Dimerdekakan dari Dosa, Namun Diperbudak dalam Kebenaran
Radio Tangerang Heartline FM — Kemerdekaan tidak selalu berarti kebebasan untuk melakukan segala sesuatu tanpa batas. Dalam perspektif iman Kristen, kemerdekaan justru memiliki makna yang lebih dalam, yakni kebebasan dari kuasa dosa dan maut untuk kemudian hidup dalam kebenaran dan ketaatan kepada Allah.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program Let Us Reason Together yang diselenggarakan Yayasan Pengembangan Apologetika Indonesia (YPAI) di Radio Heartline. Dalam program yang mengangkat tema “Dimerdekakan Namun untuk Diperbudak”, Pdt. Tommy Lengkong, M.Th menjelaskan makna kemerdekaan berdasarkan Roma 6:17-23.
Menurut Tommy, tema tersebut memang terdengar kontradiktif. Sebab, secara umum kemerdekaan dipahami sebagai keadaan terbebas dari perbudakan. Namun, Alkitab justru menyebut orang yang telah dimerdekakan dari dosa sebagai “hamba kebenaran”.
“Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran,” ujarnya.
Manusia Tanpa Kristus Berada dalam Tawanan Dosa dan Maut
Tommy menjelaskan, untuk memahami arti kemerdekaan dalam Kristus, manusia terlebih dahulu perlu menyadari kondisi dirinya sebelum mengalami penebusan.
Menurutnya, Alkitab menggambarkan manusia tanpa Kristus berada dalam dua kondisi, yakni sebagai tawanan dosa dan tawanan maut. Dosa membawa manusia berada dalam kuasa yang sulit dilepaskan dengan kekuatan sendiri. Namun, melalui iman kepada Yesus Kristus, manusia memperoleh kemerdekaan dari dosa dan maut.
Tommy menegaskan, kemerdekaan tersebut bukan sekadar perubahan status, tetapi membawa manusia kepada kehidupan yang baru. Orang percaya tidak lagi hidup di bawah kuasa dosa, melainkan diarahkan untuk hidup dalam kebenaran.
Kemerdekaan Bukan Berarti Bebas Sebebas-bebasnya
Tommy juga mengingatkan bahwa kemerdekaan tidak dapat dimaknai sebagai kebebasan tanpa batas.
Ia memberikan ilustrasi sederhana bahwa seseorang memang memiliki kebebasan, tetapi kebebasan tersebut tetap berjalan bersama norma dan tanggung jawab. Karena itu, kemerdekaan bukan berarti seseorang dapat melakukan apa saja yang diinginkannya.
Dalam konteks iman Kristen, Yesus memerdekakan manusia bukan agar manusia kembali hidup sesuka hati, melainkan supaya hidupnya diarahkan kepada kebenaran.
“Kalau saya sudah dimerdekakan dosa, maka saya akan menjadi hamba dari kebenaran,” jelas Tommy dalam pemaparannya.
Menjadi “Hamba Kebenaran”
Istilah “diperbudak” dalam tema tersebut menjadi bagian penting dari penjelasan Tommy. Ia menerangkan bahwa dalam Roma 6:18, istilah yang diterjemahkan sebagai “hamba” berkaitan dengan kata Yunani doulō, yang dipahaminya sebagai tindakan menjadikan seseorang sebagai hamba.
Karena itu, setelah seseorang dimerdekakan dari dosa, hidupnya bukan berhenti pada kondisi bebas, melainkan diarahkan untuk menyerahkan dirinya kepada kebenaran.
Dengan demikian, “diperbudak” dalam konteks tersebut bukan berarti berada dalam penindasan, melainkan memberikan diri untuk hidup di bawah kebenaran Allah.
Tommy menekankan, kemerdekaan dalam Kristus seharusnya menghasilkan kehidupan yang taat kepada Allah, selaras dengan firman Tuhan dan hidup dalam kesucian.
Kebangkitan Kristus Menjadi Dasar Kemerdekaan
Lebih lanjut, Tommy menjelaskan bahwa dasar kemerdekaan manusia dari dosa dan maut adalah kebangkitan Kristus.
Ia mengacu pada 1 Korintus 15 yang menjelaskan bahwa apabila Kristus tidak dibangkitkan, maka iman orang percaya menjadi sia-sia dan manusia masih berada dalam dosa. Namun karena Kristus telah bangkit, orang percaya memperoleh dasar pengharapan akan kehidupan yang tidak binasa.
Kebangkitan Kristus juga dipandang sebagai dasar pembenaran bagi orang percaya. Melalui pembenaran tersebut, manusia menerima pengampunan dan tidak lagi berada dalam status sebagai orang yang terhukum karena dosa.
Dalam pemaparannya, Tommy juga mengaitkan pembenaran dengan berkat dan janji Allah, termasuk jaminan Roh Kudus bagi orang percaya.
Kemerdekaan yang Harus Dihidupi Setiap Hari
Kemerdekaan dari dosa, menurut Tommy, bukan alasan bagi orang percaya untuk bersikap pasif. Justru, kemerdekaan tersebut harus diwujudkan melalui kehidupan sehari-hari.
Ia mengingatkan orang percaya untuk menyerahkan anggota tubuhnya kepada Allah dan tidak membiarkan dosa kembali berkuasa. Tubuh dan kehidupan manusia harus digunakan sebagai sarana untuk melakukan kebenaran.
Selain itu, kehidupan dalam kemerdekaan juga ditandai dengan kesediaan untuk terus hidup dalam pengampunan.
Tommy menjelaskan bahwa orang percaya masih dapat jatuh dalam dosa karena masih hidup dalam kondisi manusiawi. Namun, perbedaannya adalah adanya kesadaran untuk mengakui dosa, memohon pengampunan dan kembali hidup dalam kebenaran.
Merdeka untuk Datang kepada Allah
Kemerdekaan dalam Kristus juga memberikan kesempatan kepada orang percaya untuk memiliki hubungan yang dekat dengan Allah.
Tommy menjelaskan bahwa orang percaya tidak lagi datang kepada Allah sebagai tawanan dosa, tetapi sebagai anak-anak Allah. Status tersebut memberikan kebebasan untuk menghampiri Allah melalui Yesus Kristus.
“Jadi, kita anak Allah yang mempunyai kebebasan, kemerdekaan untuk datang kepada Allah melalui Tuhan Yesus Kristus,” ujarnya.
Karena itu, tema “dimerdekakan namun untuk diperbudak” pada akhirnya bukan berbicara tentang kehilangan kebebasan, melainkan tentang perubahan arah kehidupan.
Manusia yang dahulu diperbudak dosa dibebaskan melalui Kristus untuk kemudian menyerahkan hidupnya kepada kebenaran. Kemerdekaan tersebut tidak berujung pada kebebasan tanpa arah, tetapi pada kehidupan yang semakin dekat dengan Allah, hidup dalam ketaatan, pengampunan dan kekudusan.
Dengan demikian, kemerdekaan sejati dalam perspektif iman Kristen bukan sekadar terbebas dari sesuatu, tetapi merdeka untuk hidup dalam kebenaran dan mengabdikan kehidupan kepada Allah.
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
