Ketika Anak Remaja Tak Lagi Mau Bercerita, Orang Tua Tak Perlu Panik
Radio Tangerang Heartline FM – Banyak orang tua merasa khawatir ketika anak yang sebelumnya terbuka tiba-tiba menjadi pendiam dan enggan bercerita. Perubahan ini sering kali dianggap sebagai tanda adanya masalah serius. Padahal, menurut praktisi parenting dari Yayasan Busur Mas, Angelic Handoko kondisi tersebut bisa menjadi bagian normal dari proses perkembangan remaja.
Hal itu disampaikan Angelic dalam program Parenting with Heart yang disiarkan Radio Heartline. Ia menjelaskan bahwa memasuki usia remaja, anak memang sedang berada dalam fase pencarian jati diri sehingga membutuhkan ruang untuk belajar mandiri dan menjaga privasi.
“Ketika anak remaja tidak mau bercerita lagi, belum tentu itu pertanda ada masalah. Justru dalam banyak kasus, itu merupakan bagian normal dari tahap perkembangan mereka,” ujar Angelic.
Masa Remaja adalah Fase Mencari Identitas
Mengacu pada teori perkembangan psikososial Erik Erikson, Angelic menjelaskan bahwa remaja berusia sekitar 12 hingga 18 tahun berada pada fase pencarian identitas diri (identity versus role confusion). Pada tahap ini mereka mulai belajar mengambil keputusan sendiri, mencari pengakuan dari lingkungan sosial, serta membangun kemandirian.
Karena itu, kebutuhan untuk selalu bergantung kepada orang tua mulai berkurang. Sebaliknya, teman sebaya menjadi sosok yang semakin penting dalam kehidupan mereka.
“Kalau dulu semua cerita disampaikan kepada orang tua, saat remaja mereka mulai lebih nyaman berbagi dengan teman. Itu sesuatu yang wajar,” jelasnya.
Selain itu, perubahan hormon dan perkembangan emosional membuat remaja membutuhkan waktu untuk memproses berbagai perasaan yang mereka alami tanpa harus selalu melibatkan orang tua.
Orang Tua Perlu Membedakan Mana yang Normal dan Mana yang Perlu Diwaspadai
Meski perubahan perilaku merupakan bagian dari perkembangan, Angelic mengingatkan orang tua tetap harus melakukan pengamatan.
Menurutnya, kondisi mulai mengkhawatirkan apabila anak menunjukkan beberapa tanda berikut:
- Menarik diri dari semua orang, termasuk teman-temannya.
- Kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai.
- Mengalami perubahan emosi yang drastis, seperti sangat murung atau mudah marah.
- Gangguan tidur dan penurunan nafsu makan.
- Prestasi akademik menurun secara signifikan.
“Kalau fungsi kesehariannya mulai terganggu, itulah yang perlu mendapat perhatian lebih,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut dapat dipicu berbagai faktor, mulai dari perundungan (bullying), penolakan sosial, konflik pertemanan, hingga tekanan emosional lainnya.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang Tua
Menurut Angelic, kepanikan justru sering membuat orang tua mengambil langkah yang kurang tepat.
Beberapa kesalahan yang umum dilakukan antara lain:
- Menginterogasi anak secara terus-menerus.
- Memaksa anak segera bercerita.
- Langsung memberi nasihat tanpa mendengarkan.
- Menghakimi atau menyalahkan anak.
- Terlalu cepat mengambil tindakan tanpa memahami situasi.
“Reaksi orang tua yang didorong oleh kecemasan justru membuat anak semakin menutup diri,” ujarnya.
Saatnya Mengubah Cara Mendampingi Anak
Angelic mengatakan bahwa memasuki masa remaja, peran orang tua perlu mengalami perubahan. Jika saat anak masih kecil orang tua lebih banyak mengatur, maka ketika remaja fokus utama bergeser menjadi membangun hubungan yang sehat.
Ia mengibaratkan bahwa semakin bertambah usia anak, kontrol orang tua akan semakin berkurang. Sebaliknya, kualitas relasi harus semakin meningkat.
“Yang perlu dijaga bukan lagi seberapa besar kita mengontrol anak, tetapi seberapa baik hubungan kita dengan mereka,” katanya.
Perubahan pola pikir ini dinilai penting agar orang tua tidak melihat sikap anak sebagai bentuk penolakan, melainkan sebagai bagian dari proses bertumbuh.
Lebih Banyak Mendengar daripada Memberi Solusi
Salah satu tips utama yang disampaikan Angelic adalah memperbanyak mendengarkan.
Ia menyarankan agar ketika anak mulai bercerita, orang tua tidak terburu-buru memberikan solusi, membandingkan pengalaman pribadi, ataupun langsung menasihati.
“Tujuan kita mendengar bukan untuk segera menjawab, tetapi supaya memahami apa yang sedang mereka pikirkan, rasakan, dan butuhkan,” jelasnya.
Menurutnya, banyak remaja sebenarnya hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi.
Sampaikan Kekhawatiran dengan Cara yang Tepat
Jika orang tua mulai melihat perubahan perilaku anak, Angelic menyarankan menggunakan pendekatan yang lembut melalui I statement atau kalimat yang berangkat dari perasaan orang tua.
Sebagai contoh:
“Papa merasa akhir-akhir ini kamu terlihat lebih murung. Papa jadi khawatir. Kalau suatu saat kamu ingin cerita, Papa siap mendengarkan.”
Pendekatan seperti ini dinilai lebih efektif dibandingkan menyalahkan atau menuduh anak sedang bermasalah.
Menjadi Tempat yang Aman bagi Anak
Di akhir perbincangan, Angelic menegaskan bahwa tujuan utama orang tua bukan memaksa anak kembali terbuka, melainkan memastikan hubungan tetap hangat sehingga ketika anak siap bercerita, ia tahu ke mana harus kembali.
“Sebagian remaja memang perlu menjauh sebentar untuk menemukan dirinya. Tugas kita bukan menarik mereka kembali dengan paksa, tetapi memastikan ketika mereka siap kembali, pintu tetap terbuka dan kita menjadi tempat yang aman bagi mereka,” tutupnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kedekatan orang tua dan anak tidak selalu diukur dari banyaknya percakapan setiap hari, melainkan dari rasa aman dan kepercayaan yang tetap terpelihara sepanjang proses tumbuh kembang mereka.
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=4l2ffXPgeyI
Foto : SS Youtube Heartline Network
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
