24 August 2026
Krishervina Rani Lidiawati menjelaskan dampak AI chatbot terhadap interaksi anak dan peran orang tua

AI Chatbot dan Anak: Mengapa Kehadiran Orang Tua Tetap Tak Tergantikan?

Radio Tangerang Heartline FM — Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat anak dan remaja semakin mudah mendapatkan informasi. Berbagai pertanyaan yang dahulu membutuhkan waktu lama untuk dicari jawabannya kini dapat dijawab dalam hitungan detik melalui chatbot.

Namun, kemudahan tersebut menghadirkan tantangan baru bagi keluarga. Bukan hanya untuk membantu mengerjakan tugas, sejumlah anak dan remaja mulai menggunakan AI Companion sebagai teman berbicara, tempat bercerita, bahkan tempat mencurahkan masalah pribadi.

Krishervina Rani Lidiawati, M.Psi., Psikolog, seorang psikolog klinis mengatakan  perkembangan teknologi tidak perlu ditakuti, tetapi orang tua perlu memahami risiko dan tetap hadir dalam kehidupan anak.

Kris menjelaskan, saat ini terdapat berbagai aplikasi AI Companion yang memungkinkan pengguna membuat karakter teman virtual sesuai keinginan. Pengguna dapat menentukan karakter, suara, bahkan sosok seperti apa yang ingin dijadikan teman berbicara.

Bagi anak atau remaja yang merasa kesepian atau kesulitan berkomunikasi dengan orang tua, kehadiran teman virtual tersebut dapat terasa menyenangkan.

Chatbot selalu tersedia, tidak mudah marah, tidak menunjukkan rasa lelah, dan memberikan respons yang dianggap menyenangkan oleh penggunanya. Kondisi tersebut berpotensi membuat anak semakin nyaman berinteraksi dengan AI dibandingkan dengan manusia.

“Teknologi tidak bisa menggantikan kehadiran orang tua,” katanya.

Kehadiran AI sebagai teman virtual juga dapat berkembang menjadi ketergantungan emosional apabila pengguna mulai mengurangi interaksi dengan orang-orang di dunia nyata.

Ketika Anak Lebih Nyaman Bercerita kepada Mesin

Menurut Kris, salah satu alasan anak memilih berbicara dengan AI adalah karena mereka merasa didengar tanpa dihakimi.

Ketika bercerita kepada orang tua, anak terkadang khawatir dimarahi atau disalahkan. Sebaliknya, chatbot dirancang untuk memberikan respons yang membuat pengguna merasa diterima.

Masalahnya, respons tersebut bukan berasal dari empati manusia. AI bekerja berdasarkan sistem dan algoritma yang dirancang untuk merespons pengguna.

Karena itu, anak perlu memahami bahwa meskipun chatbot terlihat seolah-olah memahami perasaan mereka, AI bukan manusia dan tidak memiliki empati serta penilaian moral seperti manusia.

Risiko Ketergantungan Emosional

Penggunaan AI secara berlebihan dapat membuat anak semakin menjauh dari interaksi sosial di dunia nyata. Anak yang awalnya menggunakan AI untuk membantu tugas sekolah dapat beralih menggunakannya untuk berbicara dan mencurahkan perasaan secara intens.

Kris menyebut sejumlah tanda yang patut diperhatikan orang tua, antara lain anak menghabiskan waktu sangat lama bersama chatbot, lebih memilih berada di kamar dan berbicara dengan teman virtual, serta mulai mengurangi komunikasi dengan keluarga maupun teman di dunia nyata.

Orang tua juga perlu memperhatikan apabila berbagai pertanyaan atau persoalan yang sebelumnya disampaikan kepada keluarga kini lebih sering dibicarakan dengan AI.

Informasi dari AI Tidak Selalu Benar

Selain persoalan ketergantungan, penggunaan AI juga memiliki risiko lain, yakni informasi yang diberikan belum tentu benar.

Kris mengingatkan agar anak dibiasakan melakukan verifikasi terhadap informasi yang diperoleh dari chatbot. AI dapat memberikan jawaban yang terlihat meyakinkan, tetapi tetap memiliki kemungkinan keliru.

Karena itu, penggunaan AI sebaiknya membantu proses berpikir, bukan menggantikan proses berpikir anak.

“Bekerja sama dengan AI boleh untuk membantu kita lebih paham, tetapi bukan berarti menggantikan proses berpikir kita,”ujarnya.

Anak perlu didorong untuk tetap mencari sumber lain, membandingkan informasi, dan mempertanyakan kebenaran jawaban yang diberikan AI.

Jangan Sembarangan Membagikan Data Pribadi

Penggunaan chatbot juga berkaitan dengan persoalan privasi. Anak dan remaja perlu diberi pemahaman bahwa tidak semua informasi boleh dibagikan kepada AI.

Data seperti kata sandi, identitas pribadi, alamat lengkap, maupun informasi sensitif lainnya harus dijaga.

Literasi digital menjadi penting agar anak memahami bahwa menggunakan teknologi bukan berarti harus mempercayainya secara penuh.

Orang Tua Menjadi Faktor Pelindung

Di tengah perkembangan teknologi, Kris menekankan bahwa orang tua tetap menjadi faktor pelindung bagi anak.

Peran tersebut bukan berarti orang tua harus melarang seluruh penggunaan teknologi. Sebaliknya, orang tua perlu melakukan pendampingan secara aktif.

Orang tua dapat berdiskusi mengenai aplikasi yang digunakan anak, menanyakan apa yang biasanya dibicarakan, sekaligus membantu anak memahami mana penggunaan yang aman dan mana yang berisiko.

Pendampingan juga perlu dilakukan tanpa menghakimi. Dengan komunikasi yang terbuka, anak akan lebih nyaman menceritakan pengalaman digitalnya kepada orang tua.

Kehadiran Tidak Sekadar Secara Fisik

Kehadiran orang tua tidak hanya berarti berada di rumah bersama anak. Kehadiran juga berarti mau mendengarkan, membangun komunikasi, memberikan validasi, dan menyediakan waktu berkualitas.

Menurut Kris, komunikasi tidak harus berlangsung berjam-jam. Waktu lima hingga 15 menit setiap hari dapat menjadi kesempatan bagi orang tua untuk mengetahui kondisi anak.

Obrolan sederhana sebelum tidur, saat pagi hari, atau di tengah kesibukan dapat membantu membangun relasi antara orang tua dan anak.

Yang terpenting, anak merasa bahwa orang tuanya tersedia ketika mereka membutuhkan tempat untuk bercerita.

Bangun Aturan Digital Bersama

Orang tua juga disarankan membuat kesepakatan mengenai penggunaan teknologi bersama anak.

Kesepakatan dapat mencakup durasi penggunaan, jenis aplikasi yang digunakan, serta topik atau informasi yang boleh dibagikan kepada AI.

Menurut Kris, aturan tersebut sebaiknya tidak dibuat secara sepihak. Anak perlu diajak berdiskusi sehingga memahami alasan di balik batasan yang diberikan.

Orang tua juga perlu terus mengingatkan bahwa AI adalah mesin, bukan manusia.

AI Boleh Digunakan, tetapi Jangan Menggantikan Manusia

Kris menegaskan bahwa tujuan pembahasan mengenai AI bukan untuk membuat orang tua dan anak takut terhadap teknologi.

AI memiliki manfaat, terutama untuk membantu proses belajar, mengembangkan ide, mencari informasi, dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan.

Namun, teknologi tetap harus digunakan secara bijak dan sesuai usia.

Anak perlu dibantu agar mampu menggunakan AI tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis, nilai-nilai, tanggung jawab, serta kemampuan membangun hubungan dengan manusia lain.

“Keluarga tetap perlu menjadi tempat anak belajar berpikir, bertanya, mempertimbangkan, dan menjadi manusia,” kata Kris.

Pada akhirnya, secanggih apa pun teknologi berkembang, AI tidak dapat menggantikan sentuhan, tatapan, percakapan langsung, maupun pelukan orang tua.

Karena itu, di tengah era kecerdasan buatan, tantangan terbesar keluarga bukan sekadar bagaimana mengajarkan anak menggunakan teknologi, tetapi bagaimana memastikan anak tetap memiliki hubungan yang kuat dengan manusia di dunia nyata—terutama dengan orang tuanya.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=_fPejQ7HiS0

Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang: