16 July 2026
Tangkapan layar program diskusi ilmiah mengenai tantangan filsafat dan pendidikan karakter anak di era digital

Pendidikan Karakter di Era Digital: Membangun Manusia, Bukan Sekadar Murid Pintar

Radio Tangerang Heartline FM – Perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Kemudahan mengakses informasi memang membuka peluang belajar yang semakin luas, tetapi di sisi lain menghadirkan tantangan baru dalam pembentukan karakter generasi muda. Di tengah derasnya arus informasi, pendidikan tidak lagi cukup hanya menghasilkan siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga pribadi yang memiliki integritas, disiplin, kepedulian, dan kemampuan mengendalikan diri.

Persoalan tersebut menjadi tema utama dalam program Philosophy Now, hasil kerja sama Heartline Radio dengan Ikatan Keluarga Alumni STF Driyarkara. Host Jose Marwoto menghadirkan Direktur Perkumpulan Strada, Romo Odemus Bay Witono SJ, yang juga tengah menempuh studi doktoral bidang filsafat pendidikan.

Menurut Romo Bay, tantangan terbesar pendidikan Indonesia saat ini bukan terletak pada kurangnya pengetahuan, melainkan bagaimana membangun karakter di tengah masyarakat yang semakin kompleks.

Pendidikan Karakter Semakin Mendesak

Indonesia memiliki kekayaan budaya, tradisi, dan nilai yang sangat beragam. Namun keberagaman tersebut juga menghadirkan tantangan tersendiri bagi sekolah dalam merumuskan nilai-nilai yang hendak ditanamkan kepada peserta didik.

“Karena Indonesia begitu kaya, banyak nilai yang saling bertemu bahkan berhadapan. Sekolah perlu memiliki rumusan yang jelas mengenai karakter seperti apa yang ingin dibangun,” ujar Romo Bay.

Ia menilai berbagai persoalan sosial yang muncul saat ini—mulai dari penyalahgunaan narkoba, kecanduan gawai, meningkatnya intoleransi, hingga tawuran pelajar dan polarisasi politik—menunjukkan bahwa pendidikan karakter menjadi kebutuhan yang sangat mendesak.

Menurutnya, masyarakat yang memiliki karakter matang akan lebih mampu mengelola perbedaan tanpa harus terjebak pada konflik dan kebencian.

Karakter Menjadi Fondasi Pengetahuan

Dalam perspektif filsafat pendidikan, karakter merupakan fondasi yang menentukan bagaimana seseorang menggunakan pengetahuan yang dimilikinya.

Romo Bay mengutip pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan John Dewey yang sama-sama menempatkan karakter sebagai inti pendidikan. Pengetahuan ibarat berbagai informasi yang masuk kepada seseorang. Karakter adalah filter yang menentukan apakah informasi itu akan digunakan untuk kebaikan atau justru sebaliknya.

Ketika karakter lemah, seseorang akan mudah menerima informasi tanpa proses berpikir kritis. Hoaks, ujaran kebencian, maupun berbagai pengaruh negatif di media sosial akan diterima begitu saja tanpa kemampuan menyaringnya.

Karena itu, guru bukan hanya bertugas mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi teladan. Prinsip Ki Hadjar Dewantara, Ing ngarso sung tulodo—di depan memberi teladan—dinilai tetap relevan hingga saat ini.

Lebih Penting Pintar atau Berkarakter?

Menjawab pertanyaan tersebut, Romo Bay menegaskan bahwa keberhasilan seseorang lebih banyak ditentukan oleh karakter dibandingkan kecerdasan semata.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa integritas, kejujuran, dan etos kerja menjadi faktor utama kesuksesan seseorang dalam kehidupan maupun dunia kerja.

Kepandaian dapat dilatih, tetapi karakter menjadi fondasi yang menentukan apakah kemampuan itu akan digunakan secara benar.Pandangan tersebut juga sejalan dengan pengalaman banyak perusahaan yang menerima karyawan karena kompetensinya, tetapi harus memberhentikannya karena persoalan karakter.

Tantangan Generasi Digital

Menurut Romo Bay, perubahan terbesar bukan terjadi pada karakter dasar manusia, melainkan pada lingkungan tempat anak-anak bertumbuh.

Generasi sebelumnya banyak menghabiskan waktu di lapangan, sawah, atau ruang bermain bersama teman-teman. Sebaliknya, generasi saat ini lebih banyak berinteraksi melalui layar gawai.

Akibatnya, kesempatan belajar menghadapi konflik, bekerja sama, bernegosiasi, maupun memahami ekspresi orang lain menjadi semakin berkurang.

Karena itu, sekolah perlu membuka sebanyak mungkin ruang interaksi nyata melalui berbagai aktivitas bersama.

“Anak-anak harus mengalami perjumpaan dengan teman-temannya. Mereka belajar bekerja sama, berbeda pendapat, bahkan mengalami konflik yang sehat.Program berbasis proyek, olahraga, seni, organisasi siswa, maupun kegiatan ekstrakurikuler menjadi sarana penting dalam membangun karakter,” jelas Romo.

Dunia Digital Tidak Bisa Menggantikan Perjumpaan

Meski teknologi mempermudah komunikasi, Romo Bay menilai interaksi digital tidak mampu sepenuhnya menggantikan relasi antarmanusia.

Di media sosial, seseorang dapat menyembunyikan identitas, menampilkan citra yang berbeda, bahkan melontarkan komentar yang tidak akan berani diucapkan ketika bertemu langsung.

“Karakter dibentuk melalui perjumpaan dengan manusia lain, bukan hanya melalui layar.Karena itu, sekolah perlu menjadi ruang sosial tempat anak belajar mengenal dirinya sekaligus memahami orang lain,” ujar Romo Bay.

Disiplin Bukan Hukuman

Salah satu isu yang banyak diperbincangkan saat ini adalah dilema guru ketika menegakkan disiplin.

Tidak sedikit guru yang akhirnya berhadapan dengan orang tua bahkan persoalan hukum ketika mencoba mendisiplinkan siswa.

Menurut Romo Bay, disiplin seharusnya tidak dipahami sebagai hukuman. Secara etimologis, kata discipline berasal dari kata disciple yang berarti murid. Dengan demikian, disiplin sesungguhnya adalah proses pembelajaran untuk mengendalikan diri.

Mengutip pemikiran Aristoteles, ia mengatakan bahwa musuh terbesar manusia adalah keinginannya sendiri. Karena itu, pendidikan harus membantu anak menaklukkan ego, belajar bertanggung jawab, serta mampu memilih tindakan yang baik meskipun tidak selalu menyenangkan.

“Kalau disiplin dihilangkan dari sekolah, anak kehilangan kesempatan belajar mengendalikan dirinya,” jelasnya. Namun, disiplin juga harus diterapkan secara proporsional sesuai usia dan tahap perkembangan peserta didik.

Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua

Keberhasilan pendidikan karakter tidak mungkin hanya dibebankan kepada sekolah. Romo Bay menekankan pentingnya kemitraan antara sekolah, orang tua, masyarakat, dan pemerintah.

Sekolah perlu rutin mengadakan kegiatan parenting, seminar, dialog, maupun pertemuan dengan orang tua agar memiliki visi yang sama dalam mendidik anak. Ia bahkan menilai momen pembagian rapor merupakan kesempatan penting yang tidak boleh diwakilkan kepada orang lain.

“Wali kelas perlu bertemu langsung dengan orang tua agar perkembangan anak benar-benar dipahami Bersama,” katanya.

Dengan komunikasi yang baik, sekolah dan keluarga dapat saling melengkapi dalam proses pembentukan karakter.

Lima Nilai Dasar Perkumpulan Strada

Sebagai Direktur Perkumpulan Strada yang mengelola 75 sekolah dengan lebih dari 24.000 siswa di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi, Romo Bay menjelaskan bahwa seluruh proses pendidikan dibangun di atas lima nilai utama.

Kelima nilai tersebut adalah:

  • Pelayanan, yaitu membentuk pribadi yang siap berkarya bagi masyarakat.
  • Kejujuran, sebagai fondasi integritas.
  • Kedisiplinan, untuk melatih pengendalian diri.
  • Kepedulian, agar siswa memiliki empati terhadap sesama.
  • Keunggulan, yaitu semangat memberikan yang terbaik dalam setiap bidang kehidupan.

Menurutnya, lima nilai tersebut menjadi DNA seluruh warga sekolah, baik siswa, guru, maupun tenaga kependidikan.

Guru Harus Terus Belajar

Romo Bay juga menegaskan bahwa kualitas pendidikan tidak mungkin melampaui kualitas gurunya.

Karena itu, Perkumpulan Strada menjalankan program peningkatan kompetensi guru secara berkelanjutan.

Dalam rencana strategis hingga tahun 2034, Strada menargetkan memiliki 400 guru bergelar magister dan terus mendorong semakin banyak guru menempuh pendidikan doktoral.

“Cita-cita kami, ketika Indonesia memasuki tahun 2045, seluruh guru Strada minimal memiliki pendidikan S2,”ungkapnya.

Menurutnya, guru yang terus belajar akan mampu menjadi inspirasi bagi murid sekaligus membangun budaya belajar sepanjang hayat.

Pendidikan Indonesia Masih Punya Harapan

Menutup perbincangan, Romo Bay mengakui bahwa kualitas pendidikan Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dibandingkan sejumlah negara maju.

Namun ia optimistis Indonesia memiliki modal besar berupa kekayaan budaya, nilai-nilai agama, dan kearifan lokal yang dapat menjadi fondasi pembentukan karakter.

“Tugas pendidikan bukan hanya mengejar kecanggihan teknologi, tetapi menjaga nilai-nilai yang membuat manusia tetap menjadi manusia.”

Di tengah era digital yang terus berubah, pendidikan karakter tetap menjadi investasi paling penting. Sebab pada akhirnya, sekolah tidak hanya bertugas mencetak lulusan yang cerdas, tetapi membentuk manusia yang mampu menggunakan pengetahuan, teknologi, dan kekuasaan secara bertanggung jawab demi kebaikan bersama.

Foto : SS Youtube Heartline Network

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=PzC2_PyIxzw&list=PLq3TKKy-o2QFXQR5j8-dUrVd83_7K5RvV&index=14

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: