12 August 2026
Rustiana Nur Hayati pemilik Kilas Craft dan Riani De Pratiwi owner Wincraft saat membagikan pengalaman di program UMKM Show Radio Heartline

Peluang dan Tantangan Bisnis Craft Indonesia: Dari Hobi Menjadi Ladang Usaha dan Lapangan Kerja

Radio Tangerang Heartline FM — Bisnis kerajinan atau craft tidak hanya menjadi wadah untuk menyalurkan kreativitas dan hobi, bisnis craft kini mampu berkembang menjadi sumber penghasilan, membuka lapangan pekerjaan, hingga menembus pasar yang lebih luas.

Hal tersebut terungkap dalam program UMKM Show yang membahas tema “Peluang dan Tantangan Bisnis Craft”. Dalam program tersebut, hadir dua pelaku usaha craft, yakni Rustiana Nur Hayati, pemilik Kilas Craft asal Tasikmalaya, dan Riani De Pratiwi, owner sekaligus CEO Wincraft. Keduanya membagikan pengalaman dalam membangun bisnis kerajinan dari awal hingga mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan.

Berawal dari Hobi dan Keinginan Menciptakan Peluang

Rustiana Nur Hayati mengungkapkan, ketertarikannya terhadap kerajinan sebenarnya sudah muncul sejak duduk di bangku SMA. Ia menyukai berbagai pernak-pernik dan hiasan yang kemudian berkembang menjadi sebuah ide bisnis.

Usaha Kilas Craft mulai dirintis sekitar 2018. Ide tersebut muncul ketika suaminya yang sebelumnya bekerja pada orang lain mulai merasa jenuh dengan pekerjaannya. Rustiana kemudian mendorong untuk membangun usaha yang tidak hanya menghasilkan pendapatan, tetapi juga dapat melibatkan masyarakat di sekitar.

Salah satu konsep yang dikembangkan adalah mengolah limbah kayu menjadi produk bernilai jual.

“Intinya bahan bakunya menggunakan limbah. Kita mengubah limbah menjadi berkah,” ujar Rustiana dalam program tersebut.

Limbah kayu, ranting, hingga potongan material yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomis diolah menjadi berbagai produk seperti vas bunga, cermin, tempat tisu, dan hiasan dinding.

Menariknya, Kilas Craft juga mengedepankan konsep ramah lingkungan. Selain menggunakan bahan limbah, proses finishing produk menggunakan bahan berbasis air sehingga lebih ramah lingkungan dibandingkan penggunaan bahan finishing berbasis minyak.

Wincraft Berawal dari Modal Rp500 Ribu

Cerita serupa datang dari Riani De Pratiwi. Ketertarikannya terhadap craft sudah tumbuh sejak kecil. Ketika masih menjadi mahasiswa pada 2017, ia memanfaatkan hobinya membuat kerajinan sebagai pekerjaan sampingan.

Melihat banyaknya mahasiswa yang membutuhkan buket bunga untuk acara wisuda, Riani melihat peluang untuk membuat buket yang tidak mudah layu dan dapat menjadi kenang-kenangan.

Bersama beberapa teman mahasiswa, ia kemudian mulai membuat buket bunga dari kertas. Dari situlah lahir Wincraft.

Menariknya, modal awal usaha tersebut sangat sederhana. Riani bersama rekan-rekannya mengumpulkan modal sekitar Rp500 ribu, atau sekitar Rp100 ribu per orang.

“Waktu itu modal sangat minim. HPP bahan-bahannya juga rendah. Yang mahal justru desain, kreativitas, dan keahlian dalam menyusunnya,” kata Riani.

Seiring perkembangan usaha, Wincraft tidak hanya memproduksi buket bunga. Produk kemudian berkembang menjadi craft and floral design, termasuk hampers, dekorasi, hiasan mahar, buket uang, hingga bunga berukuran besar untuk kebutuhan foto dan dekorasi.

Tantangan Bisnis Craft di Tengah Persaingan Produk Impor

Meskipun memiliki peluang besar, bisnis craft bukan tanpa tantangan.

Rustiana menyebut persaingan dengan produk impor menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi pelaku usaha. Produk dekorasi impor banyak menawarkan desain menarik dengan harga relatif murah.

Sementara itu, produk handmade membutuhkan waktu pengerjaan yang lebih panjang sehingga harga jualnya cenderung lebih tinggi.

Namun, kondisi tersebut tidak membuat Rustiana menyerah. Ia justru terus berusaha mengembangkan produk agar mampu bersaing di era digital.

Menurutnya, konsistensi dalam menghasilkan produk baru dan menjaga kualitas menjadi salah satu kunci untuk bertahan.

Sementara itu, bagi Riani, tantangan terbesar justru muncul dalam menentukan produk yang tepat untuk dikembangkan dan memastikan kualitas produksi tetap konsisten ketika pesanan mulai meningkat.

Ia harus mencari sumber daya manusia yang mampu menghasilkan produk sesuai standar detail dan kerapian yang telah ditentukan.

Proses pelatihan pun membutuhkan waktu. Namun, menurut Riani, seseorang yang memiliki kemauan belajar tinggi dapat menguasai keterampilan tersebut dalam waktu sekitar dua minggu jika dilakukan secara intensif.

Bukan Hanya Kreativitas, Bisnis Juga Membutuhkan Konsistensi

Menjalankan bisnis craft tidak cukup hanya dengan memiliki kemampuan membuat produk. Pelaku usaha juga perlu memahami bagaimana mengelola bisnis.

Riani mengakui bahwa perjalanan membangun Wincraft tidak selalu mudah. Bahkan, dirinya pernah mendapat saran dari orang lain untuk tidak memulai bisnis tersebut karena dianggap terlalu rumit.

Namun, mimpi dan peluang membuatnya tetap bertahan.

“Yang paling susah itu konsisten dan komitmen,” ungkap Riani.

Pengalaman melewati pandemi juga menjadi salah satu ujian terbesar. Ada masa ketika dirinya merasa ingin menyerah. Namun, dengan kembali mengingat mimpi dan melihat peluang yang masih tersedia, Wincraft akhirnya mampu bertahan hingga sekarang.

Modal Kecil, Nilai Kreativitas Besar

Salah satu hal menarik dari bisnis craft adalah kebutuhan modal awal yang relatif terjangkau.

Rustiana mengatakan bahwa ketika memulai Kilas Craft, modal awalnya hanya beberapa juta rupiah. Penggunaan bahan limbah membuat biaya bahan baku relatif rendah.

Namun, harga produk handmade tidak hanya ditentukan oleh bahan baku. Waktu pengerjaan, keterampilan, desain, kreativitas, dan ketelitian menjadi bagian penting dari nilai sebuah produk.

Hal yang sama dirasakan Riani. Dengan modal awal sekitar Rp500 ribu, Wincraft dapat berkembang karena nilai utama produknya terletak pada kreativitas dan keterampilan.

“Yang mahal itu mungkin ide dan SDM yang membuatnya,” jelas Riani.

Fokus pada Produk Unggulan

Dalam diskusi tersebut, Joko Kurniawan juga menyoroti pentingnya pelaku UMKM untuk tidak terjebak memiliki terlalu banyak produk.

Menurutnya, bisnis tidak harus memiliki ratusan varian untuk menjadi besar. Justru, pelaku usaha dapat menentukan beberapa produk unggulan yang paling banyak diminati konsumen.

Kilas Craft misalnya, memiliki cermin sebagai salah satu produk bestseller. Cermin berukuran besar untuk dekorasi ruang menjadi produk yang paling banyak diminati.

Salah satu produk cermin berukuran sekitar 80 x 50 sentimeter bahkan dipasarkan dengan harga sekitar Rp250 ribu. Sementara produk berukuran lebih kecil berada di kisaran Rp95 ribu.

Strategi fokus terhadap produk unggulan dinilai dapat membantu meningkatkan kecepatan produksi sekaligus mempermudah pengelolaan bisnis.

Risiko Pengiriman Menjadi Tantangan Besar

Berbeda dengan bisnis makanan yang memiliki risiko kedaluwarsa, produk craft umumnya lebih tahan lama. Namun, ada risiko lain yang harus diperhatikan, terutama dalam proses pengiriman.

Bagi Kilas Craft yang banyak melayani pelanggan luar Pulau Jawa, produk seperti cermin memiliki risiko pecah selama perjalanan.

Untuk mengatasinya, Rustiana kini menggunakan sistem pengemasan berlapis, mulai dari bubble wrap, kardus, hingga palet kayu. Pemilihan ekspedisi yang dinilai aman juga menjadi bagian dari strategi untuk mengurangi risiko kerusakan.

Wincraft juga menghadapi persoalan serupa. Karena produk seperti buket memiliki nilai emosional dan sering digunakan untuk momen tertentu, kerusakan dalam pengiriman dapat menjadi persoalan serius.

Karena itu, Wincraft sempat membatasi pengiriman dan fokus melayani wilayah Bandung untuk meminimalkan risiko. Setelah sistem dan kondisi usaha semakin membaik, pengiriman ke luar kota kembali dikembangkan.

Media Sosial Membuka Peluang Pasar

Perkembangan media sosial memberikan dampak besar terhadap bisnis craft. Platform digital memungkinkan pelaku usaha menampilkan portofolio produk sekaligus menjangkau calon pelanggan tanpa harus memiliki toko fisik besar.

Riani mengatakan, pelanggan Wincraft saat ini cukup beragam, dengan kelompok usia sekitar 20 hingga 35 tahun, termasuk mahasiswa, orang tua, hingga pasangan yang ingin memberikan hadiah.

Tren buket uang juga sempat menjadi salah satu produk yang banyak diminati.

Media sosial juga membuat persaingan semakin terbuka. Tutorial membuat berbagai jenis kerajinan kini mudah ditemukan sehingga semakin banyak orang dapat mempelajari teknik craft.

Namun, kondisi tersebut justru menjadi motivasi bagi pelaku usaha untuk menghadirkan produk dan pelayanan yang berbeda.

Pelayanan Menjadi Kunci Mempertahankan Pelanggan

Di tengah persaingan yang semakin ketat, kualitas pelayanan menjadi salah satu cara untuk mempertahankan pelanggan.

Rustiana menerapkan strategi sederhana dengan menghubungi kembali pelanggan setiap dua bulan. Ia menanyakan kabar sekaligus menawarkan katalog produk terbaru.

Strategi tersebut ternyata mampu mendorong pelanggan melakukan pembelian ulang.

Sementara itu, Wincraft memberikan berbagai bentuk apresiasi kepada pelanggan loyal, seperti bonus foto produk, potongan harga, hingga memastikan pesanan telah sesuai dengan keinginan pelanggan sebelum dikirim.

Menurut Riani, pelayanan yang baik dapat membuat pelanggan merasa nyaman dan akhirnya melakukan repeat order.

Kompetitor Bukan Ancaman, tetapi Pemacu

Hal menarik dari kedua pelaku usaha tersebut adalah cara mereka memandang kompetitor.

Bagi Riani, ketika orang yang pernah belajar dan bekerja bersamanya kemudian membangun bisnis sendiri, hal tersebut justru menjadi sesuatu yang membanggakan.

Ia berharap orang-orang yang pernah belajar di Wincraft dapat berkembang dan menjadi pengusaha baru.

Rustiana juga memiliki pandangan serupa. Jika orang yang pernah dibinanya kemudian memiliki usaha sendiri, ia menganggapnya sebagai keberhasilan dalam berbagi ilmu.

Persaingan, menurut keduanya, bukan sesuatu yang harus ditakuti. Justru kompetitor dapat menjadi pemacu untuk terus menciptakan inovasi.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=xSfKEZX25og

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: