cairan berkisar 30–40 ml per kilogram berat badan per hari. Namun bagi pasien penyakit ginjal, jumlah cairan harus disesuaikan dengan produksi urine dan kondisi klinis masing-masing,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan agar konsumsi air putih dilakukan secara bertahap sepanjang hari, bukan diminum sekaligus dalam jumlah besar.
Menjaga Ginjal adalah Investasi Masa Depan
Menutup diskusi, dr. dedy menyampaikan pesan yang mengingatkan pentingnya menjaga organ yang selama ini bekerja tanpa henti.
“Ginjal bekerja dalam diam menyaring ribuan liter darah setiap harinya tanpa kita minta. Sekarang giliran kita yang bekerja untuk mereka. Jadikan makanan Anda sebagai obat sebelum suatu saat nanti obat-obatan menjadi makanan harian Anda.”
Ia mengajak masyarakat untuk mulai menerapkan pola makan sehat, mencukupi kebutuhan cairan, mengontrol tekanan darah dan gula darah, serta menjalani gaya hidup aktif sebagai bentuk investasi kesehatan jangka panjang.
Dengan menjaga kesehatan ginjal sejak dini, masyarakat tidak hanya mencegah penyakit ginjal kronis, tetapi juga menjaga kualitas hidup agar tetap produktif di masa depan.
Foto : SS Youtube Heartline Network
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
