Tuhan Pasti Turun Tangan, Iman Menguat di Tengah Pergumulan
Radio Tangerang Heartline FM — Setiap orang tentu pernah menghadapi pergumulan, mulai dari persoalan ekonomi, pekerjaan, keluarga, kesehatan, hingga masa depan. Dalam kondisi tersebut, manusia kerap berharap agar Tuhan segera menghilangkan masalah yang sedang dihadapi.
Namun, menurut Pastor Jonathan Prawira, kehadiran Tuhan dalam kehidupan tidak selalu berarti masalah langsung menghilang. Justru, Tuhan dapat bekerja di tengah persoalan untuk membentuk iman, memberikan kekuatan, serta membawa seseorang kepada kemenangan.
Hal itu disampaikan Pastor Jonathan Prawira dalam program “Firman dalam Pujian” di Radio 100,6 Heartline FM. Dalam perbincangan tersebut, ia mengupas makna lagu “Tuhan Pasti Turun Tangan”, yang menurutnya lahir dari perenungan terhadap firman Tuhan.
Bukan Meminta Masalah Hilang
Jonathan menjelaskan, manusia sering kali berdoa agar Tuhan segera mengeluarkan mereka dari persoalan. Padahal, ada cara pandang lain yang perlu dibangun, yakni mengundang Tuhan untuk hadir dan bekerja di tengah masalah.
“Bandingannya adalah kalau kita tidak mengundang Tuhan masuk, kita selalu bicara minta Tuhan mengeluarkan. Nah, itu masalahnya,” ujar Jonathan.
Menurutnya, berbagai kisah dalam Alkitab menunjukkan bagaimana seseorang tetap mengundang Tuhan hadir di tengah pergumulan. Dengan demikian, persoalan tidak selalu langsung lenyap, tetapi Tuhan memberikan hikmat, kekuatan, dan pertumbuhan iman untuk menghadapinya.
Jonathan menekankan, doa juga bukan sekadar mengulang permintaan yang sama karena merasa Tuhan belum menjawab. Doa dapat menjadi bentuk pernyataan iman bahwa Tuhan tetap bekerja meskipun jawaban belum terlihat.
Iman Perlu Terus Diperkuat
Dalam kehidupan sehari-hari, iman seseorang juga dapat mengalami naik turun. Karena itu, Jonathan mengibaratkan iman seperti sesuatu yang perlu terus diisi dan diperkuat melalui firman Tuhan.
Ia mengingatkan bahwa seseorang dapat tetap percaya kepada Tuhan meskipun kondisi yang dihadapi belum berubah.
“Yang Tuhan cari itu iman, bukan ratapan kita. Jadi kita bicara, ‘Tuhan, aku percaya. Aku bisa sampai hari ini karena Tuhan pelihara. Berarti besok Tuhan akan pelihara lagi,’” katanya.
Menurut Jonathan, keyakinan tersebut bukan berarti seseorang tidak boleh merasa lelah, takut, atau sedih. Perasaan merupakan bagian dari manusia. Namun, perasaan tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan.
Tuhan sebagai “Arranger” Kehidupan
Salah satu gambaran menarik yang disampaikan Jonathan adalah tentang Tuhan sebagai “arranger” atau pengaransemen kehidupan. Ia mengibaratkan kehidupan seperti sebuah lagu. Sebuah lagu yang sudah baik dapat dibuat semakin indah melalui proses aransemen. Demikian pula kehidupan manusia yang berada dalam proses Tuhan.
“Tuhan kita bukan cuma kreator, tetapi juga arranger. Tuhan sedang mengatur, memperindah, dan menyusun hidup kita,” jelasnya.
Ia mengaitkan pemahaman tersebut dengan Amsal 16:9 yang mengingatkan bahwa manusia dapat merencanakan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya. Karena itu, seseorang tidak perlu terburu-buru menyimpulkan bahwa kehidupannya sedang gagal hanya karena menghadapi masalah. Bisa jadi, persoalan yang sedang terjadi merupakan bagian dari proses Tuhan dalam membentuk kehidupan.
Jangan Hanya Mengikuti Perasaan
Jonathan juga mengingatkan pentingnya membedakan antara iman, perasaan, dan fakta. Menurutnya, seseorang dapat memiliki keyakinan yang kuat terhadap sesuatu, tetapi belum tentu keyakinan tersebut benar.
“Percaya pun hati-hati. Iman pun bisa salah mengimani. Tetapi kalau kita percaya kepada Tuhan, tidak pernah salah,” katanya. Karena itu, ia mendorong umat untuk menguji segala sesuatu dan tidak sekadar menerima perkataan orang lain sebagai kebenaran.
Menurutnya, hubungan pribadi dengan Tuhan menjadi penting agar seseorang mampu mengenali kehendak-Nya. Firman Tuhan menjadi dasar utama sebelum seseorang mengambil langkah berdasarkan keyakinan atau dorongan tertentu.
Menyaring “Suara” di Tengah Pergumulan
Dalam menghadapi masalah, seseorang sering kali mendengar banyak suara dalam pikirannya. Ada suara kegagalan, ketakutan, intimidasi, kekecewaan, kemarahan, hingga perkataan orang lain.
Jonathan menyarankan agar berbagai “suara” tersebut disaring terlebih dahulu. Ia menggunakan analogi sederhana seperti memilih foto terbaik dari sekumpulan foto. Foto yang jelas tidak bagus disingkirkan terlebih dahulu hingga akhirnya tersisa pilihan yang paling baik.
“Setelah kita menyingkirkan suara-suara yang bukan, suara dendam, suara kepahitan, suara kecewa, suara sinis, suara mengeluh, akhirnya akan timbul suara yang damai, suara yang membuat kuat,” tuturnya.
Menurutnya, firman Tuhan menjadi dasar untuk membedakan suara yang membawa seseorang kepada kebenaran dan suara yang justru memperbesar ketakutan.
Masalah Tidak Selalu Berarti Tuhan Diam
Jonathan juga menyinggung kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego sebagai gambaran bahwa Tuhan tidak selalu menghindarkan seseorang dari persoalan. Mereka tetap masuk ke dalam dapur api. Namun, justru melalui situasi tersebut kuasa Tuhan dinyatakan.
Hal serupa, menurut Jonathan, dapat terjadi dalam kehidupan manusia. Persoalan yang semakin besar bukan selalu tanda bahwa Tuhan meninggalkan seseorang.
“Bukan Tuhan enggak turun tangan, tetapi justru Tuhan lagi mengaransemen. Makin masalahmu besar, kamu akan melihat kemenangan yang lebih besar,” ujarnya.
Ia juga mengibaratkan kisah kehidupan manusia seperti lagu yang terus berganti. Setelah melewati satu persoalan, dapat muncul persoalan baru yang kembali menjadi proses pembelajaran dan pengalaman bersama Tuhan.
Mukjizat Memiliki Tujuan
Dalam perbincangan tersebut, Jonathan juga menekankan bahwa seseorang tidak seharusnya hanya berfokus pada mukjizat, tetapi juga melihat tujuan di balik mukjizat tersebut.
Ia menceritakan kesaksian seseorang yang pernah berada dalam kondisi kritis hingga akhirnya sadar kembali. Bagi orang lain, kesembuhan tersebut mungkin menjadi pusat perhatian. Namun, bagi orang tersebut, ada makna yang lebih dalam karena peristiwa itu memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama tidak berkomunikasi.
Menurut Jonathan, di situlah seseorang dapat melihat bahwa Tuhan bekerja bukan sekadar untuk menunjukkan keajaiban, tetapi juga membawa perubahan dalam kehidupan.
“Perhatikan tujuannya, jangan mukjizatnya,” tegasnya.
Tuhan Turun Tangan di Tengah Kelelahan
Jonathan juga mengutip Yesaya 40:29 tentang Tuhan yang memberikan kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tidak berdaya.
Ia menjelaskan bahwa Tuhan turun tangan bukan berarti manusia tidak akan pernah mengalami kelelahan. Sebaliknya, seseorang dapat tetap merasakan lelah tetapi memperoleh kekuatan untuk terus berjalan.
“Kita memang capek, tetapi mengalami ada kekuatan. Bukannya kita tidak lelah, tetapi waktu kita lelah, saudara tetap kuat,” katanya.
Menurutnya, kemampuan seseorang untuk tetap bertahan, kembali tersenyum, menguatkan orang lain, dan terus melangkah dapat menjadi salah satu bentuk nyata pertolongan Tuhan.
Kenali Tuhan, Bukan Sekadar Tahu tentang Tuhan
Pada akhirnya, Jonathan mengajak pendengar untuk tidak berhenti pada keinginan mengetahui tentang Tuhan, tetapi membangun hubungan dan pengenalan yang lebih dalam kepada-Nya.
Ia menilai, semakin seseorang mengenal Tuhan melalui firman-Nya, semakin kuat pula dasar imannya ketika menghadapi pergumulan. “Baca firman, temukan, kenali Tuhan. Pasti kuat, pasti bertindak, pasti gagah perkasa,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa tujuan hidup orang percaya bukanlah hidup tanpa masalah, melainkan tetap mampu memuliakan Tuhan dalam setiap keadaan dan mengalami bagaimana Tuhan bekerja dalam setiap proses kehidupan.
“Tuhan Pasti Turun Tangan”
Menutup perbincangan, Jonathan menyampaikan pesan penguatan kepada pendengar yang sedang menghadapi situasi sulit.
Menurutnya, kondisi buruk yang sedang terjadi bukanlah akhir dari kehidupan. Ada proses yang sedang berlangsung dan ada pertolongan Tuhan yang mungkin belum terlihat.
“Takdir kita bukan kehancuran, bukan masa depan yang jelek, bukan ketidakbahagiaan. Takdir kita adalah kemenangan di bumi seperti di surga,” katanya.
Karena itu, ia mengajak setiap orang untuk terus memuliakan Tuhan, melakukan firman, dan memperkatakan iman dalam kehidupan sehari-hari.
“Semakin kenal Tuhan dan semakin berkemenangan, akhirnya ada kesaksian yang luar biasa,” pungkas Jonathan.
Pesan utama dari “Tuhan Pasti Turun Tangan” bukan sekadar ajakan untuk menunggu mukjizat. Lebih dari itu, lagu dan pembahasan tersebut menjadi pengingat bahwa dalam situasi apa pun, seseorang dapat memilih untuk tetap percaya, mengundang Tuhan hadir dalam pergumulan, serta melihat setiap proses sebagai bagian dari karya Tuhan dalam hidupnya.
Ikuti media sosial Radio Heartline FM Tangerang:
