Merdeka dalam Kristus: Membangun Jiwa, Bukan Sekadar Badan
Radio Tangerang Heartline FM — “Supaya kita sungguh-sungguh Merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.”
— Galatia 5:1
Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 menjadi momentum untuk kembali merenungkan makna kemerdekaan yang sesungguhnya. Kemerdekaan bukan hanya persoalan terbebas dari penjajahan secara fisik, tetapi juga menyangkut pembangunan jiwa, karakter, moral, dan kehidupan rohani manusia.
Dalam program Let Us Learn Together yang dipandu Timo, Pendeta Dr. Andi Hukom mengajak pendengar melihat kemerdekaan dari perspektif iman Kristen dengan berlandaskan Galatia 5:1-15. Menurutnya, pertanyaan penting yang perlu diajukan bukan hanya apakah bangsa Indonesia telah membangun tubuh dan infrastrukturnya, tetapi juga: apakah jiwa manusia telah dibangun dengan baik?
Kemerdekaan Tidak Berarti Bebas Tanpa Batas
Secara sederhana, merdeka berarti terbebas dari suatu kuasa yang membelenggu atau menjajah. Namun, kemerdekaan tidak berarti seseorang kemudian hidup tanpa aturan sama sekali.
Ketika seseorang terbebas dari suatu kekuasaan, ia tetap akan mengikatkan dirinya kepada aturan atau tatanan yang baru. Demikian pula dengan sebuah bangsa. Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, tetapi sebagai negara yang merdeka, Indonesia tetap memiliki konstitusi, hukum, dan dasar negara yang harus dihormati.
Hal yang sama berlaku dalam kehidupan manusia. Kebebasan selalu memiliki arah dan tanggung jawab. Karena itu, kemerdekaan yang sehat bukanlah kebebasan untuk melakukan apa saja yang diinginkan, melainkan kebebasan yang digunakan untuk melakukan apa yang benar.
Dalam konteks iman Kristen, prinsip tersebut semakin jelas. Rasul Paulus berkata bahwa orang percaya memang telah dipanggil untuk merdeka, tetapi kemerdekaan itu tidak boleh digunakan sebagai kesempatan untuk hidup dalam dosa.
“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk Merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.”
— Galatia 5:13
Dengan demikian, kemerdekaan Kristen bukanlah bebas dari segala sesuatu, melainkan dibebaskan dari perbudakan dosa untuk hidup dalam kasih dan kebenaran.
Merdeka dari Dosa Melalui Kristus
Persoalan jemaat di Galatia pada zaman Paulus berkaitan dengan munculnya pengajaran bahwa iman kepada Yesus Kristus harus ditambah dengan kewajiban menjalankan hukum Taurat sebagai syarat keselamatan.
Paulus dengan tegas menolak gagasan tersebut. Keselamatan tidak diperoleh melalui usaha manusia untuk memenuhi berbagai persyaratan ritual, tetapi melalui iman kepada Yesus Kristus.
Kemerdekaan yang diberikan Kristus adalah pembebasan dari hukuman dan perbudakan dosa. Karena itu, orang percaya dipanggil untuk berdiri teguh dan tidak kembali kepada kuk perhambaan.
Namun, kebebasan tersebut bukan alasan untuk kembali hidup sesuka hati. Justru orang yang telah dimerdekakan dipanggil untuk menjalani kehidupan yang semakin sesuai dengan kehendak Tuhan. Kemerdekaan sejati menghasilkan tanggung jawab.
“Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya”
Salah satu bagian penting dalam refleksi tersebut adalah ungkapan “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya.”
Pembangunan fisik memang penting. Gereja membutuhkan gedung, bangsa membutuhkan infrastruktur, dan manusia perlu menjaga kesehatan tubuhnya. Namun, pembangunan fisik tanpa pembangunan jiwa dapat menghasilkan kehidupan yang timpang.
Gedung dapat dibangun dengan megah, tetapi karakter manusia di dalamnya belum tentu ikut dibangun.
Kemajuan teknologi dan ilmu kedokteran juga dapat membantu manusia mengatasi berbagai persoalan fisik. Akan tetapi, persoalan moral, karakter, keserakahan, kebencian, ketidakjujuran, dan dosa tidak dapat diselesaikan hanya dengan kemajuan fisik.
Karena itu, pembangunan jiwa harus mendapatkan perhatian yang sama, bahkan menjadi fondasi bagi pembangunan lainnya.
Bagi gereja, hal ini menjadi tantangan besar. Gereja tidak boleh hanya sibuk membangun gedung dan berbagai fasilitas, tetapi juga harus serius membangun kehidupan rohani jemaat melalui pengajaran firman Tuhan, pemuridan, pembentukan karakter, dan kehidupan yang mencerminkan kasih Kristus.
Fondasi Kehidupan Haruslah Kristus
Pembangunan jiwa membutuhkan fondasi yang kokoh. Tanpa fondasi yang kuat, seseorang mudah berkompromi ketika menghadapi tekanan, perubahan zaman, maupun berbagai pengajaran yang menyimpang.
Dalam perspektif Kristen, fondasi tersebut adalah Yesus Kristus.
Kristuslah yang memberikan kemerdekaan sejati. Karena itu, orang percaya bukan hanya dipanggil untuk menerima kemerdekaan, tetapi juga menjaga dan menjalani kemerdekaan tersebut dengan bertanggung jawab.
Kemerdekaan di dalam Kristus seharusnya terlihat melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Orang yang merdeka dalam Kristus tidak menjadikan kebebasan sebagai alasan untuk menyakiti orang lain. Sebaliknya, ia menggunakan kebebasannya untuk melayani.
Paulus bahkan merangkum hukum Taurat dalam satu perintah:
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Dengan demikian, ukuran kemerdekaan Kristen bukanlah seberapa jauh seseorang dapat melakukan apa yang dia mau, tetapi seberapa jauh kebebasannya digunakan untuk mengasihi Tuhan dan sesama.
Perbedaan dalam Gereja Tidak Harus Menjadi Perpecahan
Kemerdekaan berpikir juga menjadi salah satu persoalan yang sering muncul dalam kehidupan gereja. Setiap orang memiliki pemikiran, pandangan, dan cara memahami sesuatu yang berbeda.
Perbedaan tersebut tidak selalu harus menghasilkan perpecahan.
Yang penting adalah membedakan antara hal yang prinsip dan hal yang tidak prinsip.
Dasar iman Kristen mengenai keselamatan harus tetap menjadi fondasi. Sementara itu, bentuk ibadah, tradisi, tata cara pelayanan, maupun berbagai ekspresi gerejawi dapat memiliki keragaman selama tidak mengubah inti iman.
Perbedaan seharusnya dibicarakan dalam semangat mencari kebenaran, bukan dalam semangat mencari-cari kesalahan orang lain.
Karena itu, gereja membutuhkan pembinaan dan pengajaran yang memadai. Pertumbuhan jumlah jemaat harus diimbangi dengan pertumbuhan kualitas kehidupan rohani. Tanpa pemuridan dan pendampingan yang baik, perbedaan pandangan dapat dengan mudah berkembang menjadi konflik.
Menjadi Warga Negara yang Bertanggung Jawab
Sebagai warga negara Indonesia, orang percaya juga memiliki tanggung jawab terhadap bangsa. Kritik terhadap pemerintah atau kebijakan publik bukan sesuatu yang otomatis bertentangan dengan iman. Kritik dapat menjadi bagian dari tanggung jawab warga negara ketika disampaikan dengan cara yang benar, etis, dan membangun.
Kebebasan menyampaikan pendapat tidak seharusnya berubah menjadi arogansi, penghinaan, kekerasan, atau tindakan anarkis. Orang Kristen dipanggil untuk tetap menjaga etika dan moral dalam menyampaikan kritik. Dengan demikian, kemerdekaan bukan hanya hak, tetapi juga tanggung jawab.
Sebagai orang percaya yang hidup di Indonesia, terdapat dimensi kewarganegaraan yang perlu diperhatikan. Di satu sisi, kita adalah warga negara Indonesia yang memiliki kewajiban terhadap negara. Di sisi lain, iman Kristen mengajarkan bahwa orang percaya juga memiliki kewarganegaraan surgawi. Keduanya tidak harus dipertentangkan.
Sebagai warga negara, orang Kristen dipanggil untuk menghormati hukum dan berkontribusi bagi bangsa. Sebagai warga Kerajaan Allah, orang Kristen dipanggil untuk menjaga kekudusan hidup, yaitu dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Kehidupan iman seharusnya tidak membuat seseorang menjauh dari tanggung jawab sosial. Sebaliknya, iman yang sehat seharusnya menghasilkan warga negara yang jujur, bertanggung jawab, mengasihi sesama, dan berani memperjuangkan kebenaran dengan cara yang benar.
Kemerdekaan yang Dibayar dengan Darah
Kemerdekaan Indonesia tidak diperoleh dengan mudah. Para pejuang mencurahkan darah, tenaga, dan pengorbanan untuk membebaskan bangsa dari penjajahan.
Namun, dalam iman Kristen terdapat makna kemerdekaan yang lebih dalam.
Kemerdekaan dari dosa diperoleh melalui pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib. Darah Kristus menjadi dasar pembebasan manusia dari perbudakan dosa.
Karena itu, kemerdekaan di dalam Kristus bukan sesuatu yang boleh dianggap remeh.
Jika kemerdekaan bangsa harus diisi dengan pembangunan dan tanggung jawab, demikian pula kemerdekaan rohani harus diisi dengan kehidupan yang berkenan kepada Tuhan.
Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu, jangan kembali kepada kuk perhambaan dosa.
Merdeka untuk Melayani
Peringatan kemerdekaan seharusnya menjadi kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri: Apakah kita benar-benar merdeka?
Bukan hanya merdeka secara politik, ekonomi, atau sosial, tetapi juga merdeka dalam hati. Apakah kita masih diperbudak oleh dosa? Oleh keserakahan? Oleh kebencian? Oleh ego? Oleh keinginan untuk berkuasa? Atau oleh berbagai hal yang membuat kita jauh dari kehendak Tuhan?
Kemerdekaan sejati bukanlah hidup tanpa batas. Kemerdekaan sejati adalah ketika seseorang tidak lagi diperbudak oleh dosa dan kemudian menggunakan kebebasannya untuk hidup dalam kasih.
Bangsa membutuhkan pembangunan fisik. Gereja membutuhkan pembangunan fisik. Manusia membutuhkan kesehatan jasmani. Tetapi semuanya harus berjalan bersama dengan pembangunan jiwa.
Sebab itu, pesan kemerdekaan yang perlu terus diingat adalah: Dan bagi orang percaya, pembangunan jiwa itu harus dimulai dari fondasi yang kokoh, yaitu Yesus Kristus, Sang Pemberi kemerdekaan sejati.
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
